“Trinity The Naked Traveller”, Di mana Petualangannya?

Maudy Ayunda dalam film "Trinity The Naded Traveller" (Foto: Ist)
_

Apa bedanya antara turis dengan traveller? Seorang turis biasanya hanya pergi wisata dengan tujuan tertentu, melihat tempat-tempat yang indah atau datang ke suatu tempat yang memang dituju sambil menikmati keindahan dan makanan enak. Sedangkan traveller, datang ke suatu tempat sambil menikmati petualangan. Banyak hal-hal tak terduga yang akan dihadapi oleh seorang traveller: baik mengenai akomodasi, transportasi, kuliner, adat istiadat atau budaya di tempat yang didatangainya.

Begitu kira-kita pesan yang ingin disampaikan dalam film Trinity the Naked Traveller (TTNT) karya sutradara Rizal Mathovani. Kata Naked (telanjang, bahasa Inggris), dalam film itu bisa juga dibaca Nekad. Benarkah tokoh dalam film itu seorang traveller (orang yang suka melakukan perjalanan) nekad?

TTNT bercerita tentang gadis bernama Trinity yang memiliki hobi melakukan perjalan ke berbagai tempat, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di bagian dunia lain. Meski pun orangtuanya mengharapkan dia segera menikah agar orangtuanya segera menimang cucu, Trinity kekeuh ingin melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang sudah dicatat di dalam bucket list (buku catatan destinasi wisata yang ingin dikunjungi).

Sebagai karyawan di sebuah perusahaan tentu saja tidak mudah bagi Trinity (diperankan oleh Maudy Ayunda) untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang diinginkannya. Selain terikat dengan pekerjaan, dia juga memiliki bos perempuan yang bawel dan ketus (diperankan oleh Ayu Dewi).

Perkenalan Trinity dengan penyanyi Tompi (diperankan oleh Tompi), mengubah sikap sang bos kepadanya, karena untuk sebuah proyek di Makassar, Tompi hanya ingin ditemani oleh gadis yang selfie dengannya di kantor. Gadis itu adalah Trinity.

Jadilah Trinity berangkat ke Makassar. Di sana ia diberi akomodasi sederhana oleh bossnya – sebuah kamar hotel tanpa jendela, sehingga ia ketinggalan pesawat kembali ke Jakarta, karena kamar hotel tetap gelap meski pun sudah siang. Selama menunggu penerbangan berikutnya, Trinity berangkat ke Ramang Ramang, destinasi wisata di bukit-bukit karst yang terdapat di Maros – Pangkep, Sulawesi Selatan.

Sekembalinya ke Jakarta, Trinity juga merencanakan untuk melakukan travelling ke Filipina bersama teman-temannya. Ketika mendapat kesempatan cuti, Trinity berangkat ke Filipina bersama Yasmin (Rachel Amanda), Nina (Anggika Bolsteri) dan sepupu Trinity, Esra (Bebi Cabita). Ketika berada di Filipina itulah dia menerima email dari seseorang yang mengundangnya liburan ke Maldives (Maladewa).

Atas dukungan teman-temannya, dari Filipina Trinity berangkat ke Maladewa. Ternyata orang yang mengundangnya ke Maladewa dengan membelikan tiket dan memesan penginapan di negeri kepulauan yang indah itu adalah Paul (Hamish Daud), fotografer dari Eropa yang ditemuinya di Way Kambas, Lampung.

Film produksi Tujuh Bintang Sinema ini diangkat dari kisah nyata (buku harian) seorang blogger wanita bernama Trinity, yang banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan perjalanan (travelling) ke berbagai belahan dunia, terutama Indonesia. Dari perjalanan yang dilakukan itu Trinity mengakui Indonesia memiliki keindahan yang tiada bandingnya di dunia, karena keragaman suku, budaya dan tentu saja angerah alam yang luar biasa. Sehingga ada kalimat Trinity yang kemudian menjadi tagline dalam film ini: “Kemana pun kaki melangkah, rumahku Indonesia..”

Di bagian awal film, keindahan Indonesia sudah mulai dimunculkan, ketika Trinity berangkat ke Gunung Anak Krakatau. Dalam catatan sejarah, gunung yang terletak di Selat Sunda, Lampung itu merupakan gunung yang baru tumbuh setelah induknya, Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Itulah sebabnya gunung kecil itu disebut Anak Krakatau.

Sejarah menceritakan, letusan Krakatau ketika itu sangat dahsyat. Langit menjadi gelap. Bahkan panen kentang di Eropa gagal karena matahari tertutup awal. Batu-batu karang seberat ratusan ton terlempar seperti kerikil, dan gelombang laut mencapai tinggi puluhan meter. Dampaknya alam di sekitar Selat Sunda rusak, 26 ribu orang tewas.

Kedatangan Trinity ke Anak Krakatau setidaknya ikut mengajak penonton untuk melihat dari dekat gunung yang puncaknya masih mengeluarkan asap itu. Sebuah keindahan yang mengandung ancaman.

Dari Anak Krakatau, Trintity lalu mengunjungi destinasi lain di Lampung, yakni pantai Karang Gigi Hiu di Pedagungan, Tanggamus, Lampung. Karang Gigi Hiu merupakan gugusan karang-karang kecil yang menjulang dengan ujung lancip seperti gigi hiu. Itulah sebabnya dinamakan Karang Gigi Hiu. Keindahan batu-batu karang ini terlihat terutama ketika deburan ombak menghantam, membuat air laut pecah berantakan.

Perjalanan Trinity berikutnya ke pusat konservasi gajah di Way Kambas Lampung. Di situlah ia bertemu dengan Paul, seorang fotografer yang sedang memandikan gajah. Paul tidak bersedia memberikan nomor teleponnya, tetapi dia berkata, “Jika kita berjodoh, suatu saat pasti akan bertemu lagi.”

Di mana petualangannya?

Sebagaimana dikatakan Trinity dalam dialog awal di film ini, yang membedakan turis dengan traveller adalah aspek petualangannya. Seorang traveller bukanlah turis yang datang ke tempat wisata untuk melihat keindahan dan merasakan kenyaamanan.

Bila melihat judul film ini yang menggunakan kata “Traveller”, mustinya ada gambaran petualangan seru dari tokohnya. Banyak hal-hal unik yang akan ditemui dan dirasakan ketika melalukan perjalanan. Ternyata harapan itu tidak terbukti. Akibat kelemahan skenario atau mungkin juga otoritas sutradara dalam

Menggambarkan perjalanan yang dilakukan Trinity, kesan petualangannya nyaris tidak muncul.

Di Lampung, Ramang-Ramang, dan Maldives, Trinity memang melakukan perjalanan sendiri. Tetapi gambaran yang terlihat, dia lebih mendekati seorang turis dibandingkan traveller, jika merujuk definisi traveller seperti yang dikatakan Trinity. Film ini tidak memperlihatkan bagaimana sulitnya seorang traveller, atau pengalaman-pengalaman unik yang tidak akan ditemui oleh seorang wisatawan biasa.

Perjalanan Trinity mulus-mulus saja. Dia melakukan perjalanan dengan pesawat, tidur di hotel, makan enak, pergi ke desinasi wisata tanpa terlihat ada persoalan-persoalan pelik yang dihadapi, atau kebingungan-kebingungan seorang traveller ketika datang ke tempat yang baru. Film juga kurang mengeksplorasi sentuhan Trinity dengan budaya, kuliner atau lingkungan setempat. Ketika Trintiy ke Way Kambas, hanya digambarkan secara verbal melalui dialog Trinity, bagaimana dan dengan apa dia sampai ke tempat itu.

Nuansa traveller sedikit tergambar ketika Trinity pergi ke Filipina. Tetapi itu pun berangkat dengan kedua teman dan seorang sepupunya. Yang merasakan keunikan selama di Filipina justru Ezra, sepupunya, di mana ia harus menikmati balut (telur berisi embrio itik yang dimasak), ketika ia nyasar dan bertemu dengan beberapa turis bule.

Trinity memang merasakan sensasi naik jipney (sejenis jip berbadan panjang yang dijadikan angkutan umum) atau diajak ngebut ketika naik bentor (becak motor). Itu pun bersama teman-temannya. Sedangkan perjalanan ke Maldives, meski dilakukan seorang diri, Trinity tak ubahnya seorang turis biasa yang menikmati keindahan dan kemewahan destinasi wisata. Bahkan perjalanan Trinity di Labuan Bajo hanya ditampilkan di bagian akhir film, berupa potongan-potongan gambar ketika Trinity berada di spot-spot menarik di Labuan Bajo.

Tagline “Ke mana kaki melangkah, rumahku Indoneaia” juga kurang tepat dipakai dalam film ini. Porsi terbesar cerita justru terjadi di Filipina dan Maldives.

Penulis skenario Rahabi Mandra dan pemilik kisah ini Trinity maupun Sutradara Rizal Mathovani gagal menggambarkan lika-liku perjalanan seorang “traveller”, karena harus kembali ke pakem film sebagai sebuah tontonan. Rizal nampaknya memilih genre komedi untuk filmnya ini, sehingga unsur itu yang lebih menonjol dibandingkan kisah petualangan seorang “traveller” dengan suka dukanya.

Kelebihan film ini adalah gambar-gambarnya yang bagus, yang mampu menampilkan sudut-sudut indah beberapa destinasi wisata yang ada di Indonesia. Tetapi ketika pengambilan gambar di luar Indonesia – Filipina dan Maldives – gerak kamera sangat terbatas, mungkin karena persoalan ijin atau kurangnya observasi terhadap tempat yang akan dijadikan lokasi syuting.

Maudy Ayunda cukup bagus bermain dalam film ini. Dia mampu memainkan adegan-adegan yang emosional. Tetapi peran Dewi Ayu terasa sangat menonjol. Dengan gaya komiknya, Ayu memperlihatkan sebuah akting berbeda yang bukan saja menggelitik, tetapi ikut menghidupkan scene-scene yang hanya dibuat di dalam ruangan.

Sebagai sebuah komedi ringan, film ini menarik. Tetapi untuk menggambarkan petualangan seorang traveller, film ini kurang berhasil.

 

 

 

Share This: