Wilson Tirta, Kecil Kecil Jadi Pengusaha

Wilson Tirta, pengusaha muda usia 14 tahun, hadir dalam pemutaran film produksi PH miliknya di Jakarta, Selasa (7/3) siang. (Foto: HW)
_

Banyak ahli mengatakan, dunia anak selalu identik dengan dunia bermain. Sebab untuk anak, bermain sama utamanya dengan belajar. Pertanyaannya, apakah semua anak butuh bermain ? Atau mereka bahkan tidak sempat bermain karena berbagai persoalan yang dihadapinya.

Wilson Tirta bersama ibunya, Lilik Andriani (Foto: HW)

Wilson Tirta Tamin ternyata bukan tipe anak yang banyak menghabiskan waktunya untuk bermain. Sejak kecil dia terbiasa dengan hal-hal serius, bahkan berbisnis. Di usianya yang baru 14 tahun sekarang – Wilson lahir di Surabaya, 23 Maret 2002 – dia sudah tercatat sebagai seorang pengusaha muda. Bisnisnya mulai dari makanan, property hingga film. Wilson baru saja memproduksi sebuah film layar lebar berjudul Ular Tangga yang akan beredar di bioskop-bioskop pada Maret 2017 ini.

“Ini film pertama saya. Dan masih ada 3 cerita lagi yang saya siapkan, salah satunya dibuat oleh Mas Jujur Prananto,” kata Wilson ketika bertemu balaikita sebelum pemutaran film perdananya, di XXI Epicentrum Kuningan, Selasa (7/3) sore.

Berbicara dengan Wilson memang tidak seperti berbicara dengan anak-anak seusia dia pada umumnya. Gaya berbicara tenang, bahasanya teratur, dan setiap pertanyaan yang diajukan dijawab dengan baik. Terlihat betapa anak muda ini memahami persoalan. Dalam soal film misalnya, meski pun ia baru terjun ke bisnis ini, terkesan dia banyak memahami persoalan di film.

“Saya sudah bertemu dengan orang-orang yang sudah berpengalaman di film. Banyak pelajaran yang saya dapat dari mereka. Saya dianjurkan untuk belajar dulu dengan orang-orang yang sudah berpengalaman di bisnis ini. Saya memang belajar dengan orang lain,” kata Wilson.

Wilson Tirta bersama tim produksi film “Ular Tangga” dalam konperensi pers di Jakarta, Selasa (7/3) siang.

Kecintaannya terhadap film sudah tumbuh sejak lama. “Saya suka dengan kamera. Dulu saya suka fotografi, kemudian video. Saya edit hasilnya, dan saya memang bercita-cita ingin membuat film sendiri,” katanya.

Keinginan membuat film itu disampaikan kepada orangtuanya, dan didukung. Wilson lalu mengajak sepupu orangtuanya, Girry, pemuda berusia 20-an yang sama-sama berbisnis property dengan Wilson dan bekerjasama membuat rumah produksi, lalu bergerak ke sana ke mari untuk mencari penulis cerita bagi rumah produksinya. Salah satu penulis yang dihubungi Jujur Prananto. Tetapi karena proses penulisan skenario oleh Jujur cukup lama, dicarilah penulis lain untuk membuat cerita dan scenario yang tepat. Maka lahirlah film Ular Tangga.

Uang yang digunakan untuk membiayai pembuatan PH adalah hasil dari keuntungan bisnis property dan bisnis-bisnis lainnya. Tetapi Wilson menyanggah sengaja berbisnis film untuk “menghabiskan” uang miliknya.

“Punya anggaran untuk dibuang? Maksudnya bukan seperti itu. Dari sebuah film itu pasti ada sebuah pesan. Nanti dari film saya ini ada pesannya bahwa hantu itu tidak membunuh kita secara fisik, tapi bisa mengganggu pikiran dan kepercayaan kita. Saya berharap film ini ditonton dulu oleh masyarakat, nanti baru pesannya bisa diterima,” kilahnya.

Bakat bisnis Wilson sudah muncul sejak kecil. Ketika ia masih SD, ia sering menyewakan pensil warna kepada teman-temannya yang tidak membawa pensil ke sekolah. Kebiasaan itu muncul setelah ia mendapat pesan dari orangtuanya agar jangan berhutang kepada orang lain, walau tidak punya apa-apa. Bisnis yang digelutinya kemudian adalah membuat mainan mobil-mobilan. Mainan itu dipasarkan secara online, dan mendapatkan konsumen di kota-kota kecil.

Ketika umur 11 tahun, teman ayahnya menunjukkan usaha udang garang (sudah yang digoreng) kepada ayahnya, bukan kepada Wilson. Tetapi ketika itu Wilson tertarik, lalu mengusulkan kepada ayahnya bagaimana kalau udang garang itu dikemas lebih baik. Ayahnya setuju. Dan malam itu juga Wilson pergi ke tukang disain, untuk membuat kemasan yang bagus. Jadilah udang garang itu memiliki kemasan menarik, dan dipasarkan secara luas. Wilson ikut menanamkan modalnya di situ.

Kebiasaannya beramin computer dan melihat internet, membuat Wilson melihat peluang lain, yakni menjadi broker property. Diam-diam dia mencarikan tanah bagi orang yang membutuhkan. Ternyata banyak yang memakai jasa Wilson, dan dia mendapat keuntungan tidak sedikit sebagai makelar tanah.

“Kemarin baru saja dia menjual tanah,” kata ibunya, Liliek Andriani yang ikut mendampingi wawancara.

Untuk berbisnis property Wilson tidak sendiri. Dia juga bekerjasama dengan saudara sepupu ibunya, Girry, yang kini bekerjasama membuat rumah produksi.

Untuk mengasah kemampuannya di bidang bisnis, Wilson sering mengikuti seminar-seminar dari para pembicara terkenal seperti Robbie Antonio, raja property terkenal, dan motivator terkenal Robert Kiyosaki. Wilson juga banyak bergaul dengan pengusaha-pengusaha muda di HIPMI, walau dia belum tercatat sebagai anggota.

Lalu dari mana Wilson mendapatkan modal untuk berbisnis?

Modal yang dimiliki Wilson memang dari orangtuanya. Ketika Wilson kecil dulu, ayahnya yang hobi fotografi, sering memotret Wilson. Foto-foto itu lalu diikutkan lomba, dan banyak yang menang. Tahun 2002 salah satu foto Wilson yang dimasukan orangtuanya ke dalam ember, menang lomba dan mendapatkan hadiah Rp.10 juta.

“Banyak sekali yang menang. Lebih dari 250 kali Papanya menang lomba, dan uangnya dikumpulkan. Uang itu lalu diberikan kepada Wilson setelah dia agak besar,” kata Lilik Andriani.

Lilik sendiri sebenarnya lebih ingin melihat Wilson tumbuh sebagaimana anak-anak seusianya. Di mana dia boleh bermain bersama teman-temannya, mengembangkan bakat dan berbagai kegiatan positif lain yang menyenangkan. Tetapi Wilson telah memilih dunianya sendiri, orangtuanya tidak bisa mengarahkan Wilson sesuai keinginan mereka.

“Tidak semua anak-anak suka main ya. Wilson sejak kecil memang suka berbisnis dan hal-hal serius. Anak saya yang kedua malah suka manajerial. Ya kita biarkan saja. Kita bimbing mereka selama itu positif,” kata Liliek.

Wilson memang tumbuh di tengah keluarga bisnis yang sibuk. Ayahnya seorang pengusaha bakery (roti) di Surabaya, dan ibunya seorang trainer kepribadian dan bisnis. Tidak heran jika Wilson memiliki bakat dan kecenderungan yang kuat untuk menjadi pengusaha. Bisnis yang dimilikinya saat ini adalah wokuwoku.com, Udang Garang, property dan tentu saja film. Sebagai pengusaha muda, sudah banyak penghargaan yang diraihnya dari lembaga-lembaga terkenal dan terpercaya. Bukti bahwa Wilson bukan anak karbitan, yang jadi pengusaha hanya karena belas kasih orangtua.

 

 

 

 

 

 

 

Share This: