Ucup, Menyulap Sepatu Butut Jadi “Baru”

Ucup setiap hari berkeliling untuk memperbaiki sepatu (Foto: HW)
_

Ucup beristirahat di trotoar (Foto: HW)
Kini sepatu bukan lagi benda aneh bagi masyarakat di Indonesia. Hampir semua aktivitas masyarakat di luar rumah selalu memakai sepatu. Selain untuk menjaga agar kaki terlindung dari benturan benda keras, terantuk misalnya, sepatu juga menjadi bagian dari gaya hidup, mode untuk mempercantik penampilan. Sepatu memberi nilai tambah bagi penampilan seseorang.

Namun bila sering digunakan, sepatu akan mudah rusak, terutama bila digunakan terus menerus oleh pejalan kaki, sehingga sering bergesek dengan tanah, lantai atau aspal jalan, yang menyebabkan sol sepatu menipis, lalu rusak. Warna sepatu pun akan memudar.

Bila hanya bagian bawahnya saja yang rusak, jangan buru-buru dibuang sepatu Anda. Setidaknya begitu pesan Ucup, lelaki asal Desa Wanayasa, Garut, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tambal (sol) sepatu.

“Kalau cuma rusaknya sedikit masih bisa diperbaiki. Kalau rusak berat, atasnya masih bagus, tinggal diganti aja bagian bawahnya. Kan lumayan daripada beli yang baru,” kata Ucup ketika ditemui tengah beristirahat di pinggir jalan Otto Iskandardinata, Jakarta Timur, baru-baru ini.

“Capek Kang, kurilingan seharian. Meni leleus (lemes),” kata Ucup ketika ditanya mengapa duduk di pinggir jalan.

Ketika itu hari menjelang sore, Ucup tengah berjalan kaki menuju tempat kontrakannya di kawasan Kampung Melayu, setelah seharian berjalan untuk menjual jasa memperbaiki sepatu. Setiap hari, lelaki berusia 60 tahun ini selalu mengitari wilayah operasinya di sekitar Jatinegara. Dari kontrakannya di Kampung Melayu, langsung menuju kawasan Pasar Gembrong yang terletak di pinggir Jl. Basuki Rahmat Jakarta Timur dari sana dia menuju kawasan Cipinang Cempedak, lalu masuk ke Jalan Pedati hingga menjelang sore, lalu berjalan menuju rumah kontrakannya. Begitu setiap hari.

Tentu saja untuk menuju rute yang dilaluinya setiap hari itu dilakukan dengan berjalan kaki, sambil memikul dua buah kotak kayu kecil berisi peralatan untuk memperbaiki sepatu, termasuk stok sol sepatu imitasi yang baru.

Ucup memasang tarif Rp.20 ribu untuk memperbaiki sepatu dengan kerusakan kecil. Tetapi bila harus mengganti sol, tarifnya mencapai Rp.50 ribu. Dari pekerjaannya itu sehari ia bisa membawa pulang uang Rp.100 ribu – Rp.150 ribu. Uang itu dikumpulkan, setiap minggu dibawa pulang ke kampungnya di Garut.

“Seminggu sekalilah pulang ke kampung. Naik mobil dari Kampung Rambutan enampuluh ribu sampe Garut,” katanya. “Sekarang mah cepet ke kampung teh. Sejak ada tol Cipularang, tiga jam sudah sampe Garut.”

Ada atau tidak ada uang lebih, Ucup mengaku harus pulang ke kampungnya karena semua keluarganya di kampung. Mulai dari isteri, enam orang anak dan lima cucu, semuanya tinggal di kampung. Jika mulai musim tanam, dia agak lama di kampung, untuk menamai padi di sawahnya.

“Tidak luas sawah say amah. Yah paling cuma tigaribu meter. Enggak sampe sehektar. Buat makan ajalah hasilnya,” kata Ucup.

Jika mendapat rejeki lebih, ia langsung pergi ke bank untuk mengirim yang kepada keluarganya di kampung, seperti sehari sebelum bertemu balaikita, menurutnya, ia mendapat rejeki yang lumayan, karena hampir semua polisi di sebuah asrama yang terletak di Jalan Otista, memperbaiki sepatunya.

“Langsung saya ke bank. Kirim uang ke rumah,” ujarnya sambil tersenyum.

Ucup tidak tahu sampai kapan ia akan bekerja sebagai tukang sol sepatu. Ia merasa tenaganya sudah jauh berkurang. Dalam sehari ketika berkeliling, ia harus beristirahat beberapa kali. “Apalagi kalau kena hujan, cepat sakit!” katanya.

Memperbaiki sepatu adalah satu-satunya keahlian yang bisa dilakukan selain bertani. Jika tidak kuat lagi berkeliling untuk mencari konsumen, Ucup berencana ingin kembali ke kampung, bertani mengolah sawahnya yang tidak seberapa.

“Alhamdulillah anak-anak sudah berkeluarga semua. Kewajiban saya mengurus isteri di rumah. Kadang anak sama cucu juga suka datang. Lumayan, cucu jadi hiburan,” kata Ucup sambil menerawang. Pandangannya jauh ke depan. Entah apa yang dilihat. Ketika balaikita pamit, dia masih duduk karena merasa masih capek.

Share This: