“Terima Kasih Emak…” Jadi Tempat Reuni Sutradara dan Pemain Sinetron “Keluarga Cemara”

_

Kerinduan untuk berkumpul bersama-sama teman lama (reuni) ternyata bukan hanya terjadi di kalangan orang-orang yang pernah berada di satu kelas / sekolah. Hal yang sama juga dirasakan oleh para pemain dan sutradara sinetron TVRI Keluarga Cemara

Setalah berpisah selama 14 tahun (episode terakhir Keluarga Cemara tahun 2015), mereka sepakat untuk berkumpul lagi dalam sebuah produksi. Bukan sinetron, melainkan film layar lebar.

“Sebetulnya sudah lama saya ingin membuat film Keluarga Cemara. Saya sudah bertemu Mas Arswendo Atmowiloto, dia meminta sebuah angka, kemudian saya carikan produser yang bersedia. Ternyata banyak produser yang merasa terlalu berat, sampai akhirnya cerita Keluarga Cemara sudah dibeli oleh sebuah perusahaan dan dibuat film,” tutur sutradara Dedi Setiadi kepada wartawan di rumah makan Cikini Lima Jakarta, Sabtu (1/6/2019).

Dedi tidak berhenti sampai di situ. Dia terus mencari cara untuk menemukan jalan agar bisa mengumpulkan kembali para pemain eks Keluarga Cemara dalam satu produksi, sampai akhirnya dia bertemu dengan Alimi Pictures, perusahaan yang bersedia membiayai.

Cuma karena hak pembuatan film sudah dijual ke pihak lain, akhirnya diputuskan untuk membuat film berjudul Terima Kasih Emak…Terima Kasih Bapak, sesuai bunyi lirik lagu dalam soundtrack sinetron Keluarga Cemara.

“Begitu ada yang menawari cerita ini, tidak lama saya memutuskan untuk setuju. Tentu saja dengan mempertimbangkan agar jangan sampai hal ini melanggar hak cipta,” kata Anas Syahrul Alimi, produser dari Alimi Pictures.

Para pemain yang diajak bergabung dengan film ini oleh Dedi Setiadi mengaku antusias, meskipun mereka sudah tidak muda lagi. Adi Kurdi pemeran Abah bahkan sudah sulit melihat karena terserang glukoma.
Namun semangatnya berkobar-kobar untuk terlibat dalam film ini.

“Terus terang cerita film Keluarga Cemara yang sudah dibuat kok saya kurang sreg. Bagaimana tokoh Abah di film itu kok jadi pemarah. Ketika melihat rumahnya rusak bukan dibetulin, malah ingin kembali ke kota dan jadi pengojek. Makanya ketika Dedi Setiadi datang mengajak kita bikin film lagi bersama seluruh pemain Keluarga Cemara, saya antusias. Apalagi yang jadi ibunya Novia Kolopaking! Dia kan isteri yang paling klop bagi saya di sinetron itu,” kata Adi Kurdi.

Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh Novia Kolopaking dan pemain lainnya. Isteri budayawan Emha Ainun Najib yang hampir semua waktunya dihabiskan untuk mengurus keluarga di Yogya, langsung setuju ketika diajak Dedi Setiadi untuk bergabung.

“Saya ini kan sudah lama sekali tidak main film. Saya hanya sibuk mengurus anak-anak. Tapi ketika Om Dedi mengajak saya main, saya langsung setuju. Bahkan ketika diberitahu kumpul dengan para pemain Keluarga Cemara, malah nafsu! Pokoknya kalau Om Dedi yang ngajak, saya tidak bisa menolak. Saya juga ingin berkumpul dengan Abah dan anak-anak saya, Euis, Ara dan Agil, ” papar Novia.

Karena para pemain Selamat Pagi Emak…Selamat Pagi Bapak adalah para pemain sinetron Keluarga Cemara, maka konstruksi cerita juga tidak bergeser jauh dari apa yang pernah ditampilkan dalam Keluarga Cemara.

Ceritanya menggambarkan Abah yang sudah tidak bisa melihat karena glukoma — sesuai kondisi kesehatan Adi Kurdi saat ini, Emak yang berjualan gorengan dan opak, kadang menjadi pembantu di rumah orang kaya.

Euis yang sudah menjanda dengan dua anak, bekerja sebagai buruh pabrik. Cemara hidup berkecukupan dengan suaminya, tapi sudah 7 tahun tak memiliki anak, dan Agil yang masih belum menikah dan beberapa kali gonta-ganti pacar.

Suasana pedesaan dengan alam pegunungan dan sawah-sawah akan tetap menjadi setting utama dalam film ini. Rencananya seluruh pengambilan gambar akan dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat.

Untuk film ini Dedi Setiadi membentuk tim penulisan skenario berdasarkan cerita yang ditulis oleh Hotnida Harahap.

Share This: