Wayang Bukan Hanya Tontonan, Tetapi Juga Tuntunan dan Tatanan

_

HUT Sena Wangi ke-44:
Wayang Bukan Hanya Tontonan, Tetapi Juga Tuntunan dan Tatanan

Wayang adalah salah satu kesenian tradisional Indonesia yang memiliki sarat nilai. Lakon dalam wayang selalu berisi pesan-pesan yang kuat, memiliki makna filosofis yang dapat membawa manusia memahami arti tujuan hidup yang sebenarnya.

Wayang bukan hanya sekedar tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan dan tatannan kehidupan manusia.

Penjelasan itu disampaikan oleh pengurus Sekretariat Nasioal Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) kepada wartawan di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII Jakarta, Jum’at (16/8/2019), terkait pelaksanaan HUT ke 44 Sena Wangi, yang akan dimeriahkan dengan pementasan wayang dengan lakon Sri Sadono, oleh Dalang Ki Manteb Soedarsono.

Dalam kesempatan itu hadir Ketua Umum Sena Wangi, Drs. Suparmin Sunjoyo, Ketua Humas Sena Wangi Eny Sulistyowati, SE, MM, M.Pd, Dalang Ki Manteb Sudarsono dan Ketua Panitia HUT Sena Wangi, Yatto HS, SH.

Menurut Ketua Umum Sena Wangi, wayang merupakan kesenian tradisional yang sudah diakui oleh Unesco, pada tahun 2003, setelah diusulkan sejak tahun 2001.

Pemberian penghargaan berlangsung di Paris setelah pertunjukkan wayang dalam waktu 5 menit oleh Ki Manteb Sudarsono. Biasanya lakon wayang dipentaskan selama 8 – 9 jam.

“Memang sulit mencari orang yang bisa mengajarkan wayang agar wayang masuk ke dalam ilmu pengetahuan. Karena wayang itu memiliki nilai filsafat yang tinggi. Ada orang yang mengerti wayang tapi tidak mengerti filsafat, dan ada orang yang mengerti filsafat tapi tidak memahami wayang,” kata Suparmin.

Sena Wangi bersyukur pemerintah telah menetapkan tanggal 7 Desember sebagai Hari Wayang.

Sebagai upaya untuk memasyarakatkan wayang, pada tahun 2011 – 2016 Sena Wangi mengadakan Festival Wayang Indonesia, yang disponsori oleh perusahaan minyak Perancis. Tetapi setelah perusahaan minyak itu diakuisisi Pertamina, festival wayang terhenti.

Kemudian mengadakan Festival Dalang Bocah, dan Dalang Remaja. “Peminatnya banyak. Ini akan melahirkan anak-anak yang cinta wayang,” kata Suparmin.

Upaya lain yang dilakukan adalah membuat buku-buku wayang, ensiklopedia wayang yang berjumlah 6 jilid pada 1999, dan kemudian 9 jilid pada tahun 2017.

Sena Wangi juga berencana melakukan kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Di antaranya dengan UGM dan UI. Lalu dengan Sekolah Tinggi Driyarkara yang masih dalam perundingan.

Wayang juga bisa digunakan untuk melakukan sosialisai kegiatan atau program-program pemberantasan narkoba. Untuk itu Sena Wangi melakukan kerjasama dengan BNN . Sosialisai di lapangan dilakukan oleh Pepadi (Peraatuan Pedalangan Indonesia) yang memikiki cabang di daerah.

Agar wayang disukai oleh generasi milenial, Sena Wangi sudah mencoba menghubungi kementerian pendidikan. “Yang penting anak-anak muda mengerti dulu tentang wayang, lalu akan senang. Setelah itu menyayangi, mencintai, dan akan menjadi fanatik,” kata Yatto HS.

Menurut Ki Manteb, dirinya juga telah melakukan berbagai inovasi dalam pementasan wayang. Dia juga selalu memberi pesan-pesan, bahkan kritik terhadak anomali dalam masyarakat maupun pemerintahan.

“Kritik saya pedas, terutama terhadap korupsi dan narkoba. Lha saya heran, narkoba diberantas kok keluar terus. Saya cuma bisa mengingatkan. Saya cuma mewakili rakyat. Pejabat yang korupsi saya kritik. Saya tidak takut diblacklist. Mau diblacklist seperti apa? Wong tidak bisa kok!” kata dalang terkenal ini sambil tertawa.

Share This: