Ulama Perempuan Bisa Muncul, Meski Terbelenggu.

Kyai Helmi Ali (baju putih) bersama Ratna Batara Murti (jilbab merah), Prof. Nurjanah Ismail (jilbab putih), Nyai Rokayah (kanan) dan moderator Frha Ciciek (paling kiri) dalam acara bedah buku yang menjadi bagian dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pesantren Kebon Jambu Cirebon, Kamis (27/4/2017) - Foto: HW.
_

Masyarakat pada umumnya pasti mengenal nama Cut Nya Dhien, pahlawan wanita Aceh. Tetapi apakah masyarakat juga mengenal Teuku Hanisah? Sebagian kecil masyarakat di Aceh mungkin kenal, tetapi masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mengenal nama itu.

Teuku Hanisah adalah seorang pejuang perempuan masa kini yang pernah terusir dari dayahnya sendri, karena melakukan kegiatan yang tidak lazim di masyarakatnya. Ia menggunakan dayahnya sebagai shelter (tempat perlindungan) bagi perempuan dan anak korban kekerasan dari dayah-dayah yang lain.

Wanita yang dikenal dengan panggilan Umi Hanisah itu sangat kritis pada masalah perempuan, misalnya pada isyu nikah sirri yang menurutnya merugikan perempuan.

Umi Hanisah hanyalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang telah memiliki kesadaran gender, yang selalu berusaha memperjuangkan haknya. Dan bahkan di masa lalu banyak ulama perempuan yang juga mengajar laki-laki. Tetapi seiring perkembangan jaman, peran perempuan terus dipinggirkan karena alasan kultural dan struktural.

“Peminggiran perempuan terjadi terus menerus pada jaman Orde Baru, walau Pada masa Orde Baru itu muncul gerakan-gerakan perempuan,” kata Kyai Helmi Ali, dalam diskusi membedah buku Jejak Perjuangan Keulamaan Perempuan Indonesia yang menjadi bagian Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamiy, Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (27/4/2017).

Selain Kyai Helmi Ali pembicara lain dalam bedah buku itu adalah Prof. Dr. Nurjanah Ismail dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Ratna Batara Murti dari LBH APIK, dan Nyai Rokayah, seorang mubalighoh yang pernah menjadi korban KDRT. Bedah buku ini dimoderatori oleh Farha Ciciek.

Menurut Kyai Helmi Ali, dalam “belenggu” yang dialaminya ulama perempuan tetapi berusaha untuk mengembangkan potensinya, misalnya dengan mendirikan lembaga pendidikan untuk perempuan dan membela hak-hak kamu perempuan.

“Pada dasarnya ulama perempuan yang ada dalam buku ini tampil dalam missi dan konsep yang jelas. Sebagian tidak menuliskan pengalamannya, tetapi kelihatan dalam perbuatan,” kata Kyai Hilmy Ali.

Prof. Dr. Nurjanah Ismail mengatakan, ulama perempuan memang cenderung tidak diakui, tapi perbuatannya sangat berpengaruh dalam masyarakat.
Di Aceh ada ulama perempuan yang disebut Teuku Inang. Teuku Inang, adalah orang yang mendidik masyarakat anaknya untuk mengetahui agama sejak dari awal. Jadi banyak imam besar kita yang berguru pada Teuku Inang.

Sayangnya karena pengaruh budaya patriarki, Teuku Inang yang sudah berkiprah di masyarakat, ketika dia menikah kebetulan suaminya Teuku, ulama laki-laki, jadilah dia Inang Teuku, isteri ulama. Sayangnya tidak semua ulama mengekiskan isterinya menjadi ulama. Aktivitas Teuku Inangnya padam. Banyak ulama hanya ingin agar isterinya melayani suami.

“Kebanyaan ulama lelaki tidak suka menikah dengan perempuan pintar, tapi menikah dengan yang cantik. Cantik tapi tidak diimbangi dengan kepintarannya,” kata Prof. Nurjanah.

Ratna Batara Murti dari LBH APIK mengatakan, pasca reformasi dengan desentralisasi era otonomi daerah, mereka muncul Perda-Perda (Peraturan Daerah) bernada syariah yang kembali menjadikan perempuan sumber fitnah. Perempuan dilarang ke luar tanpa muhrim, dicurigai pulang malam dianggap prostitusi. Stigma itu begitu kuat.

“Kita mendorong UU Perkawinan karena ada poligami. Bias gender yang dialami kamu perempuan, itulah konteks lahirnya buku ini,” kata Ratna.

“Banyak aturan-aturan yang mendiskriminasi perempuan. Konteks itu semakin dipertajam, contohnya dalam Pilkada DKI baru-baru ini, Islam dipolitisasi sehingga orang tidak perduli dengan program tapi pada isyu-iysu agama,” katanya.

Buku “Dari Inspirasi Menjadi Harapan” yang ditulis oleh Ratna Batara Murti dan Nursyahbani Katjasungkana, mengangkat kisah 6 perempuan muslim yang bergelut dala pesantren yang konservatif. Mereka bukan saja berhasil membebaskan dirinya, tapi berhasil memberdayakan lingkungannya. Tiga orang dari tokoh dalam buku itu ini adalah survivor, korban Merarik di NTB, korban perkosaan,

Pembicara lainnya, Nyai Rokayah, adalah seorang mubalighoh yang pernah mengalami KDRT. Dijodohkan sejak usia 13 tahun, bercerai, lalu menikah dengan seorang intelektual yang kemudian menjadi anggota DPR, tetapi gemar melakukan KDRT, terutama sejak berpoligami.

“Saat ini saya ingin mengatakan, orang di pesantren belum tentu aman, perempuan belum tentu lemah, dan seorang intelektual itu belum tentu bertindak bijak. Mudah-mudahan kita tidak hanya jadi ulama yang berbicara, tetapi yang melakukan bagi masyarakat,” tandas Rokayah.

Share This: