“Turah”: Kisah Pegulatan Hidup Manusia di Sebuah “Remote Area”.

_

Pembangunan di Indonesia saat ini gencar dilakukan di mana-mana. Infrastruktur baru yang gagah, tumbuh setiap hari. Namun pembangunan belum menyentuh ke semua wilayah di Indonesia. Masih banyak lapisan masyarakat yang belum menikmatinya. Warga Kampung Tirang adalah salah satunya.

Kampung Tirang, yang terletak tidak jauh dari hiruk pikuk geliat ekonomi di Tegal, Jawa Tengah, seperti sama sekali tidak tersentuh pembangunan. Kampung ini seperti sebuah dunia sendiri, terasing dari dunia lain (remote area).

Padahal Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang selalu terdengar riuh rendah oleh orang-orang di dalamnya, hanya sepelemparan batu jaraknya. TPI adalah simbol geliat ekonomi daerah. Uang berputar dengan cepat di situ.

Kampung Tirang dan TPI terpisahkan oleh tembok yang kokoh. Hanya ada sebuah rakit terbuat dari bambu dengan stirofoam di bawahnya, sebagai alat transportasi warga untuk melihat dunia luar, atau sebaliknya.

Kampung Tirang adalah sebuah “planet” lain yang dihuni oleh sekitar 10 Kepala Keluarga (KK). Di sanalah Turah dan isterinya, Kanti, tinggal. Lalu ada Jadag bersama isterinya Rum dan Roji anaknya.

Kemudian ada Sulis, remaja perempuan yang tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Selain mereka ada beberapa keluarga lain yang tidak menonjol peranannya.

Warga Kampung Tirang yang hanya 10 KK itu hidup dalam dunianya sendiri. Kampung yang mereka tempati adalah sebuah lahan yang terbentuk karena sendimentasi. Entah kenapa lahan itu kemudian diklaim sebagai milik Darso, juragan empang yang dianggap sebagai lelaki dermawan oleh sebagian besar warga Kampung Tirang.

Sebagian wilayah Kampung Tirang adalah tambak. Di situlah warga bekerja untuk menggantungkan hidup, Namun warga juga boleh melakukan kegiatan lain untuk mendapat tambahan, seperti Kandar yang memelihara kambing dengan sistem bagi hasil.

Darso adalah majikan mereka. Lelaki parlente itu mencoba menunjukan sisi humanis kepada penduduk Kampung Tirang, melalui pemenuhan kebutuhan hidup mereka, walau apa yang diberikan merupakan bagian dari upah penduduk yang bekerja dengannya.

Pakel, orang kepercayaan Darso menangani administrasi untuk mengatur penduduk, termasuk menentukan posisi dan besar kecilnya gaji mereka, sebagai pekerja di lahan milik Darso.

Siasat Darso sudah diketahui oleh Jadag, lelaki utopis yang sehari-hari suka mabuk dan mengecak kode buntut. Jadag tak segan-segan mengingatkan kecurangan Darso kepada penduduk. Jadag bahkan berani menantang Pakel dan mengecam Darso secara terbuka.

Berbahasa Daerah

Disutradarai oleh Wicaksono Wisnu Legowo, Turah merupakan film keempat yang mengangkat sisi kehidupan suatu daerah, dan menggunakan bahasa daerah itu sendiri (bahasa Jawa dialek Tegal, yang biasa disebut ngapak).

Sebelumnya ada Siti (Jawa Tengah), Uang Panai (Makassar),  dan Surau dan Silek (Padang). Masih ada beberapa film daerah yang menggunakan bahasa daerah yang telah dan akan diproduksi. Salah satunya Parakkang (Makassar)

Bagi Fourcolors Film, Turah merupakan film kedua setelah Siti (Eddy Cahyono) yang menggunakan bahasa Jawa.

Apresiasi untuk Ifa Isfansyah dan kawan-kawan yang berani mengangkat muatan lokal dan bahasa daerah dalam film-filmnya, di mana selera masyarakat mulai terbentuk dengan tema dan warna kebarat-baratan dalam film Indonesia. Sehingga film berwarna kedaerahan, masih sangat sulit diterima oleh masyarakat penonton Indonesia yang sangat heterogen.

Kecuali Uang Panai yang menjadi sukses di daerahnya, belum ada film Indonesia berwarna kedaerahan yang berhasil menggaet penonton menggembirakan dalam peredaran.

Meskipun Turah sangat kental warna dan muatan lokalnya, film enak ditonton. Dramaturgi yang menjadi bahasa universal sebuah film, mampu merobohkan sekat-sekat antara penggunaan dialog dalam film dengan penontonnya. Jadi bagi penonton yang tak bisa berbahasa Jawa Tegal, tak perlu risau, apalagi film ini diberi teks bahasa Indonesia. Penggunaan dialek Tegal justru memberikan sensasi tersendiri.

Turah mencoba memotret kehidupan orang-orang pinggiran di kawasan remote area. Umumnya mereka adalah orang-orang yang melihat kehidupan dengan sederhana: bagaimana bisa bekerja untuk melanjutkan hidup, tanpa harus mengeluh atau protes.

Karakter setiap tokoh penting dalam film ini sangat kuat. Para pemain begitu menjiwai karakter yang diperankannya, di samping faktor penyutradaraan dan skenario yang ditangani oleh Wicaksono Ayu Legowo, juga sangat menentukan.

Merekrut para pemain yang berlatarbelakang teater untuk membintangi film ini juga sebuah pilihan yang tepat. Setiap pemain mampu menjiwai karakter tokoh yang menjadi tanggungjawabnya. Apalagi mereka adalah para pemain lokal yang sangat fasih dengan bahasa dan idiom-idiom setempat. Jika peranan diberikan kepada aktor-aktor terkenal yang sudah dikenal sebagai selebritis, hasilnya tentu akan beda. Kesan artifisial film ini mungkin akan sangat kuat.

Apa adanya.

Kisah Turah berlangsung di sebuah perkampungan kumuh. Rumah-rumah gubuk yang sempit, reyot, dan sangat tidak layak untuk dihuni. Di sanalah Turah (diperankan oleh Ubaidillah) hidup bersama Kanti (Narti Diono), isterinya. Pasangan ini tidak memiliki anak, karena Kanti khawatir dengan masa depan anaknya – jika ia memiliki anak – mengingat kehidupan mereka yang miskin.

Turah bertetangga dengan beberapa keluarga miskin lainnya. Salah satunya Jadag (diperankan dengan baik sekali oleh Slamet Ambari), lelaki beranak satu, dan isterinya Rum (Cartiwi) yang sedang hamil besar. Jadag adalah seorang utopis, hampir setiap hari mabuk dan mengotak-atik kode buntut.

Jika mabuk ia meracau tak karuan, suka protes dan mengasut warga untuk melawan Darso, pemilik tambak dan tanah yang ditempati warga. Menurut Jadag, tanah yang menjadi Kampung Tirang terbentuk karena sedimentasi. Atas dasar apa orangtua Darso bisa memilikinya, gugat Jadag.

Jadag dalam film ini merupakan seorang antagonis yang kerap membuat masalah. Dalam keadaan mabuk dia bisa ribut dengan siapa saja: dengan isterinya sendiri, dengan Pakel , orang kepercayaan Darso yang dibencinya, dengan Turah yang dituding telah menyebarkan gossip perselingkuhannya dengan isteri Darso, bahkan dengan Darso sendiri.

Pangkal kebenciannya terhadap Darso karena juragan tambak itu lebih mempercayai Pakel ketimbang dirinya, padahal ia sudah lama bekerja dengan Darso, dan gajinya tidak naik-naik.

Di antara para tokoh itulah kisah dalam film ini bergulir. Alurnya berjalan lancar. Sambil memperlihatan sisi-sisi dramatik, penggambaran karakter setiap tokoh diurai dengan jelas. Darso (Yono Daryono) dengan pakaian yang necis bercapio (topi mirip cowboy), digambarkan sebagai sosok juragan bagi warga Kampung Tirang. Lagaknya seperti dermawan, seolah perduli dengan warga kampung, walau pun ia “memeras” warga seperti tudingan Jadag.

Sedangkan Pakel (Rudy Iteng), orang kepercayaan Darso, adalah tipe manusia licik yang berhasil memanfaatkan kepercayaan sang majikan terhadap dirinya, untuk keuntungan pribadi. Pakel yang seorang sarjana menentukan posisi pekerjaan dan besarnya gaji warga yang bekerja kepada Darso. Dari gayanya berpakaian, Pakel terkesan sudah menikmati keberhasilan ekonomi.

Sebuah perkampungan yang kumuh dan nyaris terisolir dari dunia luar, sangat jelas tergambar dalam film ini. Lokasi yang dijadikan Kampung Tirang adalah kondisi asli, apa adanya. Panata artistik tidak perlu bersusah payah membuat set. Bahkan pengambilan gambar film ini seperti menghindari penggunaan lampu berdaya besar. Pencahayaan hanya mengandalkan cahaya alami, atau cahaya lampu sangat minim, yang menjadi bagian dari cerita — kecuali ketika mengambil gambar kamar tidur Jadag dan keluarganya. Itupun terasa menjadi aneh.

Film ini memberi pesan kuat, bahwa cerita tentang kehidupan di kawasan remote area merupakan realita yang masih banyak ditemui. Di kawasan seperti itu, masyarakat hidup dengan aturan dan hukum sendiri. Mereka bahkan tidak merasakan kehadiran negara.

Negara hadir ketika membutuhkan rakyat, seperti menjelang pemilu, yang digambarkan dengan kedatangan dua pegawai sensus ke rumah Turah. Ketika isteri Turah menyampaikan keluhan sebagai warganegara, petugas sensus itu dengan ringan mengatakan, “Bukan urusan kami!”, lalu pergi.

Agama, bagian yang penting dalam hidup manusia di Indonesia, juga tak berarti apa-apa bagi warga Kampung Tirang. Tidak ada tempat ibadah dan tidak ada satu scene pun yang menggambarkan warganya menjalankan ritual keagamaan. Agama terasa jauh. Digambarkan dari suara orang mengaji di pengeras suara yang terdengar dari wilayah seberang.

Bagi warga Kampung Tirang – kecuali Jadag – hidup adalah bekerja pada Darso, dan menerima apa pun yang diberikan sang majikan, meskipun hidup mereka seperti mesin genset di kampung itu yang harus berulangkali diotak-atik agar bisa berfungsi.

Di tengah komunitas seperti itu kematian merupakan hal biasa. Banyak mayat yang ditemukan di sungai, lalu warga menguburkannya tanpa upacara atau melapor ke polisi. “Daripada bau,” kata Jadag. Dan petugas kepolisian yang mendapat laporan pun hanya formalitas saja datang, bertanya alakadarnya, tanpa berusaha untuk menyelelidiki lebih jauh.

Film ini sendiri dibuka dengan suara loudspeaker yang mengumumkan kematian seorang anak karena bermain di kali.  Intonasinya datar.

Bagi warga, bisa tinggal di Kampung Tirang, bisa bekerja dan makan sudah cukup. Mereka tidak punya impian lain. Darso menikmati kepasrahan warga.

Namun film ini juga ingin mengingatkan, seperti apapun sulitnya hidup, manusia tetap memiliki impian untuk meraih kehidupan yang lebih baik ke depan. Bekerja dengan tekun tanpa mengeluh seperti yang diperlihatkan Turah; Sulis yang suka menabung, Kandar dengan memelihara kambing; atau bahkan Jadag yang suka memegang kode buntut dan ingin memberontak dari Darso. Semua adalah gambaran untuk memperbaiki hidup.

Satu-satunya duri di kampung itu adalah Jadag. Baik bagi Darso, Pakel, maupun sebagian warga. Suatu malam, di tengah hujan lebat, sejumlah orang menghabisi Jadag. Turah yang menjadi saksi mata dalam peristiwa itu, memilih mengajak isterinya pergi meninggalkan kampung.

Kematian Jadag juga bukan sesuatu yang menghebohkan bagi warga. Mereka hanya menonton mayat Jadag yang tergantung di pohon besar. Bahkan Roji (Muh Riziq) anak semata wayang Jadag yang berusia sekitar 10 tahun, juga biasa-biasa saja memandangi mayat Jadag, tanpa tangis atau ekspresi kesedihan. Ia yang telah meninggalkan Kampung Tirang bersama ibunya sebelum kejadian, datang hanya untuk “menonton” mayat ayahnya, lalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa. Pergumulan hidup, membuat batin warga Kampung Tirang mengeras.

Kematian Jadag mengakhiri drama kehidupan di Kampung Tirang, sekaligus mengakhiri cerita dalam film berdurasi 83 menit. Siapakah pemenang dalam film ini? Tidak ada.

Bahkan Darso yang digambarkan menguasai hajat hidup warga Kampung Tirang, telah “dikalahkan” oleh Jadag sang pecundang. Ternyata Darso lelaki impoten. Ilah isterinya yang suka dandan seperti artis, telah ditiduri oleh Jadag – seperti pengakuan Jadag kepada Turah ketika sedang mabuk.

Film ini ditutup tanpa suara sedikitpun. Bahkan pada kredit titel, tak diberi suara sedikit pun. Tanpa musik. Seakan sutradara ingin mengajak penonton untuk merenungi cerita film ini, merenungi nasib orang-orang kalah melalui sebuah happening art.

Share This: