Usmar Ismail Selalu Mengembangkan Pemikiran Tentang Keindonesiaan.

Kiri-kanan: Prof. DR Salim Said, DR. Alwi Dahlan, DR. Mukhlis PaEni dan Wina Armada Sukardi, SA, SH. (Foto: HW)
_

Rasanya sulit menemukan orang yang menjalani berbagai profesi semasa hidupnya, seperti H. Usmar Ismail.

Kalangan perfilman mengenalnya sebagai Bapak Perfilman Nasional, tetapi kiprah Usmar bukan hanya di bidang film. Dia pernah berdinas di militer, menjadi pemain dan penulis naskah sandiwara, dan menjadi wartawan.

Di setiap bidang yang digelutinya Usmar telah menancapkan tonggak penting, karena dia selalu berusaha menjadi pembaru dan menciptakan sesuatu.

“Usmar selalu menpertanyakan dan mengembangkan pemikiran siapa kita semua sebagai orang Indonesia, sebagai titik tolak dalam perjuangan hidup, termasuk dalam pengembangan profesinya,” kata Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof. Alwi Dahlan.

Alwi Dahlan yang menjadi pembicara dalam Seminar Usulan Gelar Pahlawan Nasional untuk H. Usmar Ismail di Hotel Santika Jakarta, Kamis (28/12/2017) selanjutnya mengatakan, Usmar merupakan orang yang suka melahirkan kata-kata baru untuk Indonesia, di antaranya kata “Citra”.

Alwi Dahlan adalah keponakan dari almarhum Usmar Ismail sekaligus orang yang sering bekerjasama dengan Usmar, antara lain menulis skrnario untuk beberapa film Usmar.

“Waktu itu saya tidak pernah belajar menulis skenario, tetapi beliau menyuruh saya menonton film-film dan disuruh belajar dari situ,” tambah Alwi Dahlan.

Untuk memahami Usmar Ismail dan filmnya, lanjut Alwi Dahlan, perlu memahami latar belakang Usmar Ismail.

Usmar terlahir sebagai anak Guru Sekolah Raja pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi. Kehidupan balitanya di Padangpanjang dekat sekolah Thawalib yang dinamis politis di jaman pemberintakan tahun 1926.
Ayahnya, Ismail Dt. Manggung, menanamkan dasar-dasar kebangsaan Indonesia yang kuat.

Sekolah MULO di Padang dalam keluarga yang kental budaya Minang, AMS A/ Kebudayaan Timur di Yogyakarta yang memperluas wawasan nasional dan kebudayaan Indonesia.

“Usmar Ismail melakukan adaptasi dari konsep dan instrumen budaya pertunjukan nasional tradisional ke dalam produksi film nasional untuk penonton global, dengan berhasil,” papar Alwi Dahlan.

Seminar usulan gelar pahlawan nasional diadakan oleh Pusbang Film, menghadirkan pembicara lain, yakni Laksamana (Purn.) Tedjo Eddy Purdjianto, Dr. Salim Said dan Dr. Mukhlid PaEni.

Hadir dalam seminar tersebut para pengusul gelar pahlawan nasional untuk Usmar Ismal, yakni Ketua Sinematek Indonesia Adisurya Abdy, Ketua Senakki Akhlis Suryapati, wartawan senior Wina Armada, Sekretaris Yayasan PPHUI Sony P Sasono dan Kepala Pusbang Film Maman Wijaya.

Nampak pula Ketua GPBSI Djonny Syafruddin, Ketua PPFI HM Firman Bintang, Ketua KFT Febryan Aditya, sejumlah insan film dan undangan lainnya.

Share This: