Wisata Aceh: Melihat Sisa-sisa Keganasan Tsunami

Kapal Motor yang tersangkut di atas rumah ketika tsunami (Foto: HW)
_

Gempa bumi yang disusul dengan gelombang tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2014, benar-benar meluluhlantakan sebagian daratan di provinsi Aceh.

Menurut U.S. Geological Survey, sebanyak 227.898 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Dilihat dari jumlah korban tewasnya, gempa ini adalah satu dari sepuluh gempa terburuk sekaligus tsunami terburuk sepanjang sejarah.

Indonesia merupakan negara yang paling parah terkena dampaknya dengan perkiraan korban tewas mencapai 170.000 orang. Laporan lainnya dari Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan Indonesia, memperkirakan jumlah korban tewas sebanyak 220.000 jiwa di Indonesia, sehingga totalnya di seluruh dunia mencapai 280.000 jiwa.

Bagaimana mengerikannya bencana tsunami pada tahun 2014 itu, masih bisa disaksikan dirasakan melalui peninggalan yang kini ada di Aceh. Yakni melali musium tsunami Aceh, kuburan massal di Lambaro, persahu yang masih bertengger di sebuah rumah, kapal apung untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), kubah masjid yang teronggok jauh dari tempat asalnya dan banyak lagi.

Namun kita juga bisa menyaksaikan beberapa peninggalkan yang menunjukkan kekuasaan Allah, melalui masjid Batiruahman di Ule Lheue dan masjid Rahmatullah di Lhok Nga yang masih tegak berdiri, meski berada di pinggir pantai, dan paling keras menerima hantaman gelombang tsunami.

Dengan diantar oleh becak khas Aceh dan pengemudinya yang memahami seluk beluk jalan maupun peninggalan tsunami di Aceh, 22 Februari 2017 lalu penulis mendatangai beberapa lokasi pengingat dahsyatnya terjangan tsunami di Aceh.

Berikut adalah beberapa situs yang dikunjungi:

Musium Tsunami


Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris.

Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami.

Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.

Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.[2]

Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.

Pameran di museum ini meliputi simulasi elektronik gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, serta foto korban dan kisah yang disampaikan korban selamat.

Masjid Baiturrahim
Masjid Baiturrahim / Baiturrahman, adalah salah satu masjid bersejarah di provinsi Aceh, Indonesia. Masjid yang berlokasi di Ulee Lheue, kecamatan Meuraksa, Banda Aceh ini merupakan peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Masa itu masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu.

Pada 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim.

Sejak berdirinya hingga sekarang masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Awalnya masjid dibangun dengan rekonstruksi seutuhnya terbuat dari kayu, dengan bentuk sederhana dan letaknya berada di samping lokasi masjid yang sekarang. Karena terbuat dari kayu, bangunan masjid tidak bertahan lama karena lapuk sehingga harus dirobohkan.

Pada 1922 masjid dibangun dengan material permanen oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Namun masjid ini tidak menggunakan material besi atau tulang penyangga melainkan hanya susunan batu bata dan semen saja.

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi yang disusul terjangan tsunami meratakan seluruh bangunan di sekitar masjid dan satu-satunya bangunan yang tersisa dan selamat adalah Masjid Baiturrahim.[2] Kondisi masjid yang terbuat dari batu bata tersebut hanya rusak sekitar dua puluh persen saja sehingga masyarakat Aceh sangat mengagumi masjid ini sebagai simbol kebesaran Tuhan.

Masjid Rahmatullah di Lhok Nga

Masjid Rahmatullah di Lhok Nga (Foto: HW)

Sebelum Tsunami, perkampungan ini dihuni oleh sekitar 6.000 jiwa yang umumnya berasal dari kelas menengah keatas. Masyarakat di perkampungan ini kebanyakan karyawan PT. Semen Andalas Indonesia, selain terdapat pula nelayan, petani dan berbagai  latar belakang profesi lainnya.

Ketika terjadi Tsunami, seluruh bangunan hancur dan terhempas hingga ratusan meter ke arah daratan. Hanya sekitar 700 warga yang selamat, sedangkan ribuan lainnya menemui takdirnya ketika itu.

Dari semua kehancuran yang terjadi, ajaibnya Masjid Rahmatullah yang berjarak hanya sekitar 500 meter dari bibir pantai tetap berdiri dengan kokoh. Meskipun beberapa sisi bangunan masjid rusak, akan tetapi sebagian besar tetap utuh dan selamat.

Seiring datangnya bantuan dari dunia internasional, kondisi Aceh yang telah porak poranda perlahan kembali ditata. Tak terkecuali di daerah sekitar pantai Lampuuk. Masjid Rahmatullah pun mengalami renovasi dan diperbesar. Sepasang menara kembar pun ditambahkan dalam arsitektur baru masjid yang menjadikan tampilan masjid yang baru ini menjadi tambah indah.

Meskipun bangunan Masjid Rahmatullah yang baru menjadi lebih megah dari sebelumnya, Beberapa sisi masjid bagian belakang tetap dipertahankan seperti kondisi aslinya yang rusak akibat Tsunami. Hal ini dilakukan sebagai pengingat dan peringatan bagi masyarakat mengenai bahaya bencana Tsunami di masa yang akan datang.

Kapal Apung

Kapal Apung: Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang terseret gelombang tsunami dari lokasinya di Pantai Ule Lheue, hingga sejauh 5 kilometer. (Foto: HW)

Kapal Apung adalah Kapal milik PLN yang dibawa ke Banda Aceh untuk antisifasi gangguan Listrik pada saat Konflik antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka di Aceh.

Kapal ini atau Kapal PLTD Apung sebelumnya ditempatkan di pelabuhan Laut Ulee Lheue Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh yang berjarak ± 5 km dari lokasi sekarang ini.

Pada saat gempa dan terjadi tsunami tepatnya tanggal 26 Desember tahun 2004, gelombang tsunami begitu dahsyat banyak rumah penduduk dan gedung-gedung hancur, air laut naik mencapai ± 7 meter sehingga kapal ini dibawa atau terapung sampai ke Desa Punge Bang Cut dan ada sebagian masyarakat juga menyelamatkan diri yang sempat bergantung atau naik ke atas kapal. Kapal PLTD apung ini meski terkena terjangan ombak dasyat tsunami, kapal ini tetap utuh dan masih berbentuk seperti kapal besar pada umumnya .

Menurut data dari pemandu Kapal PLTD Apung ini adalah Kapal Pembangkit Tenaga Diesel lepas pantai yang mempunyai bobot dengan berat 2600 ton, dengan panjang = 63 M, lebar = 19 M dan tinggi 4.3 M, mampu mensuply listik 10,5 MW untuk kebutuhan masyarakat Kota Banda Aceh dan sebagian Kabupaten Aceh Besar dan Kapal ini bisa berada di daratan karena terbawa atau terdampar arus tsunami.

Kapal ini mempunyai ada 3 tingkat: pada tingkat pertama bagian bawah terdapat mesin – mesin yang sudah berkarat dan sudah tidak dapat berkerja lagi. Tingkat yang kedua kita jumpai sebuah mesin dan sebuah cerobong asap kapal yang sudah berkarat. Pada tingkat ketiga terdapat hanya terdapat mesin yang bentuknya sepert lubang kelinci.

Kapal Motor di Atas Rumah
Kapal di Atas Rumah Banda Aceh merupakan salah satu monumen Tsunami yang biasa dikunjungi. Monumen ini berupa sebuah kapal yang tersangkut di atas rumah keluarga Bapak Misbah dan Ibu Abasiah di kawasan Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Keluarga itu sekarang menetap di Geuceu Komplek.

Kapal dengan panjang 25 m, lebar 5,5 m dan berbobot 20 ton itu terbawa gelombang Tsunami dari Sungai Kr. Aceh, yang berjarak sekitar 1 km dari tempatnya yang sekarang.

Untuk menstabilkan kapal, di bagian bawahnya telah diberi besi penyangga, serta dibuat pula tangga datar setinggi lima meter untuk memudahkan pengunjung yang ingin melihat bagian atas kapal.

Di bawah kapal ada tengara yang ditulis dalam bahasa Aceh, Indonesia dan Inggris yang berbunyi
“Kapal ini dihempas oleh gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu”.

Kapal di Atas Rumah
Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Kapal dengan panjang 25 m, lebar 5,5 m dan berbobot 20 ton itu terbawa gelombang Tsunami dari Sungai Kr. Aceh, yang berjarak sekitar 1 km dari tempatnya yang sekarang.

Untuk menstabilkan kapal, di bagian bawahnya telah diberi besi penyangga, serta dibuat pula tangga datar setinggi lima meter untuk memudahkan pengunjung yang ingin melihat bagian atas kapal.

Di bawah kapal ada tengara yang ditulis dalam bahasa Aceh, Indonesia dan Inggris yang berbunyi
“Kapal ini dihempas oleh gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu”.

Kubah Masjid
Lokasi Kubah Tsunami ini sekitar 30-45 menit dari pusat kota Banda Aceh. Berkunjung kemari tidak dikenakan biaya tiket masuk. Hanya ada celengan kecil yang menampung sumbangan pengunjung untuk perawatan lokasi ini.

Selain melihat situs bersejarah ini, pengunjung juga bisa merasakan alam hijau desa Gurah. Pemandangan disini menyejukkan mata. Sawah hijau dilatari barisan bukit yang padat pepohonan. Belum lagi bisa melihat langsung aktivitas petani selagi menggarap sawah.

Menurut cerita, dulunya kubah ini merupakan bagian dari masjid di desa Lamteungoh, Aceh Besar. Desa Lamteungoh letaknya berdekatan dengan laut lepas. Desa ini terbilang paling parah kerusakannya. Air tinggi mencapai beberapa meter menghancurkan segala yang ada, termasuk masjid di desa ini.

Warga yang awalnya bertahan di dalam masjid, ikut terseret. Masjid pun porak poranda, hanya menyisakan kubah yang terombang-ambing di dalam air. Kubah pun terseret dan mendarat di desa Gurah, Peukan Bada yang jaraknya 2,5 Km dari tempat muasalnya. Konon ceritanya, ada tujuh warga yang tetap bertahan dalam kubah yang ikut terbawa arus.

Masih banyak jejak mengerikan terjangan tsunami di Aceh. Wisata ke tempat-tempat seperti ini sangat bermanfaat untuk mengingatakan manusia, akan kebesaran dan kekuasaan Sang Pencipta.

Share This: