Untaian Keindahan Alam Banyuwangi Dalam “Kidung Volendam”

Penambang belerang di Kawah Ijen, Banyuwangi. (Foto: HW)
_

Kidung Volendam, sebuah novel karya Halimah Munawir menceritakan tentang romantika cinta antar dua manusia namun kental dengan budaya dan juga memaparkan destinasi wisata di kota Banyuwangi.

Sang penulis yang sudah menerbitkan 3 buah buku, The Sinden (2011), Sucinya Cinta Sungai Gangga (2013), dan Sahabat Langit (2014) selalu mengemas tulisan dengan bahasa yang lugas, lincah dan syarat dengan moral dan kritik sosial. Kidung Volendam merupakan karya teranyarnya yang diterbitkan di tahun ini.

Kawah Ijen dan keindahan alam Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata yang sudah mendunia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari novel ini dan juga merupakan salah satu upaya mempromosikan pariwisata Indonesia.

Terkait dengan hal tersebut, Halimah mengungkapkan bahwa tidak menutup kemungkinan akan ada dukungan pemerintah Jawa Timur khususnya namun dalam setiap karya yang ditampilkan ia tidak pernah mengharapkan hal itu.

“Motto saya berusaha independen, berusaha melakukan sekecil apapun sendiri untuk negara termasuk usaha saya dengan menulis,” ujar perempuan yang masuk dalam daftar 99 Wanita paling berpengaruh di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007 dalam acara peluncuran bukunya Senin (22/1).

Walaupun dalam penulisannya Halimah selalu bermodal imajinasinya, namun buku ini juga mengemban nilai-nilai budaya antar negara dimana sarat akan edukasi dan juga moral agama.

“Saya selalu menggali informasi dari manapun dalam menuliskan sebuah buku, meskipun saya tidak harus datang ke tempat tersebut. Karena ini menyangkut sejarah kedua negara, kesulitannya saya selalu membicarakan hal-hal yang akan saya tuliskan dengan orang-orang terkait. Banyak bertanya juga kepada teman ataupun mencari data yang ada,” ungkap penulis yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di Sungai Gangga tapi dengan imajinasinya mampu merangkai sebuah cerita, begitupun yang dilakukannya di buku Kidung Volendam.

Hal ini dibenarkan oleh Dr. Dewi Motik Pramono tentang gaya penulisan Halimah “Kekuatan dalam buku ini adalah imajinasi sang penulis, sebagai contoh saya sudah puluhan kali ke sungai Gangga tapi tidak bisa membuat cerita seperti yang dilakukan Halimah di novel sebelumnya begitupun di Kidung Volendam ini,” ujarnya di kesempatan yang sama.

“Saya mempersembahkan buku ini sebagai bukti kecintaan saya terhadap Indonesia,” ucap Halimah menutup pembicaraan. (Dewi)

Share This: