Upaya Wayang Merangkul Generasi Jaman “Now”

Wayang Golek (Foto: HW)
_

Sejak beradab-abad lalu wayang merupakan jenis kesenian yang sangat digemari oleh sebagian masyarakat di Indonesia, khususnya di Jawa. Di Jawa Barat ada Wayang Golek, di Jawa Tengah atau Timur lebih menyukai Wayang Kulit. Meski pun wayang berasal dari India, dengan berbagai inovasi, wayang sudah dianggap sebagai kesenian tradisional. Di tanah Jawa dulu, wayang digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam. 

Para pengurus organisasi dan para pakar perwayangan berkumpul di Gedung Kautamaan Perwayangan TMII Jakarta, Selasa (27/2/2017) – Foto: HW

Namun jaman terus berubah. Begitu pula citarasa generasi di dalamnya terhadap kesenian. Oleh sebagian besar anak muda, wayang dianggap sebagai kesenian Jaman Old yang tidak menarik lagi. Bahkan mayoritas generasi Jaman Now dipastikan sudah tidak menonton lagi kesenian wayang. Cerita perwayangan yang mengangkat kisah Mahabharata, sudah dianggap usang, meski pun memiliki filosofi yang sangat mendalam.

Bergesernya selera anak muda jaman now ke kesenian pop, tentu akan mengancam Kesenian Wayang di masa depan. Penggemar wayang saat ini adalah orang-orangtua yang tidak akan lama lagi menghuni dunia. Jika mereka tidak ada, siapa lagi yang akan menonton wayang?

Melihat fenomena itu, lima organisai perwayangan di Indonesia: SENAWANGI (Sekretariat Nasional Perwayangan Indonesia ), PEPADI (Persatuan Pedalangan),  APA (Asean Pupetry Association – Indonesia), UNIMA (Union Internasionale de la Marionette – Indonesia) dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia) merasa perlu bertemu, untuk merumuskan pemikiran-pemikiran guna mengantisipasi jaman bagi kelangsungan hidup perwayangan di Indonesia.

Kelima organisasi perwayangan itu selama ini bukan diam menghadapi fenomena jaman now yang mengancam kelangsungan hidup perwayangan di Indonesia. Beberapa upaya telah dilakukan, yang tujuannya untuk menarik minat generasi muda terhadap wayang.

“Secara umum saja, sebetulnya Senawangi sudah melakukan berbagai cara agar bisa diterima oleh generasi muda. Kita banyak sekali melakukan pengenalan wayang kepada sekolah-sekolah mulai dari anak TK, sampai SMA,” kata Dr. Sri Teddy Rusdy, SH, M. Hum, Ketua Tim Filsafat Wayang dari Senawangi di Teater Kautaman Gedung Perwayangan TMII Jakarta, Selasa (27/2/2018)

Menurut Sri, secara pribadi atas nama Senawangi dan Ketua Senawangi, ia telah menulis novel tentang perwayangan supaya generasi muda bisa memahami perwayangan.  Kalau mengikuti lakon wayang secara pakem mungkin mereka (generasi muda)  baru lima sampai 10 menit sudah tidak  sudah kabur, karena jangan-jangan tidak mengerti bahasa dan lain sebagainya.  Dengan menulis novel (kisah wayang) supaya mudah dibaca.

“Itu kan interpretasi kreatif dari lakon-lakon yang ada. Sasarannya adalah agar mereka teratarik. Ketika mereka tertarik, mereka akan sayang. Seperti kata pepatah  tak kenal maka tak sayang,” tambah Sri.

Di Perguruan Tinggi

Sejak sekitar 10 tahun lalu SENAWANGI sudah bekerjasama dengan Fakultas Filsafat UGM, hingga kemudian di salah satu Fakultas di UGM ada  satu mata kuliah filsafat wayang. Di sana ada juga pusat pengkajian filsafat wayang. Selain itu ada beberapa perguruan tinggi di Jakarta yang sudah melakukan MOU dengan SENAWANGI.

Untuk menarik anak-anak muda supaya menyukai wayang, Senawangi memiliki program yang disebut Wayang Go to School. Kemudian ada digitalitasi lewat medsos supaya wayang populer, dan anak-anak muda paham.

“Bersama Kementerian Luar Negeri,  kami membuat novel yang dibagi-bagikan kepada anak-anak Indonesia yang ada di luar negeri. Supaya mereka itu tidak terlalu jauh dari akar budayanya. Yang kedua kami kerjasama dengan beberapa organisasi siswa, ada yang namanya Wayang for Student. Kita sudah mengadakan promo di musium nasional Indonesia dan di mal. Kita menampilkan dalang wayang golek dengan bahasa khas generasi milenial. Mereka tertarik dan bisa berdialog langsung,” ungkap Presiden Unima Indonesia, Drs. TA Samodra Sriwidjaya.

Para penggiat, atau pengurus organisasi perwayangan sadar perlunya memiliki metode pendekatan berbeda kepada generasi jaman now.

Kalau pakai pakem mungkin anak-anak muda tidak tertarik , tetapi dengan bahasa gaul mereka sangat tertarik. Membaca budaya Jawa termasuk wayang, itu  bagi anak-anak muda tidak langsung greget.

“Wayang memang berat. Anak muda enggak mudheng. Yang dilihat adegan berkelahi, setelah itu bubar. Padahal itu adalah pertarungan yang benar dan salah. Tapi anak muda tidak nyambung karena itu simbolik. Maka perlu terobosan. Salah satunya go to school dengan materi-materi yang bisa dipahami oleh generasi muda. Kedua melalui digitalisasi di yotube dan sebagainya. Tidak perlu lama-lama,” kata salah seorang dalang yang hadir dalam Rapat Bersama Perwayangan, kemarin

Share This: