Slamet Rahardjo: Film Senjata Mutahir untuk Menyampaikan Informasi

_

Pemutaran film Indonesia di luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Indonesia untuk Kroasia, merupakan langkah yang patut didukung semua pihak. Memutar film Indonesia merupakan salah satu langkah strategis untuk memberikan informasi tentang Indonesia kepada dunia luar.

Aktor dan sutradara film kawakan Slamet Rahardjo mengatakan hal itu ketika dimintai pendapatnya tentang penyelenggaraan Indonesian Movie Week di Zagreb, Kroasia, yang berlangsung tanggal 2 – 7 Juni 2017, menjelang keberangkatan ke Kroasia, saat transit di Bandara Istanbul, Turki, Kamis (1/6/2017).

Indonesia Movie Week yang diadakan pertama kali ini akan mengadakan pemutaran film dan diskusi. Acara diadakan di kota-kota Zagreb  dan Split Kroasia. Film-film yang akan diputar adalah Gending Sriwijaya, Labuhan Hati, Sunya dan Kisah Tiga Titik.

Selain Slamapet Rahardjo, ikut berangkat dari Jakarta sutradara film Sunya, Harry Dagoe Suharyadi, sutradara film Labuhan Hati, pemain film Gending Sriwijaya Tia Yufada, produser Doni Ramadhan dan empat wartawan dari Jakarta, termasuk wartawan balaikita.

“Sebenarnya ini kesadaran yg terlambat. Di negara manapun sekarang film itu meupakan senjata mutakhir untuk informasi. Dengan menonton film Indonesia, orang tahu kondisi Indonesia. Kondisi sosiologis, ekonomis, politis dan segala macam. Andaikata Indonesia ingin dikenal, sering-seringlah memutar film Indonesia di luar negeri,” papar Slamet.

Langkah diplomasi, langkah budaya, menurut Slamet, tidak  harus ngomomg, karena senuman  tidak berwacana. Tugas seniman adalah berkarya, bukan berwacana. Kalau berwacana tugasnya di Senayan.

Jadi, andaikata ingin Indonesia terkenal berbuatlah seperti Thailand negara yang tidak melawan Amerika tetapi bisa mengatur Amerika, karena Thailand punya post production sehingga semua film Amerika datang ke Thailand. Kapan Amerika filmnya bisa selesai kan, tergantung Thailand yang mengatur jadwalnya. Jadi tak perlu melawan, tapi bisa mengatur.

“Kalau ada KBRI begini, harus disupport. Susah lho menerangkan Indonesia. Bayangkan negara yang budaya bacanya paling rendah, hanya satu tingkat di atas Zimbabwe, tapi WA paling banyak di dunia. Tiba-tiba orang yang tidak bisa baca dengan literatur bikin WA, bisa dibayangkan kacaunya,” jelas Slamet.

Soal pengembangan potensi kegiatan IMW, yang mungkin berlanjut pada joint production pembuatan film, Slamet yang pernah menjadi Ketua Badan Pertimbangan Perfilman (sekarang Badan Perfilman Indonesia) berharap bukan itu tujuan dari IMW.

Share This: