Tarra Basro Berusaha Berani

_

Fim horor ternyata bukan hanya menakutkan bagi penontonnya, tetapi pemainnya pun kadang merasa takut. Apalagi buat orang yang selama ini memang penakut, seperti pengakuan Tarra Basro.

Nah ketika ia ditawari untuk main dalam film Pengabdi Setan produksi PT Rapi Fim, berbagai perasaan berkamuk di benaknya, antara ingin dan takut.

“Baca naskahnya aja lumayan serem. Tapi karena sering reading jadi terbiasa,” kata Tarra Basro ketika ditemui di kantor PT Rapi Film di kawasan Cikini Jakarta, Jum’at (21/4/2017) siang.

Pengabdi Setan konon merupakan salah satu film horor terseram yang pernah dibuat di Indonesia. Film itu dibuat tahun 1980 oleh sutradara Siswowo Gautama dengan pemain Ruth Pellupesi, WD Muchtar, Simon Cader dan lain-lain.

Kini sutradara Joko Anwar dipercaya oleh PT Rapi Film untuk meremix film tersebut, pemain antara lain Tarra Basro.

“Saya belum pernah main film horor yang serius banget horornya kaya gini. Dulu pernah saya main, tapi ceritanya kan di hutan, ngeri lah. Ini kan beda, Joko Anwar yang bikin,” ujar artis kelahiran 11 Juni 1990 ini.
Genre horor memang bukan jenis film yang biasa bagi Tarr Basro. Baik untuk sekedar menonton atau menjadi pemain. Terus terang ia mengakui sampai sekarang belum berani nonton film horor.

“Saya jarang nonton horor, takut…lihat fotonya aja takut. Mending nonton dramalah daripada horor,” katanya.

Syuting dalam film horor menurutnya juga ada atmosfir yang berbeda dibandingkan main dalam film drama. Oleh sebab itu, untuk menyiasatinya, Tarra akan banyak ngobrol di lokasi syuting, dengan tokoh yang akan memerankan tokoh seram di film yang dibintanginya.
“Rencananya sih nanti pas lagi adegan serem pengen ngobrol aja sama yang nakut-nakutin nanti. Apalagi kalau syuting kan ada lampu, ada orang, jadi enggak seremlah. Sekarang lebih teknikal. Karena kalau baca naskah ketika baca terasa seremnya,” paparnya.

Menurut Aktris Terbaik FFI 2015 ini terlibat dalam suatu film itu selalu keluar dari coverzone. Apalagi ini harus memainkan film horor. Apalagi film yang akan dibintanginya ini tergoong film horor yang serius.
Tenang genre horor itu sendiri diakui sering dianggap genre kelas dua di film Indonesia. Apalagi hanya mengandalkan efek suara dan maupun visual yang sekedar menakut-nakuti penonton, tanpa kedalamanan, termasuk dibumbui adegan panas.

“Kalau misalkan ada film yang kaya begitu biar aja. Kalau saya merasa bertanggungjawab terhadap film yang saya bintangi. Setiap genre untuk sekarang saya positif ke depannya. Mudah-mudahan bisa memberi imaje yang baik untuk film horor. Karena film yang banyak ditonton ditunggu orang itu horor,” katanya

Tara Basro merupakan alumni Gadis Sampul tahun 2005. Ia memulai debut di dunia perfilman Indonesia dengan tampil sebagai Putri dalam sekuel terbaru Catatan Si Boy pada tahun 2011. Setahun berikutnya Tara tampil dalam sebuah film omnibus bergenre horor Hi5teria dan sebuah film drama Rumah dan Musim Hujan. Setelah hanya membintangi satu film tahun 2013 bersama Pandji Pragiwaksono dalam Make Money,

Tara membintangi empat film tahun 2014 yaitu Princess, film omnibus bergenre keluarga, The Right One sebuah film drama romantis berbahasa Inggris, Killers, sebuah film thriller kerja sama Indonesia dan Jepang, dan Pendekar Tongkat Emas, sebuah film tentang dunia persilatan.

Pada tahun 2015 Tara berhasil meraih penghargaan Aktris Utama Terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun 2015 melalui peran sebagai Sari di film A Copy of May Mind karya Joko Anwar.

“Aku hanya ingin bertanggungjawab terhadap film-film yang aku bintangi,” kilahnya tentang berbegai genre film yang dibintangi.

Share This: