“Wage” Menandai Bangkitnya Sutradara John de Rantau.

_

Tujuh tahun bukanlah waktu yang pendek bagi seorang sineas untuk membenamkan diri dari hiruk pikuk dunia perfilman. Tetapi itulah yang dilakukan oleh sutradara John de Rantau.

Setelah film Obama Anak Menteng (2010), dan Semesta Mendukung (2011), praktis ia tidak bersentuhan dengan dunia film, terutama terkait profesinya sebagai seorang sutradara.

“Saya boring bikin film karena yang punya kuasa adalah yang punya duit. Ketika dua film saya terdahulu Obama Anak Menteng dan Semesta Mendukung diobrak abrik, saya memutuskan berhenti membuat film,” kata John de Rantau usai pemutaran film “Wage” di Paragon XXI Jakarta, Kamis (28/9/2017).

Wage adalah film terbaru karya John setelah tenggelam selama tujuh tahun ini. Film ini merupakan sebuah biopic pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman. John sendiri lebih suka menyebut fimnya sebuah noir, karya yang menggambarkan sisi lengkap dari seorang tokoh, baik sisi terang maupun sisi gelapnya.

Aliran noir sendiri lahir di Amerika pada tahun 1930, yang berawal dari keterbatasan modal sineas atau pembuat film, sehingga membuat film dengan peralatan seadanya, seperti lampu yang sangat minim. Ciri film noir bisa dilihat dari kontras pencahayaan sebuah film, antara yang terlalu terang dan sangat gelap.

“Selama ini film selalu menampilkan tokoh protagonis dan antagonis. Tapi dalam noir, juga menampilkan sisi gelap seorang manusia. Karena penganut noir meyakini di balik sisi negatif seorang manusia, ada pula sisi positifnya.

Menurut John, kisah WR Supratman yang diangkat ke dalam film juga menggambarkan sisi kelam sang seniman, di mana ketika itu ia dianggap penjahat dan dikejar-kejar oleh Belanda.

Yang menarik dari Wage, menurut John, Wage beda dengan tokoh lain. Kisah hidupnya tragis. Wage adalah tokoh peristis jazz di Makassar, sangat dikenal, tetapi kemudian meninggalkan gaya hidup bohemian dan bertekad untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam literatur sejarah umum, WR Supratman disebutkan lahir di Jatinegara Jakarta, pada 9 Maret 1903. Dan hari kelahirannya dijadikan Hari Musik Nasional.

Namun John tidak ingin terpaku dengan catatan sejarah yang ada. Berdasarkan buku kecil yang dimilikinya, ia yakin Wage lahir di Somongari, Purworejo, Jawa Tengah, 19 Maret 1903.

Somongan’ tidak lain adalah desa yang diyakini dibuka oleh sisa-sisa laskar pasukan Pangeran Diponegoro, perdikan yang masih terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap penindasan penjajah Belanda.

Darah pejuang itu bisa jadi memberi semangat bagi Wage ketika memutuskan meninggalkan segala kemewahan yang dimilikinya di Makassar dan kembali ke Jawa.

Semangat membara itu mengantar Wage melibatkan diri secara langsung dalam pergerakan kemerdekaan di Jawa, menjadi wartawan yang menyuarakan penderitaan rakyat kecil, memasuki ruang-ruang rapat organisasi pemuda, terlibat arena pergerakan kebangsaan, dan terutama menggubah lagu-lagu peljuangan untuk menggelorakan semangat perlawanan rakyat.

Dari Barat sampai ke Timur, Indonesia Wahai Ibuku, Di Timur Matahari, dan R.A.Kartini adalah sebagian di antara lagu-lagu perjuangan gubahannya. Dan puncak segala karyanya, lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Film merupakan alat propaganda yang ampuh, untuk menjawab keraguan-keraguan. Dan film ini akan menjadi jawaban terhadap keraguan akan sosok WR Supratman selama ini,” tegas John.

Lewat film inj diungkapkan riwayat hidup sang penggubah lagu kebangsaan yang belum banyak diketahui masyarakat secara runtut, cermat, dan jelas, dalam durasi 110 menit.

“Asyiknya bikin film biopic adalah kalau kita bisa menggali sendiri, tidak hanya berpegang pada buku. Kalau berpegang pada buku ngapain nonton film, baca bukunya udah selesai,” tambah John.

Film produksi Opshid Media Untuk Indonesia ini dibintangi oleh pemain teater Rendra sebagai WR Supratman, Putri Ayudia, Teuku Rifkana dan beberapa pemain lainnya. Rencananya pada Oktober mendatang mulai diputar untuk umum di bioskop.

Share This: