Syamsul Fuad Bantah Jadi Penyebab Kegagalan Film “Benyamin Biang Kerok”

Syamsul Fuad (Foto: Tab. Kabar Film)
_

Penulis cerita asli film Benyamin Biang Kerok (BBK), Syamsul Fuad menyanggah tudingan dirinya sebagai penyebab kegagalan film BBK produksi PT Falcon, dalam peredaran. Menurut Syamsul kegagalan film yang dibintangi oleh aktor Reza Rahadian justru karena cerita dan isi film yang mengecewakan penonton.

Hal itu disampaikan Syamsul sebagai Tergugat, dalam pembelaan pribadinya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2018) siang. Syamsul membacakan pembelaan tanpa didampingi pengacara.

Dalam perkara yang dihadapinya di PN Jakpus, Syamsul menjadi tergugat dengan Penggugat PT Falcon dan produser BBK, Oddy Mulya Hidayat. Oddy dan PT Falcon menggugat balik Syamsul, yang sebelumnya menggugat PT Falcon karena merasa haknya sebagai penulis cerita asli film BBK diabaikan.

PT Falcon menggugat balik dengan alasan Syamsul Fuad telah membuat opini negatif, sehingga hasil peredaran film BBK yang dibintangi Reza Rahadian, tidak sesuai harapan. PT Falcon menargetkan film itu meriah 6 juta penonton, tetapi hasilnya hanya 1 jutaan penonton.

Dalam pembelaannya Syamsul membantah menjadi penyebab kegagalan film tersebut, karena film sudah beredar sejak tanggal 1 September 2017, sedangkan gugatan yang ia masukan ke Pengadilan Niaga Jakarta, tanggal 5 September 2017.

Hak edar

Syamsul juga mematahkan klaim PT Falcon yang sudah membeli hak kepemilikan film BBK dari PT Layar Cipta Karyamas Film pada tanggal 21 Oktober 2010 yang diperkuat dengan surat pelimpahan Hak Edar, baik untuk bioskop, televisi atau media lainnya.

“Jadi surat pelimpahan itu bukan Hak Untuk Memproduksi, apalagi menggunakan judul yang sama, Benyamin Biang Kerok,” kata Syamsul. “Jadi PT Falcon salah menafsirkan surat pelimpahan itu,” tambahnya.

Hak moral

Syamsul juga mengingatkan PT Falcon dan Max Pictures yang memproduksi film BBK versi baru, bahwa dalam credit title film terulis penulis cerita film tersebut adalah Syamsul Fuad.

“Mereka mengakui itu karya saya. Sebagai penulis cerita saya punya hak moral dan hak ekonomi. Jadi kalau karya itu dibuat lagi secara komersil, penciptanya juga harus mendapat bagian dari keuntungan ekonomi yang diperoleh,” papar Syamsul dalam pembelaannya.

Pengacara PT Falcon dan Max Pictures, HRM Bagiono mengatakan, pihaknya sampai saat ini masih membuka kesempatan untuk berdamai denga Syamsul Fuad. Pihaknya masih bersedia berbicara untuk mencapai win win solution.

“Kita kasihan sama Pak Syamsul. Dia sudah tua. Buat saya, menang dalam perkara ini tidak membuat bangga. Klien saya pun demikian. Kalau masih bisa berdamai, kenapa tidak,” kata Bagiono.

Saat ini gugatan keduabelah pihak masih berlangsung bersamaan. Gugatan Syamsul Fuad di Pengadilan Niaga Jakarta, dan gugatan balik PT Falcon dan Ody Mulya Hidayat di PN Jakarta Pusat. Syamsul menggugat Rp.1 milyar plus Rp,1.000 dari penjualan tiket, PT Falcon menggugat Syamsul membayar ganti rugi Rp.50 milyar.

Share This: