Whiskey, Anjing yang Setia

_

Tahun 70an kakak saya memiliki seekor anjing yang diberinama Whiskey. Karena rumah kami bersebelahan, Whiskey kami anggap anjing milik keluarga besar.

Whiskey dibawa ke rumah ketika masih kecil. Dua bulan di rumah dia semakin besar. Mungkin karena giginya gatal, dia mengigiti apa saja yang ada di rumah, mulai sandal jepit hingga kursi. Whiskey telah menimbulkan kerusakan yang masif.

Karena kakak saya tidak tahan dengan kelakuannya, Whiskey diperintahkan dibuang. Oleh keponakan Whiskey lalu dibawa malam-malam untuk dibuang ke tempat yang jauh.

Untuk sementara di rumah aman. Tetapi suatu pagi, menjelang matahari terbit, anjing kecil itu sudah ada di samping rumah. Badannya kotor dan terlihat lemas.
Kakak perempuan saya tidak tega. Whiskey diambil dan diberi makan. Setelah agak segar, dimandikan. Sejak itu Whiskey dipelihara.

Di depan rumah kami ada lapangan sepakbola. Di sanalah Whiskey kami latih. Dia senang mengambil kayu yang kami lempar jauh dan memberikannya kepada kami. Dia anjing yang cerdas.

Whiskey jadi anjing penjaga yang baik. Dia akan menggeram dan menggonggong bisa melihat orang yang dia curigai. Tetapi dia akan tidur saja bila situasi aman. Tetangga pun, yang mayoritas muslim, merasa senang dengan keberadaan Whiskey, karena bisa membuat mereka tenang di malam hari. Whiskey pernah menangkap ular berbisa yang akan masuk ke dalam rumah kakak saya. Tidak ada satupun tikus yang bisa selamat bila lewat di dekatnya.

Tiap hari ratusan orang lalu lalang di depan rumah, termasuk orang-orang yang akan main bola, dia tidak terusik. Anehnya, kepada seorang lelaki tetangga jauh yang kerap lewat di depan rumah kami, dia orang Kristen, Whiskey selalu menggeram dan menyalak, walau pun lelaki itu masih berjarak 30 meter dari rumah kami. Mungkin di antara mereka pernah ada peristiwa tidak enak. Menurut kakak saya, lelaki itu pernah melempar Whiskey dengan batu sampai kakinya pincang.

Kepada kakak saya perempuan, Whiskey sangat setia. Bila kakak saya hendak bepergian jauh, dia seperti tidak mau ditinggal. Ke mana pun kakak saya berjalan, selalu diikuti. Padahal kalau cuma pergi ke warung atau sekitar rumah, Whiskey tidak peduli.

Sekali waktu kakak saya ingin pergi kondangan ke Cimanggis. Dari stasiun Depok naik angkot ke Simpangan Depok di Jl. Raya Bogor, lalu disambung lagi dengan angkot jurusan Cisalak. Angkot dari Stasiun Depok menuju Simpangan Depok ketika itu adalah mobil Kijang bak yang diberi atap penutup dari terpal dan kursi panjang. Penumpang naik dari belakang, dan tetap bisa melihat pemandangan di belakang karena tidak ada penutup, kecuali lembaran plastik besar yang baru dikembangkan jika hujan turun.

Ketika itu Whiskey selalu mengikuti. Meakipun dihalau, dia tetap bandel, akhirnya didiamkan saja. Dengan harapan, setelah kakak saya naik angkot Whiskey akan tahu diri, lalu pulang.

Ternyata tidak, Whiskey terus mengikuti angkot bergerak. Angkot semakin kencang, Whiskey berlari tambah kencang di belakangnya. Walau pun dihalau, diteriaki dari atas angkot, Whiskey tak peduli. Penumpang lain yang ada di dalam angkot juga ikut berteriak, agar Whiskey takut dan kembali ke rumah.

Rupanya suara apapun ketika itu sudah tidak didengar lagi. Whiskey terus berlari mengikuti angkot yang berlari kencang dengan lidah terjulur. Dia sudah berlari sejauh kira-kira 3 kilometer karena sudah mendekati komplek perumahan PT Samudera Indonesia, di Sukmajaya.

Akhirnya orang-orang di dalam angkot merasa tidak tega, dan meminta kakak saya mengajak Whiskey ikut. Kakak saya, karena pertimbangan toleransi, mengingat penumpang angkot banyak yang tidak dikenalnya dan ada pula yang memakai kerudung, kakak saya menolak permintaan itu walau hatinya sangat sedih melihat penderitaan Whiskey.

Ternyata penumpang angkot lainnya — termasuk perempuan berkerudung — yang meminta sopir menghentikan mobilnya, dan mengajak Whiskey naik.

Setelah mobil berhenti Whiskey langsung melompat ke dalam angkot, dan bersimpuh di kaki kakak perempuan saya. Nafasnya terengah-engah dan lidahnya terjulur. Kakak saya sempat menitikan air mata. Penumpang lain merasa gembira karena Whiskey bisa ikut serta.

Whiskey masih hidup beberapa tahun lagi dan mengabdi dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Sampai suatu hari dia diketemukan tergeletak di samping rumah. Usia telah merenggut nyawanya.

Tahun 2000-an saya berusaha beberapakali memelihara anjing kecil. Tidak pernah berkeliaran di jalan, karena terkurung tembok. Semua anjing yang saya pelihara selalu sakit, mengeluarkan kotoran bercampur darah.

Yang seekor sudah besar, bahkan sempat berjalan menyampari anak saya yang sedang main di rumah kakak, berjarak 50 meter dari rumah saya. Rupanya dia mau pamit. Di dekat kaki anak saya, dia ambruk dan menghembuskan napas terakhir. Melalui telepon genggam saya mendengar anak saya menangis menjerit-jerit.

Share This: