Wishnutama: Bangsa Indonesia Harus Menguasai Ekosistem Digital

_

Saaat ini Indonesia sedang bersiap menghadapi era New Normal, masa di mana perubahan-perubahan baru akan muncul, pasca pandemi covid-19 berakhir. Di mana New Normal itu, era digital akan berakselerasi lebih cepat. Semua orang dipaksa melakukan aktivitas digital. Ada potensi digital yg lebih besar. Potensi di pariwisata untuk mengaplikasikan aktivistas digital itu sangat banyak. Begitu pula di sektor ekonomi kreatif, lebih banyak lagi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyampaikan hal itu dalam video conference dengan topik “Milenial dan Generasi Z : Tantangan, Harapan dan Masa Depan New Normal”.

Video conference melalui aplikasi zoom ini diadakan oleh Virtual Converence I’M Gen-Z (Indonesian Millenials and Generation Z), ini berlangsung pada Minggu (10/5/2020) siang, diikuti oleh wartawan pariwisata dan peserta lainnya. Selain Wishnutama, pembicara lainnya adalah anggota Komisi VII DPR RI yang juga Founder I’M Gen-Z.

Dalam pemaparannya Wishnutama mengatakan, yang terpenting di era digital ini bangsa indonesia harus menguasai ekosistem digital. Di dalam ekosistem digital, salah satu yamg terpenting adalah data. Tetapi tantangannya harus melalui artificial inteligence.

“Dulu orang berpendapat minyak paling penting begitu kehidupan. Tetapi sekarang data, bukan minyak. Minyak sekali pakai habis, tetapi data tidak, malah akan bertambah banyak. Data lebih berharga daripada minyak. Pertanyaannya, siapa yang mengontrol data. Jangan sampai data punya indonesia, yang mengontrol orang lain. Jangan sampai kita hanya jadi customer aja. Kita harus menguasai,” kata Wishnutama.

Mengenai apa yang dilakukan oleh kementerian yang dipimpimnya dalam menghadapi era New Normal, Wisnu menekankan pariwisata harus kembali ke hal-hal dasar. Banyak sekali hal dasar yang harus dipersiapkan di sektor pariwisata, seperti toilet bersih dan keselamatan wisatawan di setiap destinasi, seperti penyediaan Tim Penyelamat Pantai.

“Kalau kita ke pantai di luar negeri, selalu ada tim resque. Sedangkan di destinasi wisata pantai di Indonesia, sulit ditemui,” kata Wishutama.

Dari sisi ekraf, Kemenparekraf berusaha membangun potensi kreatif di setiap tempat. “Ada coaching, training ada amphiteater, dan lain-lain. Di era new normal, itu inline yang kita siapkan. Seperti protokol–protokol kesehatan di restoran, di bandara, bioskop dan berbagai tempat lainnya. Ini harus kita persiapan. Tidak bisa kita tunggu,” tandas menteri.

Menurut Wishnutama, kondisi apriwisata di seluruh dunia terdampak covid-19. Sektor pariwisata paling terdampak, karena bisnis ini tergantung kunjungan orang, sementatra orang tidak bisa berkunjung ke mana-mana.

“Devisa Indonesia dari pariwisata mencapai 21 juta dolar, kedua setelah kelapa sawit. Ada 13 juta pekerja pariwisata langsung yang terlibat, dan tiga kali lipat pekerja tidak langsung, seperti pemasuk daging, sayuran, pembuat souvenir dan lain sebagainya. Sekarang semua itu terkena dampak covid–19. Supaya selamat kita harus bekerja dengan sektor lain seperti OJK atau BPJS,” kata Wishnutama.

Sependapat dengan Menteri Parekraf, anggota Komisi VII Maman Abdurachman berharap menghadapi situasi dan kondisi saat ini dengan sikap positif. Masyarakat, terutama generasi muda, harus bisa memanfaatkan keadaan dan harus saling mendukung.

Maman Abdurahman, Anggota Komisi VII DPR RI.

“Kita banyak memiliki anak-anak muda yang hebat di bidang IT. Kenapa anak-anak muda yang hebat itu tidak membuat perusahaan start-up, membuat media sosial versi Indonesia. Bikin FB, instagram, twitter atau Whatsapp versi Indonesia. Ide itu pasti akan ditangkap oleh investor. Regulasinya nanti kita buatkan di DPR, bekerja sama dengan pemerintah,” kata Maman.

Maman menambahkan, hikmah covid-19 adalah makin mendekatkan orang–orang yang jauh melalui teknologi.  Pandem covid-19 yang terjadi saat ini menurutnya, sebuah proses perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

“Seperti kita membangun rumah. Kalau kita mau memperbaiki atau menambah ruangan, pasti akan kotor.  Dalam menyikapinya akan kembali kepada kita,  apakah kita akan pesimis atau optimis,” katanya.

Bicara tentang pariwisata, Maman mengatakan keberhasilannya tercermin dari karakteristik masyarakatnya. Bali berhasil karena masyarakatnya terbuka.

 

 

 

 

 

Share This: