Sudah 30 Tahun Film Indonesia Ikut Oscar

Anggota Komite Seleksi Film Indonesia ke Piala Oscar rapat di Hotel Puri Denpasar Jakarta, tanggal 4 September 2017. (Foto: HW)
_

Diam-diam Indonesia sudah 30 tahun mengirimkan film untuk mengikuti ajang perebutan Piala Oscar untuk kategori film berbahasa asing. Film pertama yang dikirim dan tercatat secara resmi adalah “Naga Bonar”, Film Terbaik FFI 1986 yang dibintangi oleh Deddy Mizwar. Sejak itu secara rutin, hampir setiap tahun Indonesia selalu mengirimkan film ke Piala Oscar.

Film dikirim oleh Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) yang merupakan perwakilan dari Academy of Motion Pictures Art and Science (AMPAS). Selama ini semua biaya yang menyangkut pemilihan film-film hingga pengiriman ditanggung oleh PPFI. Tahun ini Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang) Film memberi sedikit bantuan, dan berjanji akan meningkatkan lagi bantuan yang diberikan pada tahun-tahun mendatang, sesuai dengan kebutuhan.

Tahun lalu, ketika mengirim film “Surat Dari Praha”, Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan – meski menurutnya tidak janji — akan membantu mencarikan biaya yang dibutuhkan. Tetapi janji itu tak terwujud tahun ini.

Menurut Pengurus PPFI Zairin Zain, ketidakhadiran negara dalam perfilman merupakan kelemahan Indonesia selama ini. Tahun lalu Kepala Bekraf Triawan Munaf yang mengaku baru tahu Indonesia mengirimkan film ke Oscar, berjanji akan membantu, tetapi janjinya tidak terealisasi hingga saat ini.

Sebelum Indonesia mengirim “Naga Bonar”, setiap negara bebas mengirimkan sebanyak-banyaknya film untuk diikutsertakan, dengan syarat film tersebut harus diputar di Amerika. Tetapi anggota Dewan Film Nasional (DFN) waktu itu Drs. Asrul Sani mengirim surat ke AMPAS dengan argumentasinya.

Asrul mengatakan tidak mungkin film dari negera berkembang seperti Indoensia bisa diputar di Amerika. Sejak itu AMPAS meminta tiap negara mengirim satu film.

Untuk menentukan film apa yang akan dikirim, saat ini Komite Seleksi Film Peserta Oscar yang dibentuk oleh Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) sedang bekerja, menyeleksi film-film Indonesia untuk memilih satu judul film untuk dikirim. Tanggal 2 Oktober 2017 film sudah harus diterima oleh panitia.

Ke-13 anggota Tim Seleksi itu adalah HM Firman Bintang (produser), Roy Lolang (DOP), Marcella Zalianti (aktris), Alim Sudio (penulis skenario), Tya Subiakto (Penata Musik), Zairin Zain (Produser), Christine Hakim (Aktris dan produser), Fauzan Zidny (Ketua APROFI), Benny Setiawan (Sutradara), Yenni Rachman (Aktris), Mathias Mucus (Aktor), Reza Rahadian (Aktor) dan Wina Armada (Kritikus Film).

Setiap anggota Komite Seleksi akan menyodorkan 3 – 5 judul film yang dinominsikan, untuk kemudian dibawa ke dalam rapat guna menentukan 1 judul film yang akan dikirim ke Oscar. Penentuan film yang dikirim tidak ditentukan berdasarkan voting, tetapi sejauh mana kekuatan argumentasi yang disampaikan oleh anggota yang mengunggulkan.

Dalam rapat anggota Komite Seleksi Oscar di Hotel Puri Denpasar Jakarta belum lama ini, terungkap keinginan untuk membentuk anggota tetap tim seleksi yang bertugas minimal selama 3 tahun.

“Komite ini harusnya tidak berganti setiap tahun,” kata Firman. “Tadinya saya pikir ikut satu tahun mengikuti perkembangan yang ada. Mbak Christine Hakim mengusulkan agar bekerja tiga tahun. Supaya komite ini bekerja untuk memikirkan ada film khusus yang akan dikirim.”

Aktris senior Christine Hakim yang ditunjuk menjadi Ketua Komite Seleksi menjelaskan alasannya mengapa Board of Indonesia Committee Science yang akan dibentuk harus bekerja 3 tahun. Direktur Festival film di Sydney, orang India, dikontrak 3 tahun. Dirktur Rotterdam Festival, Simon, orang Inggris, yang juga dikontrak 3 tahun.

“Sebab dengan waktu selama 3 tahun itu dia bisa bikin planning dan progress. Kalau tidak begitu, kita akan begini-begini terus. Rasanya apa yang kita mau bikin ya kalau tiap tahun orangnya berubah. Director festival itu harus dipegang oleh satu orang, ” kata Christine.

Senada dengan Christine, Zairin Zain melihat perfilman sudah membentuk board untuk menentukan film-film yang akan diikutsertakan di berbagai festival dunia, karena board itulah yang akan menentukan bagaimana seharusnya. Iran adalah salah satu contohnya.

“Di Iran, mereka sudah punya plan. Kepada film maker tertentu untuk festival tertentu, mereka sudah giring. Karena Iran punya film foundation maka film-film yang dibuat diarahkan untuk mengikuti festival tertentu. Ke depan kita harapkan board ini akan jadi thinktank,” ujar Zairin.

Untuk mengikuti ajang festival di luar negeri, menurut aktris peraih Piala Citra terbanyak ini, kita harus memahami karakter dari festival dan kebiasaan yang dialkukan oleh penyelenggara di sana. Memiliki jaringan di luar negeri juga penting, agar bisa membantu kepentingan film yang akan dikirim, terutama terkait promosi dan publikasi.

Jika nama Indonesia ingin dikenal melalui festival dunia, menurut Christine Hakim, tidak ada cara lain selain pemerintah harus terlibat langsung dalam perfilman. Harus ada anggaran yang dialokasikan untuk membuat film-film untuk standar festival.

“Katakanlah sekarang Bekraf punya uang berapa? 1 trilyun? Alokasikan 10 persen untuk membuat film, yakni Rp.100 milyar. Dengan

dana sebesar itu bisa dibuat 20 judul film, 20 sutradara kita. “Agar jangan sampai disebut pilih kasih, piching aja, dilihat dari skrip yang bagus. Masa dari 20 enggak ada 10 yang nyangkut?” katanya. 

Promosi

Ketua APROFI Fauzan Zidny mengatakan ada masukan dari kalangan sineas muda, agar film yang diikutsertakan di festival internasional juga dipromosikan. Gunanya untuk menarik perhatian para juri. Sebab tanpa promosi yang baik, kemungkinan para juri asing tidak tertarik untuk melihat film-film peserta.

Riri Riza dan Mira Lesmana pernah menolak filmnya “Laskar Pelangi” dikirim ke Oscar, jika tidak ada jaminan untuk dipromosikan. Karena PPFI tidak memiliki dan untuk promosi, maka film itu tidak jadi dikirim.

Terkait promosi ini Christine Hakim punya pengalaman ketika mengirim film Tjoet Nya Dhien bersama Rahim Latif, Slamet Rahardjo dan Eros Djarot. Uang menurut Christine bukan masalah utama jika kita memiliki jaringan (network) di laur negeri. Dengan network itu promosi film bisa dibantu.

Pengalaman Zairin Zain ketika mengirim film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” tidak ada anggaran untuk publikasi maupun promosi. Tetapi film itu juga ditulis oleh media Amerika “Variety” dan “Hollywood Reporter”.

“Memang kalau seperti Iran, pemerintahnya publish. Salah satu anggota memang untuk mempengaruhi Juri harus dipromosikan, dipublikasikan. Itu dilakukan oleh Iran,” kata Zairin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: