UIA Sebaiknya Tidak Menilai Aspek Teknis Film

Wartawan senior JB Kristanso (kanan), menerima Piala UIA 2017 dari Ketua Panitia Pelaksana UIA 2017 Soni Pujisasono, di Gedung Sinematek PPHUI Jakarta, Rabu (3/4/2017) siang. - Foto: HW
_

Keahlian wartawan dalam melihat sebuah film biasanya pada  aspek cerita, tematik maupun kemampuan seni peran pemain, tetapi tidak mencakup hal-hal teknis seperti tata suara, fotofrafi, atau editing. Karena itu jika wartawan terlibat dalam penjurian sebuah festival, apalagi peran wartawan sangat dominan, maka penilai terhadap hal-hal teknis dihindari.

Hal itu disampaikan olah wartawan senior JB Kristanto ketika datang untuk mengambil piala yang diraihnya dalam ajang Usmar Ismail Award (UIA) 2017, yang diadakan di Jakarta tanggal 29 April 2017 lalu. Oleh Dewan Juri UIA yang terdiri dari kalangan wartawan,

Kris mendapat penghargaan live achievement.
Mantan wartawan harian Kompas yang kini mengelola situs film filmindonesia.or.id itu, menilai teknis sebuah film bukanlah persoalan gampang, apalagi bagi wartawan yang tidak belajar khusus tentang teknis tertentu dalam film.

“Bagaimana kita menilai editing sebuah film, sementara belajar editing saja tidak. Begitu juga tentang fotografi. Kalau kita memenangkan seorang Penata Kamera, tetapi di kalangan penata kamera sendiri karya itu dinilai kurang bagus, kan jadi tidak enak,” katanya.

Kris JB, begitu ia biasa dipanggil, sebaiknya Dewan Juri UIA yang terdiri dari para wartawan mempelajari pedoman penilaian dalam Golden Globe, karena di sana pedoman-pedomannya jelas. Begitu pula dalam pemberian nilai untuk film-film maupun kategorinya.

Kris JB yang pernah beberapa kali menjadi juri dalam Festival Film Indonesia mengatakan tidak ada kompetensi khusus bagi wartawan untuk menjadi seorang juri dalam festival film.

“Jadi saja warawan film yang baik, banyak membaca buku film dan menonton film. Tidak perlulah harus belajar ini itu yang bersifat teknis, karena itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit,” ujarnya.

Untuk menilai film-film yang akan jadi peserta, ke depan Kris menyarankan agar panitia bekerjasama dengan produser, lalu memasukan film-film yang akan dinilai ke dalam situs khusus sehingga tidak bia dikopi.

“Mengingat karakter kerja wartawan yang tidak terikat harus berdiam di satu tempat dalam waktu yang lama, sistem itu perlu dilakukan, agar wartawan juga bisa menonton di mana saja, terutama di rumah,” tambah Kris JB.

Usmar Ismail Award 2017 telah berlangsung tanggal 29 April 2017 lalu di Balai Kartini Jakarta. “Asiyah” terpilih sebagai Film Terbaik. Gunawan Mulyanto (istirahatlah Kata-kata) dan Cut Mini (Athirah) menjadi Aktor dan Aktris Terbaik.

Berikut Daftar Lengkap Pemenang UIA 2017:

1. Film Terbaik: Aisyah Biarkan Kami Bersaudara
2. Sutradara Terbaik: Yosep Anggi Noen (Istirahatlah Kata-kata)
3. Aktor Terbaik: Gunawan Maryanto (Istirahatlah Kata-kata)
4. Aktris Terbaik: Cut Mini (Athirah)
5. Aktor Pendukung: Arie Kriting (Aisyah BKB)
6. Aktris Pendukung: Lydia Kandau (Aisyah BKB)
7. Penata Kamera: Faozan Rizal (Salawaku)
8. Penulis Skenario: Jujur Prananto (Aisyah BKB)
9. Penyunting: W. Ichwandiardono (Ada Apa Dengan Cinta? 2)
10. Penata Artistik: Eros Eflin (Athirah)
11. Penata Suara: Khikmawan Santosa, Satrio Budiono, Chris David (Rudy Habibie)
12. Penata Musik: Anto Hoed & Melly Goeslaw (AADC?2)
13. Penggubah Lagu: Anto Hoed & Melly Goeslaw (AADC?2)
14. Penghargaan Khusus Dewan Juri: Pantjasila: Cita-cita & Realita
15. Lifetime Achievment: JB Kristanto
16. Aktris Favorit Pemirsa: Bunga Citra Lestari
17. Aktor Favorit Pemirsa: Reza Rahadian
18. Film Favorit Pemirsa: My Stupid Boss

Share This: