Sugito, Kesepian di Tengah Keramaian

_

Suasana di lokasi sekitar tempat kuliner berbuka puasa sangat ramai. Menjelang berbuka puasa orang-orang datang silih berganti, membeli makanan lalu pergi membawa bungkusan berisi makanan untuk berbuka puasa.

Namun dari ratusan pengunjung yang datang, belum satu pun yang menghampiri Sugito, tunanetra yang menjajakan kerupuk dengan gerobak dorongnya.
Ia meraih mike yang langsung terhubung dengan speaker kecil yang diikat di atas gerobaknya. Ia mulai berteriak-teriak mempromosikan dagangannya.

“Kerupuk, kerupuk! Sekarung lima belas ribu! Ayo beli, murah, kerupuk enak, murah!” teriak Sugito berulang-ulang, lalu berhenti.
Sugito berusaha menarik perhatian pengunjung pusat kuliner Ramadhan di kawasan Bendungan Hilir itu, meski matanya yang terlindung oleh kacamata hitam tidak bisa melihat suasana sekitar, atau sebanyak apa orang-orang yang datang.

“Sepi Mas, enggak ada bedanya bulan puasa atau bukan,” kata Sugito ketika ditanya tentang penjualannya, Senin (29/5/2017) sore.

Meski pun pedagang lain tengah menikmati rejeki yang lumayan karena banyaknya pengunjung tempat kuliner yang datang, Sugito tidak ikut menikmati. Sejauh pengamatan balaikita selama dua jam di tempat itu baru seorang pembeli yang membeli dagangannya.

Seorang perempuan berusia sekitar 25 tahun datang membeli sebungkus kerupuk seharga limabelas ribu rupiah. Wanita itu menyerahkan selembar Rp.20 ribuan. Ketika Sugito ingin memberikan kembalian, dia menolak.

“Enggak usah pak, buat bapak aja,” kata wanita itu, lalu pergi. Mungkin dia kasihan dengan Sugito.

Di area kuliner Ramadhan, Sugito berjualan di luar tenda yang disediakan khusus untuk pedagang. Entah karena pengelola merasa kasihan atau berada di luar tenda, ia tidak dimintai uang tempat atau apapun namanya oleh pengelola tempat tersebut

Berjualan kerupuk merupakan pekerjaan sampingan buat lelaki tunanetra berusia 55 tahun ini. Selain berjualan kerupuk, dia berprofesi sebagai pemijat.

“Saya baru tiga tahun jualan kerupuk. Kalau ada yang minta dipijat saya enggak jualan,” kata Sugito.

Selain menerima panggilan, dia juga membuka praktek pijat di rumahnya, di Jalan Jatiluhur, Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Untuk mencari tambahan penghasilan dia berjualan kerupuk, keliling setiap hari di seputar Benhil. Kerupuk diantar oleh pemilikmya ke rumah Sugito tiga hari sekali.

“Enggak banyaklah hasilnya, paling antara lima puluh sampai delapan puluh ribu sehari,” katanya.

Sugito berasal dari Solo ini. Setelah belajar di sekolah khusus pijat di Kabupaten Pemalang, tahun 1970, ia merantau ke Jakarta hingga hari ini. Ia memiliki dua orang anak yang sudan menikah. Saat ini ia tinggal bersama isterinya.

Share This: