Willawati, Berbisnis Film Secara “Syariah”

Willawati, Kaninga Pictures (Foto: HW)
_

 

Kaninga Pictures adalah sebuah perusahaan film berusia muda yang telah melahirkan film-film berkualitas. Sebut saja antara lain Bid’ah Cinta, Night Bus, dan Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak yang barus saja masuk ke ajang kompetisi Festival Film Cannes.

Pemilik rumah produksi itu bernama Willawati, seorang wanita berhijab, yang nampaknya lebih suka berada di belakang layar, ketimbang berdiri di depan agar namanya dikenal. Selain menjadi produser film, wanita beranak tujuh ini juga bergerak dalam bisnis power plan (pembangkit listrik).

Beberapa waktu lalu balaikita mewawancarainya di sebuah kedai kopi di kawasan Pasific Place Jakarta. Berikut wawancaranya.

Willawati (berhijab) di antara pemain film “Bid’ah Cinta”. (Foto: HW)

 

Mengapa terjun ke dunia film? 

Kenapa membuat film? Karena saya suka nonton sih! Saya dulu seminggu bisa dua tiga kali nonton. Saya suka nonton. Jadi kepingin bikin film aja sejak itu.

 

Kebiasaan itu waktu masih kuliah atau sudah jadi pebisnis seperti sekarang ini?

Dulu sebenarnya ya banyak teman yang nawarin. Yang pertama saya ambil waktu Fajar Nugros, Cinta Untuk Selamanya. Waktu itu saya di London ketemu Nugros, dia tanya kamu cita-citanya apa? Ketika saya bilang bikin film, dia ajak saya bikin film.

 

Tapi kan bikin film tidak seperti membalikan tangan. Harus ada modal dan sebagainya.

Kebetulan waktu itu punya uang sendiri, waktu itu cerita yang ditawarkan tentang Mbak Fira Basuki yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya. Ya udah kita buat. Setelah film pertama itu saya banyak belajarlah, saya tidak bisa salahin siapa-siapa. Setelah itu film kedua dengan I’m Hope ketika itu dan terus berurutan gitu waktunya memang sangat paralel banyak. Saya pingin coba dengan berbagai pihak begitu. Jadi saya coba semuanyalah. Saya pingin coba orang film seperti apa sih, bisnis film seperti apa, proses pembuatan film itu seperti apa. Dan waktu itu saya tidak memutuskan satu-satu diberesin, karena buat saya waktu itu penting. Karena kalau satu film selesai satu tahun, mungkin sampai Sembilan film seperti sekarang harus sembilan tahun. Saya seperti memperpendek waktu.

 

Memang ingin belajar film?

Ya membuat film. Kalau saya tuh kalau sudah masuk ke satu bisnis akan terus dikejar. Sekarang sudah terlanjur “nyemplung” ya harus diselesaikan.

 

Yang Mbak rasakan dalam membuat film sepeti apa?

Sangat chalanging, banyak hal yang harus saya pelajari, terus saya juga banyak hal ketemu sama Ghibli, belajar dari film-film lainnya gitu. Saya merasa oh sebenarnya saya bisa dengan apa yang saya lakukan, untuk terus, tidak stop dengan tentunya gaya saya. Kita tidak bisa jadi seperti Falcon sukses, tapi saya bukan Mas Naveen yang punya kekuatan di bidang advertise; saya juga enggak bisa seperti Screenplay yang sudah punya basis penonton di tivi, karena saya juga tidak punya tivi; saya juga tidak bisa seperti MD, karena beliau sudah lama sekali di bisnis film di Indonesia. Saya belum pengalaman seperti mereka.

Saya belajar menemukan tipe saya sendiri seperti apa.

 

Belajar kepingin mengenal orang film. Sudah kenal sekarang?

Ya lumayan…

 

Seperti apa orang film itu?

Ya macam ragamnya banyak sekali. Jadi saya belajar untuk hati-hati aja, lebih selektif. Kemarin memang niatnya belajar, semua orang saya terima dengan tangan terbuka gitu, dengan positif. Maksudnya tidak takut ini, takut itu, tidak ada, tapi setelah semuanya sekarang lebih selektif, lebih memilih. Tawaran tetap banyak yang datang, tapi sekarnag saya lebih selektif. Udah tahu ajalah, setidaknya udah ngerti proses pembuatan film dari mulai konsep sampai dijual di bioskop.

 

Kata orang bisnis film itu kejam. Kadang uang 3 milyar untuk membuat film, amblas dalam waktu sebulan. Jadi kalau ada dua orang yang punya duit masing-masing 3 milyar, satu bikin bioskop, satu bikin film, pasti yang bikin film bangkrut duluan. Mbak merasakan kekejaman itu?

Enggak sih. Kayaknya semua bisnis ada gennya. Bisnis besar, resikonya juga besar. Buat saya semua bisnis itu ada resiko. Jadi ini hal biasa, tinggal kita menghitung ke depannya aja seperti apa. Kalau bicara bioskop, sekarang saya juga sudah mulai punya bioskop. Sekarang sudah mulai bangun di kota-kota kecamatan, kecil-kecil. Tapi memang tidak mudah. Ya pelan-pelanlah…

(bioskop yang dibangun berada di aula-aula kecamatan, dengan harga tiket Rp.10.000).

 

Sudah jalan bioskopnya?

Ya pelan-pelan. Awalnya kan kerjasama dengan pihak “mereka”. Tapi kan orang Indonesia susah kalau dikasih amanah. Jadi kita punya pikiran tidak kerjasama, tapi kita buat aja di daerah-daerah. Tapi skalanya yang jauh dari bioskop yang ada di kota-kota besar.

 

Film apa saja yang diputar?

Masih film-film sendiri. Ada juga beberapa film punya teman sendiri juga. Kita pake system sendiri. Laporan tiketnya juga online, pemutaran filmnya juga kita membuat enskripsi seperti bank, seperti ATM gitu. Proyektornya juga biasa, seperti infocus, 6000 lumens. Jadi buat orang daerah yang tidak punya akses ke bioskop lumayanlah bisa terhibur. Cuma kalau setiap azan, baad Azhar, baad Maghrib atau Isya, kita break dulu.

 

Ada di daerah mana saja bioskop kecil yang dibangun itu?

Di Jawa Barat ada, pernah juga kita buat di Aceh, jalan. Kita lagi cari tempat sekarang. Jadi kalau dibilang di Aceh bikin bioskop susah, enggak juga. Cuma mereka kan ada regulasi yang harus patuhi, misalnya lelaki dan perempuan dipisah, ya kita patuhi. Terus kita juga lagi jajaki di Jawa Timur, Jawa Barat dan tempat-tempat lain.

 

Tidak putar film impor?

Oh enggak, memang tidak diniatkan. Itu hanya untuk film Indonesia. Misalnya sepaerti film saya Bidah Cinta yang susah itu kan, nanti bisa diputar. Tapi tetap saja kalau bicara tentang space, kapasitas waktu pemutaran, film yang laku yang bertahan sih sebenarnya. Mungkin bisa lebih luas dinikmati orang banyak aja.

 

Cara mempromosikan film-filmnya bagaimana?

Ya seperti jaman dulu. Kita bikin pamflet, keliling dengan mobil, kita fotokopi materi promosinya. Asyik, tapi memang energinya luar biasa. Kan saya kalau bisnis ini tidak pernah joint dengan yang lain. Taku aja, apalagi masih baru membangun. Orang lain kan berpikir ini harus pulang modal dan sebagainya, kalau pemikiran saya bukan seperti itu. Bisnis sama menghasilkan uang kan beda. Menghasilkan uang itu bisa dengan berbagai cara. Tapi kalau bisnis itu harus punya komitmen. Makanya saya kalau punya uang saya jalan, kalau tidak punya ya stop dulu.

 

Belajar bikin film itu mahal ya. Mbak ini seperti tokoh film kartun, sudah jatuh, bangun lagi, begitu terus?

Saya yakin kalau niatnya baik, caranya baik, ujungnya pasti akan adalah. Dan itu tadi, tidak harus berlatih dengan uang sih. Jadi agak susah kalau bicara dari bisnis ke bisnis.

 

Ketika Mbak memutuskan membuat film, apa pertimbangannya?

Yang pertama itu saya lebih menerima konsep yang ditawarkan. Saya tidak mau ikut-ikutan awalnya, karena takut dianggap orang yang cerewet. Enggak tahu apa-apa tapi cerewet. Tapi belakangan ini saya belajar. Saya juga skripnya. Tapi kadang ketika mau berubah, mereka lebih tahulah daripada saya. Saya diam aja. Belakangan ini saya mulai ngertilah. Seperti Bid’ah Cinta, saya mau begini, begitu, sudah mulai berani ngomong. Intinya harus ada valuenya ya. Harus ada yang tertinggallah di benak penonton begitu.

 

Kalau mendengar keterangan Mbak, bisnis yang dijalanin kesannya “syariah” banget. Padahal bussines is bussines ya.

Iyalah semua bisnis saya memang begitu. Saya juga membangun bisnis energy saya begitu dulu. Itu lama banget, 18 tahun. Dan itu tidak mudah, jauh lebih sulit dari film. Tapi masih tetap bertahan, memang susah. Saya bukan tipe pebisnis yang cepat melesat, tapi Alhamdulillah kurvanya juga naik, meski pun pelan-pelan tapi naik. Dalam bisnis memang turun naik ya, tapi Alhamdulillah kurvanya naik terus.

 

Saya berbisnis di pembangkit listrik, lebih serem dari film sih sebenarnya, kalau turun ya turuuun terus. Enggak ada ya bisnis yang enggak mengalami penurunan. Tapi Alhamdulillah di bisnis saya naik grafiknya terus.

 

Bisnis perlistrikan itu peluangnya kan besar sekali ya, karena ratio kelistrikan kita di beberapa daerah masih rendah, dan pemerintah membuka kesempatan yang luas. Apa sih tantangan di bisnis perlistrikan itu?

Banyak ya. Karena persaingan di situ sangat terbuka. Jadi kita sangat professional sekali, pengadaan-pengadaan juga dilakukan oleh konsultan pengadaan nasional. Jadi kalau kita tidak siap, ya kita selesai. Tapi masalahnya lebih banyak ke masalah lingkungan, social. Karena kalau kita sudah menang (tender), tiba-tiba akses jalan agak susah, pembebasan lahan sulit, ijin daerah, kadang masyarakat juga. Hal seperti itu kan tidak bisa diprediksi. Kalau telat impactnya banyak. Masalahnya banyak banget. Tapi selama ini kita jalanin, hadapain, Alhamdulillah semuanya beres.

Jadi masuk ke film itu jauh lebih mudah daripada bisnis energy. Bukan nyepelein ya…

 

Mbak sudah berpengalaman di bisnis besar, tapi di film hasilnya kurang menggembirakan. Apa yang membuat Mbak bertahan?

Ya seperti film Marlina ini, seperti Bid’ah Cinta, saya punya karya seperti itu, itu tidak terbayar. Marlina bisa ke Cannes, walau pun bukan karya saya, itu karya Mbak Mouly Surya, tapi pada saat kita memberi kesempatan kepada mereka, itu kan tidak bisa diuangkan. Kepuasan luar biasa, saya juga bisa berangkat ke sana (Cannes). Sebelum bisnis ke film kan saya juga enggak tahu seperti apa, kenal Ghibli.

 

Bagaimana bisa berhubungan dengan Ghibli?

Sebetulnya karena saya punya bidang usaha film, mereka menawarkan Ghibli ke sana. Dan dari Ghibli saya banyak hal, terutama nilai, nilai dari sebuah film itu seperti apa. Mereka bikin film kan sudah puluhan tahun lalu, tapi bisa dijual jauh lebih mahal daripada film yang baru. Dengan value yang sangat baik isinya film itu. Jadi cita-citanya sih saya seperti itu sekarang, ha..ha…kepingin punya film yang melegenda, bukan saja penjualannya saja tapi valuenya juga bagus..

 

Di bisnis film ini Mbak merasa menghadapinya sendirian, atau memang mau menghadapi sendirian aja. Karena film kan ada undang-undangnnya, di mana pemerintah juga wajib melakukan pembinaan, membantu meringankan beban pembuat film.

Aku tuh paling males ngeluh sebenarnya. Jadi berhubungan dengan regulasi ya saya kalau ada yang bisa saya sampaikan, akan saya sampaikan. Ke teman-teman juga kan banyak yang kenal juga, tapi bukan berarti itu jadi alasan kita untuk tidak melakukan sesuatu. Kalau kita bicara ini kurang, itu kurang ya pasti kalau dicari semua salahnya ada. Ya kita jalan aja. Kalau selalu mencari kekurangan orang, kitanya enggak maju-maju. Enggak kreatif.

 

Kalau Mbak lihat sikap bioskop seperti apa?

Kalau menurut saya bioskop bussines as ussual, sebagai eksibitor memang sudah melakukan hal yang benar, sesuai dengan bisnisnya. Hukum pasar. Mana yang lebih banyak penontonnya dia yang bertahan. Dan tugas kita memang membuat penonton lebih banyak, supaya kita bisa bertahan.

 

Kalau sikap pemerintah sendiri seperti apa?

Ya pemerintah harusnya mulai memfasilitasi buat bioskop-bioskop yang ada subsidinya. Tempatnya mungkin punya pemerintah, sehingga tidak harus sewa. Jadi yang dibayar operasionalnya saja. Jadi kalau selama ini bagi hasilnya 50:50, mungkin bisa 70:30 karena itu punya pemerintah. Nanti memutar film-film yang harus dipilih. Harus dipikirin benar sih, karena semuanya film Indonesia. Itu tentunya tidak mudah.

 

Harapan di film ke depan seperti apa?

Saya sendiri sebagai perusahaan film kepingin membuat film yang lebih berkualitas, dan membuat bioskop yang lebih banyak karena mungkin teman-teman membangunnya di kabupaten, saya di kecamatan-kecamatan.

 

Tidak bekerjasama dengan gedung-gedung milik pemerintah?

Ya tapi nantinya enggak, karena agak susahlah. Lebih baik bangun sendiri saja. Bioskop mini begitu. Karena di kabupaten itu kalau perusahaannya ada, harus melakukan perjalanan 2 – 3 jam begitu. Ongkosnya bisa tiga kali lipat dari harga tiket bioskop.

 

Dulu Deddy Mizwar pernah punya gagasan bikin bioskop dengan minimarket di daerah-daerah. Bagaimana dengan gagasan itu?

Bisa aja begitu. Tapi melakukannya memang tidak mudah. Harus agak gila sedikit.

 

Menurut pandangan Mbak film Indonesia secara kualitas maupun aspek komersialnya seperti apa?

Sekarang mungkin membaik ya. Maksudnya ada beberapa film yang saya kepingin nonton. Karena itu sih kalau kitanya enggak suka mau bagaimana. Tapi tergantung taste juga ya. Saya sukanya sekelas yang saya buat. Drama suka, action suka. Beberpa kali nonton film Indonesia kecewa, begitu. Tapi ya saya tidak bisa bicara seperti dulu. Kalau dulu kan suka complain. Ternyata bikin film itu susah. Jadi sekarang memaklumi saja, karena mereka juga pasti melewati fase yang sangat sulit untuk membuat film.

 

Kalau berkaca pada “kegagalan” film Mbak di pasaran, Mbak tetap konsisten membuat film seperti itu? Apa yang mau disampaikan ke masyarakat dengan film-film Mbak?

Ya saya akan tetap membuat film seperti itu. Saya ingin menyampaikan pesan moral ke masyarakat, terus konten-konten yang selama ini orang agak sungkan untuk mengangkatnya seperti “Bid’ah Cinta”. Kalau orang lain yang bikin mungkin tidak berani. Tetapi menurut saya hal yang benar itu memang harus disampaikan menurut versi saya. Belum tentu versi orang lain sama. Ya daripada protes aja. Selama ini saya kan cuma bisa protes. Tapi setidaknya saya sudah melakukan sesuatu.

 

Tapi untuk berbicara sesuatu, membuat sesuatu membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil.

Saya bersyukur sekali, suami maupun keluarga membiarkan saya, terserah mau bikin apa. Mereka tetap support apa pun yang saya hadapi. Itu sesuatu yang luar biasa. Saya memberitahukan apa yang saya ingin sampaikan, sehingga mereka mengerti. Kalau motivasinya apa, saya ingin membuktikan bahwa saya bisa.

 

Mbak aktif di NU juga ya?

Ya saya pengurus pusat muslimat NU.

 

Mungkin karena ada basis itu ya sehingga pilihan-pilihan terhadap tema film yang dibuat pun agak berbeda?

Mungkin ya. Saya dulu kan sekolah di pesantren. Lingkungan juga dari kecil sudah pesantren. Bapak dan ibu saya mengajarkan hal-hal yang menurut saya luar biasa, yang jarang ditemukan di keluarga orang lain. Jadi ya harus meneruskan. Sombongnya saya punya uang yang banyak, ya enggak berasa apa-apa juga. Dan di film ini kerasa bedanya dengan di bisnis saya di power plan. Kita sukses membangun puluhan triliun, tapi enggak ada yang bilang terima kasih. Pada saat bikin film seperti Bid’ah Cinta, banyak yang nangis-nangis berterima kasih, itu rasanya beda.

 

Lebih ke kepuasan batin ya..

Iya. Mungkin kalau orang lain punya uang, belum tentu mau buat film seperti itu.

Orang yang punya pengetahuan agama, belum tentu punya uang untuk membikin film seperti itu. Punya uang, punya keinginan, belum tentu bisa membuat seperti itu. Karena seperti pengalaman saya juga enggak gampang…jadi ya sudah. Mungkin sudah takdirnya saya untuk melakukan seperti ini.

 

Bid’ah Cinta kan memiliki tema yang agak tidak biasa. Mungkin ada juga pihak-pihak yang tidak suka dengan film itu?

Ya ada, tapi pastinya mungkin belum nonton. Kita tidak menghakimi siapapun, Karena saya belajar di pesantren, selama ini belajar tentang satu hukum, saya belajar dari beberapa imam, mahzab, pendapat imam A, B dan C, kita diajari tentang yang berbeda. Jadi kita memilih satu hukum itu bukan berarti kita yang paling benar. Memang ini pilihan kita dengan dasar keyakinan kita. Kita bisa memahami orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Saya jadi seperti itu. Jadi kita tidak bisa menghakimi orang lain dengan dasar keyakinan kita. Kita juga harus menghormati yang lain. Fenomena sekarang ini kan seakan-akan semua yang dia yakini itu yang benar, yang lain salah. Nah itu yang akan saya sampaikan. Mungkin setelah ini saya juga akan membuat film seperti tema Bid’ah Cinta. Dulu kita damai, kenapa sekarang jadi berantem.

 

Mbak di NU itu kan pengikutnya banyak. Kenapa tidak melibatkan umat untuk “mensukseskan” film Mbak seperti “Bid’ah Cinta” misalnya?

Nah itu yang saya tidak mau. Kemarin sebenarnya saya bisa dengan mudah menggunakan muslimah atau NU. Saya tidak mau memanfaatkan organisasi untuk kepentingan saya. Selama ini saya protes dengan orang-orang yang memanfaatkan organisasi untuk bisnisnya, jadi saya tidak mungkin melakukan itu.

 

Tapi kan pesan baik harus disampaikan..

Yan anti kita akan keliling. Kita lagi coba pikirkan mekanismenya, supaya film itu bisa dinikmati banyak orang. Kita akan putar, tapi tidak gratis ya. Bukan kita pelit, tapi kita harus mengajarkan orang untuk menghargai karya orang lain.

 

Mbak berkiprah di organisasi keagamaan besar. Tidak tertarik ke politik?

Oh enggak. Saya pernah terlibat di politik. Saya belajar dari suhunya di Golkar. Waktu ketika ketika Pak Wiranto dan Gus Sholah (Solahuddin Wahid) mencalonkan diri menjadi Presiden dan Wapres, saya membantu beliau bersama teman lain. Jadi saya tahu bagaimana kejamnya politik. Dari situ saya memutuskan tidak ke politik.

 

Ada yang nawarin masuk dunia politik?

Oh banyak. Setiap menjelang Pemilu pasti ada yang nawarin dari mana aja, saya tinggal pilih mau masuk di mana. Tapi saya tidak bisa karena saya orangnya kan to the point, kalau bialng A harus A, nanti banyak yang sakit hati. Makanya saya memutuskan tidaklah….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: