Social Distancing dan Lockdown!

_

Jum’at siang (27/3/2029) kemarin, karena ada suatu gagasan yang perlu disampaikan langsung kepada seorang teman, saya ke luar rumah menggunakan sepeda motor. Karena rumahnya cukup jauh, di pertengahan antara Citayam – Bojonggede, Bogor.

“Kampungnya ane lupa bro, ane baru tinggal di sini. Pokoknya dari Citayam ke arah Bojonggede, sebelum perumahan Bambu Kuning ada kantor PLN Bojonggede. Nanti tunggu aja di Alfamart, habis shalat Jum’at ane jrmput!”, pesannya di WA.

Pukul 12.30 siang saya berjalan menyusuri kampung. Badan terbungkus rapat. Memakai jaket, sarung tangan dan masker. Dengan harapan terlindung dari virus corona yang sedang menggila.  Ini merupakan perjudian, setelah berhari-hari mengurung diri di rumah. Di jalan, masih banyak yang berlalu-lalang, walau tidak seramai hari biasanya.

Pukul 13.00 lewat sedikit saya sampai di Kampung Pabuaran, dekat dengan tempat yang disebutkannya dalam WA. Di jalan banyak orang yang baru keluar dari salah satu masjid. Rupanya Shalat Jum’at berlangsung seperti biasa di sana. Tidak terpengaruh himbauan MUI, UAS, Ustadz Das’ad Rifai atau ulama-ulama terkenal lainnya.

Ketika saya sampai, teman yang saya datangi juga baru pulang shalat Jum’at. “Kita jihad ajalah bro,” jawabya ketika saya tanya apakah tidak mendengar ada himbauan untuk tidak shalat Jum’at. Karena jawabannya seperti itu saya tidak bertanya lagi. Ini soal keyakinan yang  tidak saya pahami.

Social Distancing (jaga jarak dan mengurangi di tempat umum) merupakan sikap yang sangat dianjurkan selama merebaknya wabah corona ini. Bahkan ibadah berjamaah pun sangat tidak dianjurkan. Nyatanya anjuran itu tidak sepenuhnya diikuti masyarakat.

Jemaat di Gereja Bethel Indonesia (GBI) tetap mengadakan seminar keagamaan di Lembang, Bandung di tengah wabah corona ini. Belakangan semua peserta yang menghadiri kegiatan itu diaktegorikan sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Pendeta sebuah gereja di Depok pernah meminta agar jemaatnya tetap hadir di gereja meskipun corona merebak. Menurutnya corona adalah ciptaan Tuhan. Ketika kita datang ke rumah Tuhan, maka Tuhan akan melindungi kita.

Untung ada jemaat yang berani. Mengatakan kepada pendeta itu, “Macan juga ciptaan Tuhan pendeta. Apakah kita boleh dekat-dekat?”.  Setelah itu kebaktian ditiadakan, diganti dengan ibadah streaming.

Keyakinan berlebihan terhadap iman yang diyakini memang sering membuat manusia tidak rasional. Apalagi jika sudah dibumbui dengan janji-janji surga. Itu tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat negara berkembang, tetapi terjadi juga di negara-negara manu.

Pada 18 November 1978, 900 orang pengikut Sekte Kuli Rakyat tewas, setelah pimpinan mereka, Jim Jones mengajak jemaatnya melakukan bunuh diri massal menggunakan racun sianida.

Total yang meninggal sebenarnya mencapai 918 orang, sebanyak 909 meninggal di Jonestown, kemudian lima orang dibunuh di Port Kaituma, termasuk anggota kongres Amerika Serikat Leo Ryan. Serta empat anggota sekte lainnya melakukan aksi bunuh
dri di George Town atas perintah pimpinan sekte Jim Jones.

Tanggal 26 Maret 1997 silam, peristiwa yang sangat mengejutkan terjadi. Sebanyak 39 orang tewas dalam ritual bunuh diri massal di sebuah rumah di San Diego, California.

Puluhan orang ini merupakan para anggota sekte Heaven’s Gate alias Gerbang Surga yang percaya bahwa mereka harus pergi meninggalkan dunia untuk mengikuti Komet Hale-Bopp dengan menumpang pesawat ekstra terestial. Dan satu-satunya cara yakni dengan bunuh diri. Mereka percaya bahwa planet bumi akan segera memasuki fase pembersihan, dan satu-satunya cara untuk selamat yakni dengan meninggalkan bumi sesegera mungkin.

Masih banyak lagi catatan-catatan yang menggambarkan fanatisme pengikuti agama atau aliran tertentu yang berujung apda tindakan fatal.

Dalam kasus corona ini, gambaran-gambaran mengerikan sudah diperlihatkan di berbagai media. Pemerintah juga sudah melakukan sosialisasi dan himbauan untuk mencegah penyebarluasannya. Tetapi sejauh ini, masih banyak yang belum menyadari bahaya corona, sehingga masih melakukan aktivitas seperti biasa.

Teriakan lockdown sudah digaungkan. Tindakan ini baru dilakukan parsial, karena pemerintah pusat sendiri menyatakan bahwa Lockdown merupakan kewenangan daerah. Pemerintah pusat sendiri nampaknya masih gamang dalam mengambil keputusan. Masih dicari cara menangani pencegahan penyebarluasan virus corona tanpa melakukan lockdown. Faktor ekonomi agaknya menjadi pertimbangan utama.

Jika lockdown dilakukan. Maka hampir semua kegiatan tidak bisa dilakukan sembarangan. Aparat keamanan akan melakukan pengawasan terhadap pergerakan manusia. Yang tidak benar-benar perlu berada di jalan, harus berurusan dengan pihak keamanan. Sementara yang berada di rumah, juga harus tetap makan. Jika selama ini mereka bisa mencari makan sendiri, dengan diberlakukannya lockdown, mereka tidak bisa lagi mencari nafkah. Konsekwensinya pemerintah harus menanggung kebutuhan mereka. Jutaan jumlahnya.

Pihak-pihak yang selama ini berteriak gagah, “Pemerintah harus melakukan lockdown!”, tidak boleh berpangku tangan. Harus mau mengurangi beban pemerintah, dengan segala daya yang dimilikinya. Yang hidup berlebihan hendaknya mau berbagi dengan yang kekurangan. Supaya lockdown bisa dilakukan dengan benar.

 

Share This: