Upi Avianto: Harus Ada Regenerasi Dalam Film Indonesia!

Upi Avianto, sutradara film "My Generation" (Foto: HW)
_

Tak bisa dipungkiri, perfilman Indonesia masih kurang dengan aktor-aktor baru yang ditampilkan menjadi pemeran penting dalam sebuah film. Kebanyakan yang muncul masih nama itu-itu saja, sehingga cenderung membosankan bagi penonton.

“Harus ada regenerasi dalam film Indonesia, supaya wajahnya semakin variatif, ada warna baru yang bisa merangsang penonton untuk melihat film Indonesia. Sekarang ini kan kita lihat yang muncul cuma itu-itu saja. Itulah sebabnya untuk film saya yang baru ini, saya sengaja memakai wajah-wajah yang baru sama sekali muncul dalam film,” kata wanita sutradara Upi Avianto, di sebuah kafe di Jalan Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (18/1/2017).

My Generation, film yang kini sedang dibuat oleh Upi, memang menampilkan wajah-wajah baru. Mereka adalah Bryan Warow, Alexandra Kosasie, Lutesha, dan Arya Vasco. Upi yakin keempat pemain barunya suatu saat akan menjadi nama yang diperhitungkan dalam perfilman nasional.

Bila dilihat sosok pemain-pemain baru Upi, mereka adalah anak-anak muda kelas menengah yang secara fisik meyakinkan, dan kemampuan intelektual yang baik. Arya Vasco, pemain yang berpenampilan seperti anak Eropa, sejak kecil belajar di sekolah yang menggunakan dua bahasa. Alexandra Kosasie juga sekolah internasional di Canggu, Bali, dan pertengahan tahun ini akan melanjutkan pendidikan ke Inggris. Luthesa, alumnus Sastra Belanda UI,  juga seorang karyawan di Bali

Tapi bukan itu yang membuat Upi merekrut mereka. Bryan Cs ternyata mau belajar dengan keras untuk memahami akting yang diajarkan oleh Upi dan timnya. “Sebenarnya banyak banget yang lebih bule dari ini. Cuma aktingnya jelek .cuma ketika casting mereka yang paling bagus. Mereka natural banget. Nanti kalau liaht filmnya potong kepala saya kalau aktingnya jelek,” tambah sutradara kelahiran Jakarta, 21 Juli 1972.

Selama 3 bulan anak-anak itu digodok dengan keras. Selama tiga hari dalam seminggu, setelah makan siang, mereka reading sampai jam 6 sore. Begitu terus sampai sore. Di antara waktu itu mereka ada yang latihan roller skate dan skateboard, dan ada di antara mereka yang ngegym juga. Yang lain harus latihan main gitar; berlatih untuk scene fighting kecil, dan baru pulang jam delapan, jam tujuh, kecuali hari minggu.

Vasco bahkan sekolah di Bali. Tiap Kamis datang ke Jakarta untuk reading sampai Minggu, Senin dia balik lagi ke Bali untuk sekolah. “Jadi begitu terus setiap hari. So far karena mereka cukup disiplin, proses workshopnya berjalan seperti yang saya harapkan,” jelas sutradara yang pernah membuat film-film 30 Hari Mencari Cinta (2004) Realita, Cinta dan Rock’n Roll (2006) , Radit dan Jani (2008), Red CobeX (2010), Belenggu (2013), Princess, Bajak Laut dan Alien (2014) dan My Stupid Boss (2016) ini.

Menurut Adi Soemardjono, produser dari IFI Sinema yang membuat film ini, pihaknya mengirim orang ke Bali, lalu mendatangi kafe-kafe, mal, dan jalan-jalan untuk mendapatkan mereka. Tetapi ada pula yang didapat melalui instagram, lalu mengirim pesan langsung, dan ada beberapa orang yang menjawab.

“Ini tantangan buat kami di PH ini karena ada 4 orang ini. Kita harap keempat anak ini mengisi perfilman nasional, supaya kita juga nanti dikritik kenapa sih yang main film cuma itu dan itu saja. Karena bagi saya, kalau produser tidak berani mengambil keputusan, maka yang main ya itu-itu saja,” kata Adi.

Upi menjelaskan, filmnya tidak sekedar menggambarkan kehidupan remaja masa kini. Tetapi ada suara yang ingin disampaikan oleh anak-anak muda, agar orangtua juga mengerti. Jadi bukan tipe anak-anak yang selalu ditanya orangtua.

“Ceritanya nanti anak-anak ini juga mempertanyakan system sekolah, system pendidikan, mempertanyakan guru, mempertanyakan acara televisi kenapa tidak banyak acara televisi yang mewakili remaja, juga mempertanyakan orangtua. Jadi mungkin film ini nanti, bukan cuma cocok ditonton oleh orang tua, tapi oleh orang tua juga,” papar Upi. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: