“Sweet 20”, Kisah Nenek yang Berubah Jadi Gadis Cantik.

Foto: Starvision.
_

Masalah terbesar  manula adalah merasa lebih tahu dibandingkan orang muda di sekitarnya. Sehingga ia menjadi dominan, pengatur dan sensitif. Terlebih bila ia tinggal bersama anak lelakinya yang sudah sukses, menantu dan cucunya. Sikap itu tentu saja membuat orang-orang dekatnya menjadi kurang nyaman. Apalagi sang manula masih berpikir dan bertindak dengan paradigma lama.

Buat keluarga muda modern, mengirim orangtua ke panti jompo adalah pilihan paling realistis. Dengan asumsi, di panti jompo sang manula akan menemukan orang-orang sebaya yang bisa memahami jalan pikirannya, dirawat dengan baik sehingga sang anak yang telah dibesarkan dengan susah payah hingga dewasa, tidak terlalu merasa berdosa.

Persoalan-persoalan itulah yang ingin disampaikan dalam film Sweet 20 produksi bersama Starvision dan CJ Entertainment Korea Selatan. Film yang diangkat dari scenario Upi Avianto dengan sutradara ini merupakan cerita adaptasi dari film Korea Miss Granny, yang telah diadaptasi ke 6 negara, termasuk Indonesia.

Film ini mengisahkan tentang nenek berusia 70 tahun bernama Fatmawati (Niniek L Karim), yang tinggal bersama anaknya Aditya (Lukman Sardi), menantunya Salma (Cut Mini), dan dua orang cucu, masing-masing Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key).

Fatmawati merupakan seorang nenek yang dominan, agak egois, sehingga membuat keluarga anaknya – terutama sang menantu dan cucu perempuan – merasa kurang nyaman. Dalam pergaulan sesama manula, Fatimah yang kerap membanggakan anaknya, juga mudah tersinggung. Terutama bila bertemu nenek Rahayu (Widiawati), yang suka mendekati Hamzah (Slamet Rahardjo), lelaki yang diam-diam disukainya. Hamzah juga sejak muda mencintai Fatmawati.

Tak tahan dengan “gangguan” dari nenek Fatmawati, keluarga anaknya, Aditya, berwacana untuk mengirim sang nenek ke panti jompo. Karuan itu membuat sang nenek galau. Dalam kegalauan itulah dia pergi ke sebuah studio foto, dan minta dibuatkan foto untuk hari kematiannya nanti. Ajaib, setelah difoto ia berubah menjadi seorang gadis muda yang cantik.

 

Belum move-on

Bergelut dalam genre drama komedi, Sweet 20 merupakan sebuah komedi situasi yang memiliki bobot cerita menarik. Film bukan sebuah komedi berusaha memancing tawa penonton melalui adegan-adegan konyol (slapstick). Komedinya cerdas dan berkelas, sehingga memang tidak mudah menggelitik saraf sensitif untuk membuat penonton tergelak. Hanya mereka yang memiliki citarasa dan kecerdasan yang baik bisa memahami muatan komedi di dalamnya.

Aksi Fatmawati tua yang diperankan oleh Niniek L Karim menjadi gelaran unsur komedi yang menghibur. Niniek L Karim, dengan kematangannya sebagai aktor, berhasil memerankan tokoh Fatma yang egois, polos, tapi di sisi lain bisa membuat terharu. Duetnya dengan Slamet Rahardjo telah menghasilkan adegan-adegan yang enak untuk diikuti, sekaligus menghibur.

Kehadiran Tatjana Saphira sebagai Fatmawati muda juga tidak mengurangi daya tarik cerita film ini. Apalagi karakter yang diperankannya tetap terjaga. Kemampuan Tatjana untuk memahami karakter Fatmawati era sebelumnya sangat baik. Dengan bungkus fisik mudanya, Fatmawati yang diperankan oleh Tatjana seakan belum move-on dari karakter Fatmawati tua yang diperankan Ninik L Karim.

Gadis cantik yang masih membawa karakter lama ini memang harus bersusahpayah menghadapi situasi kekinian. Ia harus memperlihatkan inner actnya ketika konflik batin terjadi, memperlihatkan rasa cemburu ketika Rahayu mendekati Hamzah, atau bagaimana ia berusaha menghindari anak-anak muda yang jatuh hati padanya, termasuk cucunya sendiri Juna.

Dengan kecantikan wajah dan keindahan tubuh yang dimilikinya, Tatjana telah memberikan daya tarik tersendiri di film ini. Tetapi bukan itu nilai lebih Tatjana. Ternyata ia mampu memperlihatkan gesture dan dialog yang “mendekati” sosok Fatmawati tua.

Jika berharap melihat sebuah komedi yang bisa memancing tawa terus-menerus, bukan ini filmnya. Karena di beberapa bagian, unsur dramanya justru sangat kuat dan cenderung memancing emosi. Lihatlah ketika Aditya menceritakan masa lalu ibunya, dan menyebut dirinya sebagai anak yang tidak tahu diri karena ingin “membuang” ibunya ke panti jompo. Mengharukan.

Sutradara Ody C. Harahap agaknya sadar bahwa adegan semacam itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, dan ia mengembalikannya ke dalam suasana ceria.

Buat generasi 80-an, menampilkan lagu-lagu karya Titik Puspa seperti Bing

Dan Layu Sebelum Berkembang karya almarhum A. Riyanto. Namun membiarkan lagu-lagu itu dinyanyikan utuh, terasa membuang-buang waktu. Terkesan hanya ingin menutupi durasi.

Sweet 20 merupakan film yang disiapkan untuk lebaran. Film ini boleh menjadi pilihan untuk mengisi lebaran. Bagus untuk hiburan sekaligus berisi pesan yang patut untuk direnungkan. Siapa tahu persoalan hidup atau konflik batin yang terjadi dalam diri Fatmawati, Hamzah, Aditya, Salma, Juna, Luna, Rahayu dan yang lain-lain, ada dalam diri kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: