Wajah Indonesia Dalam Jakarnaval 2018

_

Sebuah karnaval selalu menarik perhatian masyarakat karena para peserta karnaval tampil dengan gaya yang unik dan menarik, mulai dari kostum, tata rias, aksesoris maupun atraksi yang ditampilkan.

Warok Ponorogo

Indonesia beruntung memikiki ratusan etnis yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Masing-masing memiliki kekhasan tersendiri yang memperkayan budaya bangsa.

Kekayaan budaya itu kemarin terlihat dalam parade para peserta dalam Jakarnaval 2018 yang berlangsung di Jl. Merdeka Selatan hingga ke Taman Monas. Jakarnaval diadakan untuk menyambut penyelenggaraan Asian Games 2018 dan Asia Paragames yang diselenggarakan di Jakarta.

Gambaran wajah Indonesia terlihat jelas dalam Jakarnaval 2018 yang berlangsung Minggu, 8 Juli 2018. Banyak peserta dari daerah yang menampilkan kesenian maupun budaya masing-masing.

Masyarakat yang menyaksikan Jakarnaval 2018 beruntung bisa melihat berbagai kesenian dan budaya daerah tanpa harus pergi jauh-jauh ke daerah asalnya, meski pun tidak semua daerah mengirimkan wakilnya.

Bambu Gila

Beberapa kesenian daerah yang tampil antara lain Reog Ponorogo, Tari Piring dari Sumatera Barat, Tari Perang Kabasaran dari Minahasa, Sisingaan dari Subang Jawa Barat dan berbagai tari-tarian daerah.

Wajah daerah bukan hanya terlihat dari kesenian yang ditampilkan. Masyarajat Dompu / Bima menampilkan pakiaan daerah yang berbentuk busana muslim dengan kain etnik; ada juga pakaian yang dibuat khusus untuk menyambut acara tersebut oleh Disainer Anna Mariana pemilik House of Marsya, yang menampilkan Pakaian Pengantin Betawi Modern.

Jakarta sebagai tuan rumah menampilkan banyak peserta, meski pun rata-rata mempertunjukkan kesenian yang mirip, yakni Ondel-ondel, Pencak Silat, Tari Topeng atau Tari Betawi lainnya, Tanjidor dan Gambang Kromong.

Sisingaan

Yang menarik tampilnya beberapa kelompok Bambu Gila. Jika atraksi ini biasanya hanya dilihat di Maluku, dalam Jakarnaval 2018 ini beberapa atraksi dimainkan oleh masyarakat Betawi.

Jakarnaval juga diikuti oleh beberpa kelompok yang tidak mewakili daerah. Antara lain hadirnya kelompok Hare Khrisna, sebuah sekte keagamaan yang mirip Agama Hindu. Kelompok ini menampilkan tari-tarian sederhana menggunakan kipas dengan musik gambang kromong.

Sekte Hare Khrisna

Komunitas masyarakat Tionghoa menampilkan atraksi barongsai dan ular naga. Wajah Tionghoa juga terlihat dari tampilnya Pasangan Koko – Cici dari Pemkot Jakarta Barat. Setiap wilayah di Jakarta umumnya menampilkan pasangan Abang – None.

Kalangan anak muda tak mau kalah. Mereka menampilkan beberapa atraksi menarik yang memukau penonton. Ada pertunjukkan keahlian bermain sepatu roda, atraksi bola basket, jumping stilt dan cheerleader.

Beberapa dinas yang berada di bawah Pemprov DKI tak mau kalah. Mulai dari Satpol PP, Dinas Perhubungan yang anggotanya mendeminstrasikan keahlian bermotor; Dinas Tata Air yang menampilkan kendaraan canggih untuk mengeruk kali; Dinas Kebakaran dengan mobil pemadam modern; parade mobil Transjakarta dan dinas-dinas lainnya.

Karena kegiatan ini untuk menyambut Asian Games, maskot Asian Games si Momo juga hadir bersama beberapa atlit dari Universitas Negeri Jakarta. Tak mau ketinggalan, para pedagang kopi keliling (Kopling) juga ikut parade menggunakan sepeda lengkap dengan kopi-kopi sasetan yang menggantung.

Parade sepeda ontel oleh para peserta yang memakai pakaian pejuang dan parade “manusia batu” yang biasa ditemui di kawasan wisata Kota Tua, ikut mencuri perhatian. Tak ketinggalan satuan antiteror dari Kodam Jaya dan parade mobil panser anoa dan komodo ikut parade.

Jakarnavak 2018 dibuka oleh Gubernur DKI Anies Baswedan dan Wakilnya Sandiaga Uno. Keduanya datang menggunakan motor vespa diiringi komunitas motor Vespa. Sayang acara terlambat lebih dari dua jam dari yang direncanakan dimulai pukul 12.00 WIB.

Anies – Sandi tiba dengan Vespa.

Setelah membuka acara, Anies dan Sandy beserta jajaran pejabat militer dan non militer lainnya duduk di kursi di bawah tenda yang didirikan di depan balaikota untuk menyaksikan parade para peserta.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah sikap masyarakat yang masih belum perduli dengan kebersihan. Sampah sisa makanan dan kemasannya berserakan di Jl. Kebun Sirih, tempat sebagian peserta melakukan persiapan dan start. Masyarakat yang menonton di Taman Monas juga masih memasuki taman dan duduk di rumput.

Share This: