Syahwat Kuasa Politik dan ekonomi yang Tak Terkendali Berpengaruh Negatif Bagi Rakyat

_

Syahwat kuasa politik dan ekonomi yang kerap tak terkendali berpengaruh negatif bagi rakyat pada umumnya.

Demikian salah satu poin  yang disampaikan oleh Mufakat Budaya Indonesia (MBI), dalam pernyataan dan imbauan yang dibacakan di hadapan pers di Warung Presiden (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (12/3/2019). 

Mufakat Budaya Indonesia merupakan kumpulan dari semumlah seniman, budayawan dan agamawan. Ketika membacakan pernyataan di Wapres Bulungan hadir budayawan Radhar Panca Dahana, aktor Adi Kurdi, aktris Nini L Karim dan Olivia Zalianty, seniman Bulungan Anto Baret, Dosen UI Donny Gahral Ardian, penyanyi Reny Djayusman, tokoh agama Budha Suhadi Sendjaja dan beberapa nama lainnya.

Selain pernyataan sikap, acara juga diisi dengan pembacaan puisi, menyanyikan lagu dan membuat lukisan.

MBI menyatakan, menyikapi perkembangan mutakhir dari kehidupan sosiaI-politik-kultural di negeri kita, Indonesia, dimana terjadi peningkatan intensitas, jumlah dan kualitas dari:

a. Perpecahan kelompok masyarakat yang didasari oleh perbedaan sukubangsa, agama/keyakinan, hingga (bahkan terutama) pilihan politik. yang teriadi sampai pada tingkat personal dan hubungan keluarga/rumah tangga,

b. Konflik horisontal dan vertikal akibat perpecahan di atas, hingga pada tingkatan fisik yang melibatkan bukan saja sesama anggota perkauman adat, tapi juga antara sahabat, hingga anggota keluarga,

c. Penggunaan bahasa bahkan karya seni yang diluhurkan tuiuan dan caranya oleh para leluhur dan pendiri bangsa demi kepentingan sempit/sektarian secara kasar, keji, penuh hasutan dan gaya retoris yang memutarbalikkan fakm dan akal sehat, terlebih ketika tindakan itu disebar-Iuaskan secara massif melalui berbagai platform media (baik konvensional maupun virtual).

d. Ditinggalkan dan dikhianatinya nilai-nilai kemanusiaan universal hingga nilai-nilai dasar dari keadaban publik bangsa yang telah dipelihara begitu lama oleh para pendahulu kita, sehingga berpotensi besar merusak tatanan hidup kita berbangsa dan bernegara,

e. Syahwat kuasa politik dan ekonomi yang kerap tak terkendali dimana rakyat pada umumnya kemudian terpengaruh secara negatif karenanya,

f. Dan beberapa hal Iain yang sifatnya destruktif bagi kemaslahatan bangsa.

Aktivis MBI menyampaikan pernyataan dan imbauan kepada seluruh elemen bangsa Indonesia, terutama yang terkait langsung dan tak Iangsung dengan realitas / fenomena tersebut di atas agar:

Pertama, menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa, sikap hingga tindakan, yang terbukti atau berpotensi merusak dan membusukkan tata hubungan sosial kultural masyarakat Indonesia yang sudah susah payah dibangun oleh leluhur kita bersama.

Kedua, tidak menjadikan kontestasi politik, seperti Pemilihan Presiden dan anggota legislatif, sebagai ajang pertempuran di antara kekuatan yang semata dihela oleh nafsu meraih kekuasaan temporer semata.

Kemudian, meminta para elit, baik di lingkungan politik. ekonomi, akademik, agama hingga budaya, tidak lagi menginisiasi, menginspirasi terlebih mengorganisasi publik luas untuk melakukan perbuatan destruktif di atas demi tujuan-tujuan kelompoknya masing-masing.

MBI juga meminta agar masyarakat dan para tokoh mengingat dan menyadari kembali dalam sejarah bangsa Indonesia (bangsabangsa di Nusantara) yang panjang, menerima perbedaan di alam semesta, juga di kalangan umat manusia.

Semua yang berbeda di pihak/orang/bangsa Iain, bagi bangsa dalam budaya Bahari, diterima secara penuh karena ia menjadi unsur yang turut melengkapi juga mengembangkan secara berkelanjutan (jati) diri atau eksistensi manusia Indonesia.

Karakter/sifat manusia/bangsa Indonesia yang komunalistik (kolektivis) dimana kepentingan “orang banyak” jauh Iebih utama ketimbang kepentingan personal dan karenanya individualisme.

Oleh karenanya, menurut MBI, pikiran dan tindakan kita mesti dilandasi oleh etika (basis benar dan baik) sesuai keadaban bangsa ini, begitupun kebenaran yang diyakini dan disampaikan harus obyektif, tidak saja berdasar etika tapi juga kepentingan komunal/nasional kita. Bukan kebenaran subyektif atau preferensial, mengandalkan media sosial sebagai pengabsah (justifikasi)nya.

Untuk itu perlu menghindari penghakiman atau pengadilan sepihak, sekadar demi kepentingan syahwat kuasa. terhadap orang/pihak lain dengan cara mengembangkan saling pengertian, kerjasama. rasa bersaudara, dan kegotongroyongan di dalam perbedaan.

Siapa pun yang melakukan haI-hal sebaliknya, menurut MBI melakukan khianat atau ingkar dari keadaban publik, seperti sebagian terungkap di poin-poin imbauan di atas.

Masyarakat diimbau mengoreksi diri secara sungguh-sungguh, atau bila tidak dapat, segera melucuti (atau pantass dilucuti) dari seluruh atribut kebangsaan dan kewarganegaraannya sebagai konsekuensi.

Share This: