Wajah Pencopet di Stasiun Manggarai

Seorang wanita melihat wajah pencopet yang dipasang di "Mading" di Stasiun Manggarai Jakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: HW)
_

Kereta api yang melayani rute Jakarta dan sekitarnya merupakan tempat yang empuk bagi para penjahat seperti copet untuk mencari penghasilan. Dengan keahliannya merogoh kantong penumpang, dalam sekejap dompet atau telepon genggam milik penumpang pindah ke tangannya.

Pelaku biasanya tidak sendirian, paling sedikit 3 orang. Ketika orang itu bekerjasama dengan memepet calon korban, menghalihkan perhatian atau membuat gerakannya terbatas untuk melindungi harta bendanya. Seorang pencopet memulai aksi dengan merogoh dompet atau telepon genggam yang ada di kantor korban, lalu barang yang telah didapat itu diberikan kepada temannya secara estafet, sehingga walau pun penumpang menyadari kehilangan barang, dia tidak dapat menemukan bukti pada orang terdekat.

Di masa KRL beroperasi, bukan hanya dompet dan telepon genggam yang jadi sasaran, kalung emas yang dipakai wanita pun kerap menjadi incaran. Cara penjambret mengambil barang berharga itu lebih kasar lagi. Kalung ditarik menjelang kereta berjalan, dan penjambret itu pun langsung melompat dari kereta begitu kereta berjalan agak cepat. Karuan penumpang pun tidak bisa apa-apa mesik pun dia melihat pelakukan berjalan santai di stasiun.

Para penjambret memang memiliki keahlian untuk melompat dari kereta yang sedang berjalan cepat tanpa terjatuh. Hal itu tentu berbeda dengan penumpang yang tidak berani mengambil risiko cedera, atau bahkan kematian.

Namun ada yang lebih sadis, menurut cerita penumpang KRL, ada pula komplotan pencopet yang melempar penumpangnya dari kereta, karena melihat aksi komplotannya tersebut.

Roni (bukan nama sebenarnya) warga Pancoran Mas Depok mengaku dilempar oleh komplotan pencopet dari KRL Jabodetabek. Roni yang ketika itu masih berstatus pelajar sebuah SMA di Jakarta, dilempar oleh pencopet dari kereta di pertengahan antara stasiun UI dan Lenteng Agung. Akibatnya Roni terluka parah.

“Waktu itu muka saya hancur, pinggang dan tulang pinggul patah. Saya dibawa ke Cimande untuk diobatin oleh dukun patah. Tapi setelah itu saya berhenti sekolah karena terlalu lama tidak sekolah. Sampe sekarang saya juga sering pusing,” kata Roni, pemuda berbadan tegap yang mengaku bercita-cita jadi tentara.

Sekarang kondiri Roni memang sudah pulih, karena peristiwa itu terjadi sekitar 4 tahun lalu. Tetapi jalannya tidak normal lagi, setelah tulang pinggulnya bergeser.

Kendati pintu commuterline sudah tertutup rapat ketika kereta berjalan, situasi di dalam kereta pun lebih nyaman karena dilengkapi AC dan tidak ada lagi pedagang, tetapi bukan tidak ada kejahatan terjadi di commuterline. Penumpang yang padat di saat jam kerja atau ketika orang-orang pulang kantor, sering dimanfaatkan oleh pencopet untuk menjalankan aksinya.

Banyak pencopet yang berhasil, tetapi tidak sedikit yang tertangkap. Bagi pencopet yang tertangkap, pihak PT Commuter Line menerapkan hukuman sosial bagi mereka, yakni mereka dipertontonkan kepada pengguna commuter line, dan foto wajah mereka dipasang di sebuah papa berkaca – seperti majalah dinding (mading) di sekolah. Mading itu terdapat di dekat toilet Stasiun Manggari, Jakarta.

Menurut seorang petugas keamanan di stasiun Manggarai, memajang wajah pencopet ini dimaksudkan agar para penumpang Commter Line mengetahui wajah dari pencopet tersebut, selanjutnya penumpang bisa lebih waspada bila melihat orang yang wajahnya terpampang di “mading”. Bagi pencopet pun diharapkan bisa menimbulkan efek jera.

 

 

 

 

 

 

Share This: