“Talent War” Akan Menentukan Masa Depan Sebuah Bangsa

_

Ketua Asosiasi Dosen Indonesia Dino Patti Djalal mengatakan, bagian paling strategis hari ini adalah, apakah kita bisa menciptakan anak-anak muda yang bisa melakukan inovasi. Tren sekarang, inovasi harus menjadi tuan rumah, dan Indonesia harus jadi tuan rumah inovasi di negeri sendiri.

Foto: HW

Namun yang paling menentukan masa depan suatu bangsa adalah kemampuan mempertahankan tenaga-tenaga ahlinya (talent) agar tidak dibajak negara lain.

Dino Patti Djalal menyampaikan hal ketika memberi sambutan dalam acara pembukaan Festival Beasiswa Nusantara II hari kedua, di gedung parlemen Senayan Jakarta, Minggu (25/11/2018).

“Yang menentukan masa depan kita adalah talent wars, perang memperebutkan talent. Sekarang banyak ahli di jepang yang dibajak, ditawari gaji 15 kali lipat. Bayangkan, di Jepang saja terjadi seperti itu,” kata Dino.

Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara yang masih mengandalkan sumberdaya alam (SDA) untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Namun di masa depan, SDA akan habis, dan tidak bisa dijadikan sumber kehidupan.

Negara bisa bertahan jika memikiki sumberdaya manusia (SDM) yang baik. SDM yang baik harus mampu melakukan inovasi.

“Tiongkok jadi kekuatan terbesar ekonomi dunia karena banyak inovasi. Ini juga yang menyebabkan Jepang dan Korea bisa maju. Inovasi jadi etos bagi mereka, tapi mereka juga bisa menjadikan inovasi sebagaintuan rumah,” kata Dino.

 

Dino berharap, anak-anak muda yang akan mendapatkan beasiswa, Ph.D dan doktor atau gelar melimpah lainnya, agar tetap mengutamakan merah putih, idealis, dan mau membangun bangsa.

Mantan Dubes RI untuk Amerika ini mengambil contoh ayahnya, DR Hasyim Djalal, anak desa yang mendapat beasiswa ke Amerika, kemudian kembali ke Indonesia dan mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara.

“Beliaulah yang menasionalisasikan laut-laut di Indonesia,” katanya.

Terkait dengan pemberian beasiswa, menurut Dino, sudah seharusnya pemerintah melakukan hal itu, karena pendidikan anak-anak muda Indonesia adalah tanggungjawab bangsa Indonesia sendiri.

Dino berharap anak-anak muda yang mendapat beasiswa kelak akan mengguncang dunia.

“Tapi bagaimana kalau pemudanya bodoh, narkoba dan berwawasan sempit. Bagaimana bisa mengguncang dunia? Formula saya, untuk berhasil pemuda harus memiliki ilmu, network, watak dan peluang. Bagaimana dengan luck? Penting juga, tapi kalau punya empat itu luck akan datang sendiri,” katanya.

Wakil Ketua Forum Rektor Sutarto Hadi mengatakan, kita harus hati-hati memberi nama pada program beasiswa. Sebab ada juga yang menolak bea siswa kalau diembel-embeli kata miskin.

“Teman saya kuliah dulu, orang miskin. Tapi dia menolak beasiswa karena ada kata miskinnya. Program Bidikmisi juga masih kurang bagus, karena ada kata miskimnya. Kata mahasiswa berprestasi sudah bagus, tetapi sebaiknya jangan pakai kata miskin,” kata Sutarto.

Festival Beasiswa Nusantara II diadakan oleh DPD RI bekerjasama dengan Asosiasi Dosen dan Forum Rektor Indonesia. Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono, Sekjen DPD Reydonnyzar Moenek, Dirjen Pendidikan Kementerian Agama Prof. Dr. Phill Kamaruddin Amin, MA, ribuan calon penerima beasiswa dan undangan lainnya.

 

 

 

 

 

 

Share This: