“The Last Barongsai” Pesan Toleransi dan Akulturasi dari Tangerang

Adegan film "The Last Barongsai" (Karnos Fim)
_

Tangerang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Banten yang memiliki komunitas masyarakat Tionghoa, atau dikenal dengan sebutan Cinta Benteng. Komunitas ini sudah beberapa abad tinggal di Tangerang dan turun temurun hingga beberapa generasi.

Orang Tionghoa Benteng dikenal dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap (walaupun tetap berkulit kuning) dibandingkan warga keturunan Tionghoa lainnya di Indonesia, mereka lebih mirip dengan orang-orang Vietnam ketimbang orang Tiongkok. Kesenian mereka yang terkenal adalah kesenian campuran betawi-tionghoa, Cokek yaitu sebuah tarian berpasangan lelaki dan perempuan dengan iringan musik gambang kromong, termasuk barongsai, yang pada masa Orde Baru sempat dilarang.

Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singaBarongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi. Larangan pemerintah Orde Baru memang cukup efektif untuk “menenggelamkan” kesenian yang dimainkan secara atraktif itu.

Paling tidak para pelakunya mulai meninggalkan keahlian mereka, dan peminatnya terus menyusut. Ada rasa ketakutan yang membuat kesenian itu ditinggalkan.

Itulah yang membuat Khu Huan, akhirnya memasukan perangkat barongsainya ke gudang, dan berkonsentrasi untuk membuat mebel guna menghidupi keluarga. Kekecewaan Kho Huan terhadap barongsai adalah, ketika kesenian itu tidak mampu memberi kehidupan yang layak, dan menolong membiayai isterinya yang sakit, hingga meninggal dunia. Ia bahkan mengabaikan undangan untuk mengikuti lomba barongsai di Tangerang.

Namun Aguan, anaknya yang menemukan surat dari panitia Lomba Barongsai itu, dan berniat untuk berpartisipasi. Mulailah Aguan mencari rekan-rekannya yang dulu bermain bersama dalam Perkumpulan Barongsai Hong Shi, pimpinan ayahnya. Padahal Aguan baru saja mendapat beasiswa untuk belajar di sebuah perguruan tinggi di Singapura.

Aguan berhasil menghimpun teman-temannya, dan mereka berlatih keras. Tetapi sang ayah yang telah kecewa dengan barongsai sejak kematian isterinya, dan merasa bangga dengan Aguan yang mendapat beasiswa di Singapura, tidak setuju dengan keinginan Aguan ikut lomba. Diam-diam dia mengeluarkan perangkat barongsainya dari gudang dan membawanya ke suatu tempat.

The Last Barongsai adalah film produksi Karno’s Film yang disutradarai oleh Ario Rubbik dengan scenario ditulis oleh Titien Wattimena. Film ini diperankan oleh Tio Pakusadewo (Kho Huan), Dion Wiyoko (Aguan), Vanessa Inez (Sari / Ai), Hengky Solaiman (Mpek) dan Rano Karno (Safrudin atau Haji Udin).

Film ini selain menggambarkan konflik batin yang terjadi di tengah keluarga Kho Huan, juga ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga tradisi dan toleransi, juga menggambarkan akulturasi dan toleransi yang terjaga di Tangerang. Khususnya di kawasan yang dihuni oleh komunitas Cina Benteng.

Sebagai penggagas film ini, Rano Karno, seniman yang kini menjabat sebagai Gubernur Banten nampaknya gelisah dengan makin terpinggirkannya kesenian-kesenian tradisional, baik kesenian asli maupun yang datang dari negeri lain. Melalui tokoh Haji Udin yang diperankannya, Rano menyampaikan pesan, bahwa kesenian itu harus dijaga. Karena dengan itulah orang masih bisa disebut seniman. Karena seorang seniman yang tidak mampu menjaga kesenian yang digelutinya, dia bukan lagi seniman. Melainkan hanya menjadi seorang pekerja. Dalam film itu Haji Udin beprofesi sebagai montir.

The Last Barongsai juga ingin menggambarkan betapa toleransi dan akulturasi berjalan dengan baik di Tangerang. Azis yang seorang pribumi begitu cinta dengan kesenian barongsai, dan Aguan yang keturunan Cina tanpa sungkan mengucapkan kata Assalamualaikum kepada teman-teman pribumi yang dikenalnya.

Pesan yang disampaikan cukup kuat, apalagi dengan bungkus drama yang mampu membawa penonton untuk terus mengikuti cerita dalam film ini, walau pun konsep gambar dan pengadegan yang dibuat sangat kental dengan nuansa sinetron. Ada wajah Si Doel Anak Sekolahan – sinetron yang pernah dibaut Rano Karno – dalam film ini. Andai sentuhan sinematografinya diperkuat, film ini akan lebih asyik dinikmati. (*)

Share This: