“Surau dan Silek”: Bekal Hidup Orang Minang

Film "Surau dan Silek" (Mahakarya Pictures)
_

Orang Minangkabau (Sumatera Barat) dikenal etnis sebagai perantau di Indonesia. Tidak sulit menemukan orang Minang di berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke mancanegara. Dengan keahliannya berdagang, kemampuan membuat masakan yang enak, membuat orang Minang bisa hidup di mana pun dia berada.

Banyak perantau yang sukses dan menjadi tokoh nasional di tanah air, dalam bidang yang digelutinya masing-masing. Sebut saja misalnya tokoh-tokoh politik di jaman kemerdekaan seperti Mohammad Hatta (Wakil Presiden pertama), H. Agus Salim (politikus), Chairil Anwar (penyair), Rosihan Anwar (wartawan), H. Usmar Ismail (tokoh perfilman), Tan Malaka (politikus kiri), Hasyim Ning (pengusaha), hingga di era sekarang seperti Chairul Tanjung dan beberapa Menteri di Kabinet Kerja.

Apakah yang membuat orang-orang Minang sukses di perantauan? Dan bekal apakah yang dibawa orang Minang untuk hidup di perantauan? Apakah mereka membawa harta benda dari kampungnya? Ternyata tidak. Bekal merantau orang Minang adalah surau (agama), shalawat (menjalankan agama) dan silek (silat). Ketiga bekal itu melekat dalam diri dan kepribadian orang Minang pada umumnya. Di mana pun mereka berada, bekal itu akan selalu dibawa.

Surau merupakan tempat beribadah, mengaji bagi anak-anak Minang, sekaligus belajar bersama untuk membentuk pola pikir mereka. Sedangkan silek (silat) merupakan seni bela diri khas tanah Minang, yang penting dipelajari dan dikuasi oleh anak-anak lelaki untuk membela diri. Terutama bagi mereka yang akan pergi merantau.

Dua hal itulah yang diangkat oleh sutradara Arif Malinmudo dalam film karyanya Surau dan Silek. Melalui film ini Arif ingin mengingatkan kembali bahwa surau dan silek merupakan dua elemen penting dalam kehidupan anak-anak lelaki Minang, yang umumnya akan pergi dari kampung untuk merantau. Dengan bekal itu diharapkan anak-anak lelaki Minang akan percaya diri di mana pun mereka kelak akan tinggal.

Sayangnya budaya tersebut sudah mulai terkikis dalam kehidupan orang Minang. Banyak yang menganggap budaya surau tidak lagi relevan dengan kehidupan yang kian modern. Begitu pula dengan belajar silat (silek), yang tidak dilakukan oleh sebagian anak-anak muda Minang. Belajar ilmu pengetahuan di sekolah dianggap jauh lebih penting. Apalagi bagi anak-anak keturunan Minang yang lahir dan besar di luar kampung halaman orangtuanya, terutama mereka yang berasal dari “perantau cino” atau perantau yang tidak pernah kembali lagi ke kampungnya.

Untuk mengembalikan ingatan masyarakat minang tentang “tradisi” itu, Arif Malinmundo manampilkan kisah tiga pelajar sekelas bernama Adil, Dayat dan Kurip yang bersaing dengan Hardi dan kawan-kawan di sekolah. Hardi yang memiliki kemampuan silat digambarkan seorang anak yang congkak dan suka merendahkan Adil.

Adil (Muhammad Razi,11th) adalah seorang anak yatim yang sangat menginginkan ayahnya masuk surga dengan cara menjadi anak yang shaleh. Di saat yang bersamaan Adil juga sangat berambisi memenangkan pertandingan Silat di kampungnya.

Ambisi Adil ini di dasari oleh kekalahan yang di alaminya pada pertandingan periode sebelumnya. Adil dikalahkan oleh Hardi (F Barry Cheln,11Th) dengan kecurangan. Namun hal ini tidak di akui oleh Hardi. Karena menurut Hardi, Adil hanya mencari-cari alasan atas kekalahannya. Teman seperguruan Adil yang juga merupakan sahabatnya; Dayat (Bima Jousant,11th) dan Kurip (Bintang Khairafi,11th) ikut mendukung upaya membalaskan dendam kekalahan tersebut. Dengan semangat yang tinggi mereka mempersiapkan diri menuju pertandingan berikutnya yang akan di adakan 6 bulan lagi.

Dalam masa persiapan tersebut tiga sekawan; Adil, Dayat dan Kurip mengalami berbagai rintangan; Mulai dari guru silat mereka Rustam (Gilang Dirga) yang pergi merantau, keinginan Adil untuk menjadi anak shaleh yang kadang bertentangan dengan ambisinya, pertikaian yang terjadi di antara Tiga Sekawan dalam memandang makna silat, Hardi dan kawan-kawan yang selalu membuli Adil, Dayat dan Kurip serta pencarian guru silat pengganti yang gagal disaat waktu menuju pertandingan terus berjalan. Rani (Randu Arini, 11th) merupakan teman sekolah Tiga sekawan (Adil, Kurip dan Dayat).

Rani yang mengagumi Adil secara diam diam berusaha untuk mencarikan solusi terhadap kegalauan yang di hadapi oleh teman-temannya. Berkat usaha Rani inilah semua rintangan yang di hadapi oleh Tiga sekawan ini dapat teratasi. Adil dan kawan-kawan lalu belajar silat dengan seorang dosen perguruan tinggi yang kembali dari perantauan untuk tinggal di kampungnya.

 

Bahasa Daerah

Surau dan Silek adalah sebuah film daerah. Bukan hanya settingnya saja yang kental warna kedaerahan, tetapi bahasa yang digunakan pun bahasa daerah (Minangkabau). Ini merupakan sebuah keberanian dari Mahakarya Pictures yang memproduksi film ini, mengingat Indonesia yang Jakarta sentris ini warna kedaerahan belum bisa diterima oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.

Film ini dengan percaya diri tampil apa adanya. Satu-satunya bintang yang sudah dikenal di level nasional adalah Dewi Irawan (tokoh Erna), yang memang memiliki darah Minangkabau. Dewi dipasang bukan untuk sekedar jadi cameo, tetapi nama besarnya diharapkan ikut memberi nilai tambah dalam film ini, walau pun Dewi justru mengurangi kredit point film ini karena dialeknya yang kurang “Minang” – mencoba berbahasa Minang tetapi dengan logak yang Indonesia banget. Itu karena Dewi memang lahir dan besar di Jakarta, termasuk pernah tinggal di Italia.

Dengan latar belakang desa-desa di Sumatera Barat yang indah, film ini sebenarnya sangat menjanjikan untuk memberikan sesuatu yang lebih berwarna bagi perfilman nasional, terutama ketika produser-produser besar ramai-ramai melirik lokasi syuting di luar negeri, walau masih dengan segala keterbatasannya.

Ada beberapa obyek menarik yang ditampilkan dalam film ini seperti Ngarai Sianok, jam gadang di Bukittinggi, atau pedesaan yang Sumatera Barat dengan latar belakang gunung menujulang yang indah, membuat mata seperti diberi obat tetes yang menyegarkan. Gambar-gambar dengan latar belakang panorama Sumbar itu akan lebih elok jika diambil dengan kamera yang lebih baik. Namun demikian apa yang dilakukan oleh Arif Malinmudo sudah menunjukkan keberpihakan yang kuat terhadap keindahan Pertiwi, khususnya alam Minangkabau.

Tentu saja dibutuhkan jam terbang yang lebih tinggi bagi Arif untuk menghasilkan sebuah film yang lebih kuat, baik dalam meramu adegan maupun mengemas aspek dramanya, sehingga film ini akan memberikan kesan yang tak mudah dihapus dari ingatan. Arif masih kurang sabar merajut aspek dramaturginya, sehingga adegan yang mestinya bisa menjadi kuat, malah terkesan datar. Semua dibuat terburu-buru, seolah hanya untuk memenuhi target bahwa cerita ini berjalan dan bisa dicerna.

Bagian yang menggambarkan pertemuan Adil Cs dengan Dr. Johan Hakim (Yusril Katil), dosen yang kemudian mengajar mereka berlatih silat, sebenarnya bisa dibuat dengan lebih dalam. Penerimaan Dr. Johan yang tidak begitu mudah terhadap keinginan Adil Cs, akan lebih menarik jika dilalui dengan proses yang lebih menantang. Dr. Johan dengan kapasitasnya sebagai dosen berprestasi yang sedang menulis buku tentang surau dan silek, bisa dibebani untuk menyampaikan pesan-pesan filosofis tentang adat istiadat masyarakat Minang, juga tentang esensi belajar di surat dan nilai-nilai yang terkandung dalam silek. Sudah disampaikan, tetapi terasa kurang dalam.

Adegan pertarungan silat Minangkabau yang dilakukan oleh Adil Cs, baik dalam latihan maupun dalam pertandingan resmi, seharusnya bisa dibuat lebih menarik. Ada bagian-bagian yang perlu penekanan melalui gambar-gambar slow motion atau ekspresi pemain yang lebih kuat. Sayang adegan-adegan ini umumnya dibuat terburu-buru, seolah disesuaikan dengan durasi pertandingan silek itu sendiri. Apalagi adegan pertandingan dalam kejuaraan silek dibuat dalam gedung dengan pencahayaan yang seadanya.

Lepas dari berbagai kelemahan yang ada, kehadiran Surau dan Silek patut diapresiasi. Arif terkesan jujur dengan memakai pemain-pemain yang bukan bintang, bahkan dia mampu mengarahkan para pemain anak yang semua baru tampil di depan kamera.

Seperti film Uang Panai di Makassar, film ini diharapkan dapat berhasil dalam pemasaran, meski pun layar yang diperolehnya di pemutaran awal sangat terbatas – dan mampu membangkitkan keberanian para pembuat film di daerah, sehingga ke depan kualitas film-film daerah semakin membaik. (02)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: