Tim Seleksi Kirim “Turah” ke Piala Oscar

_

Turah, lelaki miskin dari Kampung Tirang, Tegal, akhirnya berangkat ke Amerika bersama warga Kampung Tirang lainnya, untuk memperebutkan Piala Oscar.

Turah, berangkat setelah Tim Seleksi Film Oscar memutuskan mengirim film “Turah” disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo untuk mewakili Indonesia, dalam perebutan Piala Oscar untuk kategori film asing (foreign language film). Turah sendiri merupakan nama tokoh utama dalam film “Turah”.

Tim Seleksi yang terdiri dari produser film Firman Bintang, Christine Hakim, Reza Rahadian, Mathias Mucus, Marcella Zalianti, Yenny Rachman, Tya Subiyakto, Zairin Zain, Roy Lolang dan Alim Sudio, memutuskan untuk mengirimkan “Turah” setelah bekerja selama satu bulan untuk menyeleksi seratus judul lebih film Indonesia.

“Meskipun film ini berbahasa daerah, Tegal, tetapi gambaran dalam film ini sangat mencerminkan Indonesia. Film ini juga digarap dengan luar biasa. Para pemainnya yang berasal dari teater sangat luar biasa,” kata Christine Hakim.

Turah adalah film drama Indonesia berbahasa Tegal produksi Fourcolours Films tahun 2016 Film berdurasi 83 menit, ini disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo. Film ini dibintangi oleh para aktor/aktris yang berasal dari pemain teater, antara lain Ubaidillah, Slamet Ambari, Yono Daryono, Rudi Iteng, Firman Hadi, Bontot Sukandar, Narti Diono, dan lain-lain.

Turah menceritakan tentang kehidupan masyarakat Kampung Tirang di Kota Tegal yang mengalami isolasi selama bertahun-tahun yang kemudian memunculkan berbagai problema. Tahun 2016, film ini memenangi 3 kategori sekaligus; Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival. Sedangkan kategori Asian Feature Film Special Mention diraih dalam Singapore International Film Festival.

“Saya lihat cerita, penggarapan dan para pemain dalam film ini luar biasa ya. Kita seperti melihat wajah kita dalam film ini. Itulah sebabnya semua anggota Tim Seleksi sepakat untuk mengirimkan film ini ke Oscar,” kata aktor Reza Rahadian.

Keikutsertaan Indonesia dalam ajang perebutan Piala Oscar untuk film asing sudah berlangsung sejak tahun 1987, melalui film “Naga Bonar”. Namun sejauh ini belum pernah ada hasil menggembirakan yang diperoleh. Iran, salah satu negara di Asia, sudah beberapa kali mendapat penghargaan dari ajang ini.

Meski pun selalu mengikuti ajang Piala Oscar dan tidak pernah mendapat pengargaan, pihak pengirim, Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) yang ditunjuk AMPAS (America Motion Picture Assiciation), tidak pernah menjelaskan penyebab kekalahan Indonesia.
Ketua PPFI HM Firman Bintang menjelaskan, mulai tahun ini Tim Seleksi akan bekerja secara tetap, sehingga hasil keikutsertaan Indonesia akan dievaluasi.

“Dulu tim seleksi hanya bekerja menjelang keikutsertaan film kita di ajang Oscar, setelah itu bubar. Mulai tahun ini paling tidak akan bekerja selama tiga tahun, sehingga kita punya waktu lebih banyak untuk melakukan pemilihan film berikut dan membuat evaluasi,” kata Firman.

Produser film Zairin Zain menyayangkan pemerintah yang kerap absen dalam perhelatan semacam ini. Padahal jika pemerintah terlibat, akan sangat membantu perjuangan film Indonesia yang ikut ke Oscar.

“Supaya Juri di Amerika tahu, film yang ikut serta harus dipromosikan. Paling tidak dibutuhkan biaya satu milyar untuk promosi. Nah itu perlu bantuan pemerintah. Kalau pemerintah tidak hadir, perjuangan kita juga semakin berat,” kata Zairin.

Share This: