TVRI Menuju Perubahan yang Nyata

Dirut TVRI Helmy Yahya dan Anggota III BPK Achsanul Qosasih (kanan) - Foto: HW
_

Selama bertahun-tahun – terutama di masa Orde Baru – Televisi Republik Indonesia (TVRI) dikenal sebagai lembaga penyiaran yang korup, lemah etos kerja karyawannya, sehingga ketika muncul televisi swasta, TVRI menjadi paria.

Dengan karyawan berjumlah ribuan, asset tersebar di seluruh Indonesia, TVRI kemudian menjadi beban negara, karena sebagai televisi pemerintah, negara harus membiayai seluruh kebutuhannya, mulai dari gaji karyawan, pembelian aset, pemeliharaan peralatan dan lain sebagainya.

Anggaran negara itu rupanya membuat jajaran direksi hingga karyawan terlena. Tapi membuat program berkualitas pun mereka tetap mendapat gaji karena ditopang oleh negara.

Tidak sampai di situ, asset yang ada justru dimanfaatkan oleh begitu banyak oknum di TVRI untuk keuntungan pribadi. Alhasil sudah program yang dibuatnya tidak menarik, TVRI juga dikenal sarang koruptor, meski pun kecil-kecilan.

Namun era itu nampaknya sudah berlalu. Sejak jabatan Direktur Utama dipegang oleh Helmy Yahya, TVRI mulai berbenah. Tidak hanya mengganti logo dan seragam karyawan, tetapi etos kerja dan semangat untuk menghasilkan program-program menarik, terus dilakukan.

“Ketika saya masuk ke sini tadi, Satpam bertanya kepada saya mau ke mana. Ketika saya bilang mau ke tempat ini, mereka menunjukkan ke mana saya harus pergi. Itu memang tindakan kecil, tetapi sebuah kemajuan menurut saya. Kalau dulu, bila kita datang ke TVRI, paling mereka hanya menyuruh kita ke tempat parkir,” kata Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang hadir dalam acara tasyakuran TVRI karena meraih Opini Wajar Tanpa Pengacualian (WTP) dari BPK di loby TVRI, Senin (17/6/2019).

 

Achsanul juga melihat TVRI yang dulu semrawut, kini mulai bebenah memperbaiki diri. Semua asset yang dulu dibiarkan tanpa pencatatan, apalagi pelaporan, kini sudah dicatat dengan baik. Dia berharap TVRI akan terus semakin baik, dan bisa membuat program-program berkualitas ke depan.

 

“Yah, mudah-mudahan dari penghematan-penghematan yang dilakukan, TVRI bisa menyiarkan liga Inggris ke depan,” katanya.

 

 

Program berkualitas

Menurut Dirut TVRI Helmy Yahya,  reformasi birokrasi dan rebranding TVRI adalah prioritas yang telah dimulai tahun lalu dan ditingkatkan tahun ini untuk mengejar percepatan dalam transformasi di lingkungan LPP TVRI. Peningkatan kedisiplinan pegawai dan peruban layar sudah mulai tampak, serta kepedulian masyarakat juga semakin meningkat dengan adanya berbagai kritik dan saran tentang program acara yang ditayangkan oleh TVRI.

Hadirnya siaran olah raga bulutangkis dan bola dunia merupakan awal kembalinya TVRI menjadi TV Publik yang menyediakan siaran berkualitas untuk masyarakat. Kesuksesan menyelenggarakan Debat Calon Presiden. Siaran Pemilu dan menjadi TV Pool pada berbagai kegiatan kenegaraan juga menunjukkan kembalinya kepercayaan stake holder kepada TVRI.

“Insya Allah pada perayaan 17 Agustus mendatang TVRI kembali dipercaya sebagai tv Pool oleh pemerintah. Semua ini karena peralatan kamera dan pemancar kami yang di Jakarta terbaik di antara tv lain ” tegas Helmy.

Berkat raihan predikat opini WTP,  Komisi I DPR RI menaikkan anggaran Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI sebesar Rp 224 miliar. Sebelumnya, anggaran LPP TVRI hanya mendapat dana Rp 950 miliar.

“Kenaikan dana sekarang Rp 224 miliar, jadi total anggarannya Rp 1,3 triliun setelah laporan keuangan LPP TVRI sudah dinyatakan WTP,” kata Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari saat syukuran dalam rangka perolehan Opini WTP LPP TVRI.

WTP menjadi penanda prinsip-prinsip keuangan TVRI sudah sesuai, serta tidak ada salah saji material. “Kepercayaan pertama kali dari komisi I, wujudnya dari pagu indikatif tidak ada yang dicoret. Namun tetap secara keseluruhan dibahas secara utuh,” papar Helmy.

 

 

 

 

Share This: