“Wage”: Berjuang Tidak Harus Secara Fisik

Kiri-kanan: Dr. Asvi Warman Adam, Wina Armada, Putri Ayudia dan Sukmawati Soekarnoputri. (Foto: HW)
_

Dalam pemahaman masyarakat selama ini, para pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia melakukannya secara fisik. Pemahaman itu tidak sepenuhnya benar, karena di masa perjuangan dulu, ada seorang Wage Rudolf (WR) Supratman, pencipta lagu yang kini dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia Raya.

Pendapat itu disampaikan oleh beberapa ahli yang tampil sebagai pembicara usai pemutaran film Wage karya sutradara John de Rantau di Djakarta Theater, Sabtu (28/10/2017).

Para pembicara yang hadir antara lain sejarahwan Asvi Warman Adam, Dr. Salim Said, Sukmawati, Wina Armada, Bondan Phd dari UI dan Ratna Hapsari Guru SMA 6 Ketua Asosiasi Guru Sejarah.

Wage merupakan sebuah biopic tentang Wage Rudolf Supratman, atau sutradara John de Rantau menyebutnya noir. Noir adalah sebuah aliran sinema di Amerika yang tumbuh pada tahun 1940-an yang mengangkat suatu tokoh dari berbagai sisi, termasuk sisi gelapnya. Mahzab Noir yang semula dibuat karena keterbatasan modal pembuat film, akhirnya berkembang di Perancis.

Digambarkan, Wage adalah seorang yang anti penjajah Belanda sejak kecil, meskipun ayahnya seorang sedadu Belanda. Karena sikapnya itu ayahnya sering memukuli Wage, sehingga ibu dan kakaknya perlu turun tangan untuk menyelamatkan Wage.

Namun menjelang dewasa, Wage justru sangat dekat – mungkin diangkat anak – dengan orang Belanda, pada siapa Wage kemudian belajar bermain biola. Setelah dewasa Wage menjadi seorang pemain biola yang handal, bermain di tempat hiburan dan menghibur orang-orang Belanda di Makassar.

Karena kemampuannya bermain musik, Wage memiliki banyak uang, disukai noni-noni Belanda dan suka mabuk-mabukan. Tetapi jiwa nasionalismenya tetap kuat dan terus bertumbuh. Ia terusik melihat kekejaman dan kesewenangan Belanda terhadap kaum pribumi.

Wage menyumbangkan uangnya untuk perjuangan dan menciptakan lagu-lagu yang membangkitkan semangat para pejuang. Lagunya “Indonesia Raya” dilarang dinyanyikan pada Kongres Pemuda 1928. Setela para pemuda berkompromi dengan penguasa, Wage boleh memainkan instrumentalia lagunya, tanpa lirik.

“Wage telah berjuang dengan caranya sendiri. Dia berjuang melalui lagu yang mampu membangkitkan perlawanan para pejuang terhadap penjajah Belanda,” kata Ratna Hapsari Guru SMA 6, Ketua Asosiasi Guru Sejarah.

Sejahrawan Asvi Warman Adam melihat film ini untuk menjawab dua hal. Pertama soal tempat kelahiran WR Supratman dan kepercayaan yang dianutnya.

Banyak catatan sejarah yang menyebutkan WR Supratman lahir di Jatinegara, Jakarta. Tetapi film ini menggambarkan Wage lahir di Desa Samongiri, Purworejo, Jaw Tengah.

“Di masa itu memang tempat kelahiran anak selalu disamakan dengan tempat tugas orangtuanya. Karena orangtuanya bertugas di Jatinegara, maka disebutlah Wage lahir di Jatinegara. Padahal seperti yang digambarkan di film ini, dia lahir di Simongari, Purworejo,” kata Asvi.

Mengenai agama atu kepercayaan yang dianut Wage, Asvi mengatakan Wage adalah penganut Islam, meski pun pada makamnya pernah ada patung, tapi patung itu sudah dipindahkan.

“Bahkan ada juga yang mengatakan Wage penganut Ahmadiyah” kata Asvi.

Wartawan senior yang juga dikenal sebagai pengamat militer dan pernah menjadi kritikus film Dr. Salim Said mengaku tidak begitu memahami sejarah perjuangan WR Supratman. Salim mengaku hanya tahu Wage sebagai seorang pencipta lagu.

“Tapi mengenai filmnya saya jadi teringat Alfred Hitkock yang mengatakan panjang film sebaiknya harus mengukur kantung kemih penonton. Mungkin karena saya sudah tua, jad film ini terasa terlalu panjang. Tapi harus diakui, ini adalah film yang bagus,” kata Salim.

Sukmawati menyoroti tentang perdebatan penggunaan bahasa Indonesia ketika itu. Bung Karno sendiri menurutnya ketika itu sudah mewajibkan kepada para pengikutnya untuk menggunakan bahsa Indonesia.

“Setiap orang yang ingin bergabung dengan PNI, Bung Karno meminta agar semua menggunakan bahasa Indonesia,” kata Sukmawati yang mengkritik kostum pemain yang terkesan serba baru.

Bondan PhD dari UI mengatakan film yang dibintangi oleh Rendra Bayu, Putri Ayudia, Teuku Rifkana ini bisa menjadi sebuah tontonan untuk belajar sejarah. Film merupakan media yang baik untuk belajar.

Kritikus film Wina Armada berpendapat Wage adalah sebuah film yang banyak menampilkan simbol-simbol, seperti dalam adegan kedekatan Wage dengan kain batik yang mengingatkan Wage de gan almarhumah ibunya.

“Itu merupakan simbol kecintaan Wage terhadap Ibu Pertiwi, terhadap Indonesia. Tetapi yang jelas ini sebuah film yang bagus, sinematografinya luar biasa,” kata Wina.

Film Wage rencananya akan beredari di bioskop di seluruh Indonesia mulai 9 November 2017 mendatang.

 

 

 

Share This: