UNPF – GKR Hemas Bahas Angka Kematian Ibu Melahirkan

_

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonsia masih sangat tinggi. Angka kematian ini berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara target AKI di tahun 2015 adalah 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Jadi, target angka ini masih jauh dari yang harus dicapai.

AKI sebesar 359 ini, 82 persennya terjadi pada persalinan ibu berusia muda, 14-20 tahun.

Untuk mebahas tingginya angka kematian ibu melahirkan, United Nations Fund for Population Activities (UNFPA) bertemu dengan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan perwakilan dari DPR.

Dalam pertemuan kali ini hadir Wakil Ketua DPD RI, periode 2014-2019 GKR Hemas,  ditemani oleh Anggota DPR Komisi VIII Fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.

Yorikho Yasukawa, Regional Director Asia Pasifik UNPFA mengungkapkan kunjungannya ke Indonesia kali ini untuk melihat masalah di Indonesia khsususnya Wanita terkait dengan kesejahteraan, keadilan, pendidikan hingga kesehatan.

“Pada saat yang bersamaan, kita juga ingin bekerja dengan semua masyarakat dan pemimpin Indonesia untuk menyelesaikan maslaah yang ada di Indonesia seperti contohnya kematian ibu,” ungkapnya kepada balaikita di Lantai 17 Gedung Nusantara I, Jakarta, Kamis (20/4/2017).

Yoriko menjelaskan, pertemuannya dengan perwakilan Anggota DPD dan DPR kali ini untuk menekankan cara mengatasi angka kematian pada wanita Indonesia akibat kualitas pelayanan yang diberikan oleh bidan pada saat kehamilan atau kelahiran yang dilihat masih sangat kurang.

Menurut Yoriko, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan pemerintah untuk memastikan peningkatan kualitas pada bidan melalui kegiatan training.

“Nantinya kita akan berkerja sama dengan Asosiasi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk bersama-sama memikirkan, bagaimana meningkatkan kapasitas para bidan. Selain itu juga kami menggandeng parlemen Indonesia untuk mengembangkan kebijakan-kebijakan terkait dengan penurunan angka kematian ibu saat melahirkan,” bebernya.

Direktur Regional Asia-Pasifik menambahkan,  pihaknya akan membina kerjasama antarnegara Asean, untuk memastikan standar yang sama, yang nantinya akan digunakan oleh IBI untuk menekan angka kematian ibu.

“Ini sebagai rujukan untuk Indonesia dan negara ASEAN lain, bagaimana meningkatkan kapasitas bidan dan memastikan perempuan dapat perlindungan dari kematian,” bebernya.

Salah satu faktor yang angka kematian ibu saat melahirkan tinggi adalah masalah pendidikan dari si Ibu. Oleh karenanya, dirinya pun juga akan concern untuk memperbaiki pengetahuan para wanita mengenai usia ideal menikah.

“Banyak perempuan ina gadis sudah menikah muda itu salah satu sumber kematian juga, dan kalau mereka terlalu muda sangat berbahaya bagi gadis-gadis itu karena badannya belum siap, itu resiko. Ketika mereka hamil terlalu muda akan meninggalkan sekolahnya mereka akan kurang pendidikannya itu prakteknya harus diubah. Perempuan harus terima pendidikan,” tukasnya.

Share This: