Visualisasi Filosofi Pak Harto Dalam Film “Enak Tho Zamanku? Piye Kabare!”

Sutradara, produser, pemain dan kru film "Enak Tho Zamanku, Piye Kabare" di lokasi syuting di Indramayu, September 2017 lalu. (Foto: HW)
_

Lepas dari tudingan dirinya sebagai diktator, Presiden Soeharto (Pak Harto) adalah seorang manusia Jawa yang sangat memahami perilaku dan tutur kata bahasa Jawa. Tentu saja lengkap dengan filosofi dan symbol-simbol yang ditunjukkannya.

Menurut cerita orang-orang yang pernah mengenalnya, Pak Harto adalah sosok yang santun, jarang berkata kasar dan memberikan perintah sederhana penuh makna. Kadang bawahan atau lawan bicaranya harus menterjemahkan sendiri apa makna kalimat yang disampaikan oleh Pemimpin Orde Baru itu, karena pesan atau perintah yang disampaikan tidak dideskripsikan dengan jelas.

Pak Harto merupakan tipikal orang Jawa tulen. Untuk menguak sosok jati dirinya harus memahami filosofi ajaran Jawa yang dipedomani. Sebagai panduan dalam memahami cara pandang hidupnya, dapat kita ketemukan melalui buku berjudul “Butir-Butir Budaya Jawa: Hangayuh Kasampurnaning Hurip, Berbudi Bawaleksana, Ngudi Sejatining Becik” yang disunting oleh Siti Hardiyanti Rukmana dan diterbitkan oleh Yayasan Purna Bakti Pertiwi pada tahun 1997. Buku tersebut merupakan kumpulan nasehat ajaran bahasa Jawa yang disampaikan Pak Harto kepada putra-putrinya. Melalui pandangan-pandanganya itu kita dapat menelusuri bagaimana ia memandang Indonesia, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (Soeharto.co)

Masih terus diingat sampai sekarang pesan Pak Harto kepada orang-orang dekatnya, antara lain pernah diceritakan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Soebianto. Sebuah pesan filosofis berbahasa Jawa yang penuh makna dan masih terus didengungkan sampai sekarang, yakni . Ojo lali, ojo dumeh, ojo ngoyo (jangan lupa, jangan sombong, jangan memaksakan diri).

Pesan itu, meskipun dalam bentuk kalimat yang pendek, sangat sarat makna. Dan siapa pun yang memegang teguh pesan itu dipastikan akan selamat dalam melangkah. Bila melihat perjalanan hidup Pak Harto sampai diakhir kekuasannya, kita bisa menafsirkan sendiri apakah penguasa Orde Baru itu menjalankan pesan yang kerap disampaikan kepada orang lain, melakukannya untuk diri sendiri.

Filosofi Jawa yang kerap disampaikan Pak Harto rupanya menarik bagi sutradara Akhlis Suryapati untuk memvisualisasikannya (mengangkat ke dalam film). Hasilnya adalah sebuah film berjudul “Enak Zamanku Tho: Piye Kabare?” produksi Midessa Pictures, Qdemank Sonny Pudjisasono, yang belakangan dikenal sebagai seorang politisi dari Partai Berkarya Pimpinan Tomy Soeharto.

Film produksi Enak Tho Zamanku, Piye Kabare merupakan film aksi, drama dan komedi Indonesia terbaru 2018. Film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare adalah salah satu film yang judulnya diambil dari jargon hits di kalangan masyarakat, seusai Bapak Soeharto lengser dari jabatan Presiden. Film ini rencananya akan beredar di 40 layar bioskop di Indonesia, mulai 12 April 2008.

Beberapa kalangan mengatakan bahwa film ini menceritakan tentang kisah pak Harto, sedangkan kalangan yang lain ada yang mengatakan bahwa film ini termasuk film Drama dan Komedi. Dalam beberapa kesempatan Akhlis Suryapati, mengatakan tidak dapat mengungkapkan tafsir atas judul sekaligus isi cerita dalam film ini secara detail. Untuk menafsirkan film ini ia menganjurkan harus menontonnya terlebih dahulu.

Lantas seperti apa Akhlis Suryapati yang mantan wartawan itu menerjemahkan filosofi Jawa yang sering disampaikan oleh Pak Harto itu?

Film ini jelas bukan tentang Pak Harto, atau cuplikan kisah Pak Harto. Akhlis ingin menggambarkan implementasi filosifi Jawa yang kerap disampaikan Pak Harto dalam konteks kehidupan masyarakat bawah saat ini. Memang di film ini ada tokoh Pinuntun (diperankan oleh Dolly Martin) yang logat dan gaya bicaranya mirip Pak Harto: Lembut, tidak tergesa-gesa dan sesekali bergurau. Tetapi tokoh Pinuntun itu jelas bukan Pak Harto. Apalagi kalau melihat setting cerita yang diangkat dalam film ini.

Pak Harto memiliki 6 orang anak: Siti Hardiyanti (Tutut) Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Haryadi (Titi) Hutomo Mandala Putra (Tomy) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek). Sedangkan tokoh Pinuntut memiliki seorang anak bernama Darmo Gandul (Panji Addiemas).

Apakah Akhlis Suryapati juga ingin menafsirkan perilaku semua atau salah satu anak lelaki Pak Harto dalam sosok Darmo Gandul? Wallahualam. Yang jelas Darmo Gandul adalah seorang anak yang tidak tergiur dengan kekayaan orangtuanya. Dia memilih meninggalkan segala kemewahan di rumah, mengembara memasuki kehidupan masyarakat bawah hingga terjatuh dipelukan seorang pelacur pada siapa ia pernah saling mengungkapkan kemarahan.

Tokoh Pinuntut sendiri digambarkan seorang lelaki tua yang nyaris kesepian, karena sang anak memang tidak bisa diajak berkompromi. Andai saja tidak ada tokoh Mbah Mangun (Otig Pakis), seorang lelaki tua yang menjadi juru masak di restoran miliknya, sudah pasti Pinuntut menjadi orang yang sengsara dan kesepian meski pun memiliki kekayaan melimpah untuk seorang pria yang hidup sendirian seperti dirinya.

Mbah Mangun – walau pun hanya sebagai karyawan – adalah teman setia di mana Pinuntun masih bisa berdialog, tertawa dan bercanda. Dialog antara Pinuntut itulah yang dijadikan medium oleh Akhlis Suryapati untuk menyampaikan filosifi Jawa yang sering disampaikan oleh Pak Harto. Antara lain yang sangat terkenal, jangan adigang, adigung dan adiguna (Kekuatan, Kekuasaan dan Kepandaian). Kata-kata itu awalnya terdapat dalam serat Wulangresh karya Sri Sunan Pakubuwana IV.

 Kata filosofis itu bermaksud mengingatkan manusia agar tidak mengandalkan kelebihan yang dimilikinya. Jangan mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kepandaian yang dimilikinya. Dalam film ini pesan itu seakan menjadi penekanan penting, meski pun diucapkan dengan gaya bercanda oleh Pinuntun.

Seperti juga dengan filosofi Jawa yang disampaikan, visualisasi yang disampaikan Akhlis Suryapati dalam filmnya memerlukan kecermatan, ketelitian dan kemampuan untuk memahami isi filmnya. Sebab selain filosofi Jawa tersebut, banyak persoalan bangsa kekinian yang juga dimasukan ke dalam cerita maupun pengadeganan filmnya. Misalnya tentang pelacuran, human trafficking (perdagangan orang), Mafioso dan tenaga kerja asing.

Dari semua penggambaran itu penonton dituntut untuk berkonsentrasi penuh agar mampu mengurut benang merah cerita yang ingin disampaikan, meski pun Akhlis juga tidak mengabaikan aspek entertain di dalamnya. Lihatlah bagaimana ia menjejali filmnya dengan adegan-adegan perkehalian, adegan seks walau tidak terlalu vulgar tetapi masih menjadi barang langkah bagi film nasional belakangan ini, dan tentu saja humor satire yang juga butuh kepekaan untuk memahaminya.

Enak Zamanku Tho, Piye Kabare merupakan film Akhlis Suryapati kedua setelah Lari Dari Blora (2007). Bila melihat film-film yang dibuatnya, Akhlis tidak sekedar ingin memberikan hiburan semata kepada penonton, tetapi ada idealisme yang ditunjukkan dan sesuatu yang ingin disampaikan.

Lari Dari Blora yang mengambil setting kehidupan Komunitas Masyarakat Samin yang tinggal di sekitar Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, ingin mengangkat kehidupan sosial masyarakat Kendeng, budaya dan filosofi hidup yang dijalaninya. Demikian pula dengan film Enak Zamanku Tho, Piye Kabare ini.

Nama-nama tokoh yang dibuatnya pun sangat asing dengan generasi milenial. Selain nama Pinuntun, Mbah Mangun dan Darmo Gandul, ada pula tokoh penjahat bernama Gatoloco (Eko Xamba) dan Sultan Saladin (yang diperankan oleh aktor kawakan Sultan Saladin). Jelas Akhlis menghindari nama-nama tokoh yang berbau kekinian.

Di tengah sukses dan gelombang serbuan film-film bertema horor maupun genre remaja seperti Dilan 1990, Akhlis Suryapati tetap bergeming. Ia kukuh pada pendiriannya ingin membuat sebuah film yang berbeda dengan aliran mainstream saat ini. Mungkin Akhlis sudah merasa safe karena ada keterlibatan Laksamana (Purn) Tedjo Eddy Purdjianto di sini. Apakah film keduanya akan mendapat perhatian penonton, waktulah yang akan menguji.

Secara teknis Akhlis mengalami kemajuan. Ia mulai perduli dengan gambar-gambar yang lebih menarik perhatian dibandingkan dengan film pertamanya. Banyak beauty shoot yang dibuat, terutama untuk adegan-adegan yang lebih rileks.

Tetapi patut juga menitip sedikit pertanyaan untuk siapa pun yang mengenal Akhlis Suryapati, mengapa mantan wartawan itu tidak tergerak untuk masuk ke dalam aliran mainstream ketika orang mulai meninggalkan gagasan-gagasan idealis dalam film?

 

 

 

 

 

 

Share This: