Usai diperiksa, Richard Budihadianto Bungkam

_

Usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi, mantan Direktur Utama (Dirut) Garuda Maintenance Facility (GMF)‎ PT Garuda Indonesia, Richard Budihadianto memilih bungkam kepada awak media.

 

Usai pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik oleh Richard sekitar pukul 15.00 WIB dirinya memilih bungkam saat dikerumuni oleh para pewarta. Tak ada satu kalimat pun yang dikeluarkan darinya. Hanya raut muka tegang yang tersirat seusai pemeriksaan.

 

Saat keluar gedung KPK pun dirinya terlihat bingung mencari dimana keberadaan supir pribadinya. Dan langsung sibuk untuk menelfon supirnya untuk menjemputnya.

 

Pihak pewarta pun terus mencecar pertanyan seputar pemeriksaannya hari ini untuk tersangka mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar (ESA) dan Benefical Owner Connaught International, Soetikno Soedarjo (SS).

 

Di sisi lain, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengungkapakan bahwa untuk penyidikan dugaan suap proyek pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus A330-300 milik PT Garuda Indonesia dari perusahaan mesin raksasa di dunia, Rolls Royce terhadap dua tersangka yakni ESA dan SS ini diduga melibatkan pihak lain dan bukan hanya kedua tersangka itu saja, tetapi diduga bersama-sama dengan pihak lain. Dan hal tersebutlah yang terus penyidik  kembangkan dalam proses penyidikan kasus ini.

 

 

“Jadi tak hanya 1-2 orang terlibat, tentu kami juga mendalami pihak mana saja yang diduga terlibat bersama-sama melakukan suatu perbuatan dan bersama-sama ikut menerima aliran dana,” ungkapnya kepada awak media di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (3/3/2017).

 

Ia melanjutkan, sejumlah saksi yang sudah kami periksa untuk tersangka ESA dan SS, masih dalam proses klarifikasi dan menguraikan lebih lanjut bagaimana proses pengadaan yang terjadi di Garuda.

 

“Apakah proses perencanaan dan pelaksanaannya diduga terkait dengan aliran dana atau komitmen yang dibangun sebelumnya. Yang kedua, fakta-fakta dan bukti-bukti terkait aliran dana setelah kami berkoordinasi lebih lanjut dengan otoritas di Singapura. Itu dua hal besar yang sedang kami dalami,” ungkapnya.

 

 

Terkait dengan apakah adanya dugaan suap yang juga terjadi di dalam proses maintenance, ia menjelaskan bahwa dalam penanganan indikasi suap terkait Garuda, selain aliran dana yang didalami, penyidik juga melihat relasinya dengan proses pengadaan.

 

“Dalam proses pengadaan itu juga diuraikan lebih lanjut baik pengadaan barang maupun pasca barang atau mesin tersebut sudah dioperasikan karena mesin itu berasal dari satu perusahaan. Pastinya proses maintenance membutuhkan keahlian dan biaya tertentu itu tak luput dari informasi yang kami dalami saat ini,” tukasnya.

ESA diduga melakukan suap terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia.

 

Nilai suap itu lebih dari Rp 20 miliar dan bentuk uang dan barang yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

Dalam menangani perkara ini, KPK bekerja sama dengan penegak hukum negara lain karena kasus korupsi ini lintas negara.

 

Perantara suap, yakni Soetikno Soerdarjo (SS) diketahui memiliki perusahaan di Singapura.

 

Dalam perkara ini, Emirsyah Satardisangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 juncto Pasal 64 ayat 1‎ KUHPidana.

 

Sedangkan Soetikno Soerdarjo‎ disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 juncto Pasal 64 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Share This: