Workhshop Kritik Film Untuk Wartawan

Tommy F Awuy (Foto: HW)
_

Kemampuan melihat film dan menuangkannya dalam tulisan, sangat penting bagi kalangan wartawan peliput film. Kemampuan itu harus ditunjang dengan pengetahun yang baik dalam melihat film, sehingga wartawan tidak hanya bisa menuliskan sepotong-sepotong, tetapi juga mengulas sebuah film dengan benar dalam tulisannya.

“Mampu melihat kelebihan dan kekurangan sebuah film adalah tujuan utama penulisan kritik film. Dari kritik yang dibuat itu diharapkan mampu merangsang produksi film yang lebih baik,” kata Ketua Pelaksana Workshop Kritik Film Wina Armada, SA, ketika memberi pengantar Workshop Kritik Film di Hotel Alila Jakarta, Senin (21/8/2017).

Workshop Kritik Film diikuti oleh sekitat 30 wartawan film, komunitas dan penggiat perfilman. Acara ini dibuka oleh Kepala Pusbang Film Dr. Maman Wijaya.

Dalam sambutannya Maman Wijaya mengatakan, kritik menempati posisi tertinggi dalam dalam mengapresiasi seuatu. Khusus untuk mengkritik film, seseorang harus lebih dulu menonton film yang akan dikritisinya.

“Obyek yang bisa dikritik dari sebuah film sangat luas spektrumnya. Sudut pandang yang bisa dikritisi sangat banyak. Dengan adanya para kritikus diharapkan sebuah film bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, dan dampaknya pembuatan film akan semakin baik,” kata Maman.

Kepala Pusbang Film, Dr. Maman Wijaya (Foto: HW)

Workshop Kritik Film akan berlangsung selama 3 hari, dengan menghadirkan beberapa pembicara, yakni Dosen Fakultas Ilmu Budaya Dasar UI Dr. Tommy F Awuy, Wina Armada Sukardi, Hadi Artomo, Deddy Setiadi, Zairin Zain, Ang Jasman, Hardo Sukoyo dan Masmiar Mangiang.

Tommy F Awuy yang menjadi pembicara utama berbicara tentang asal-usul kesenian, dan pentingnya kritikus memahami kesenian, karena film merupakan kerja kolektif yang di dalamnya terdapat banyak unsur kesenian.

“Persoektif kritikus melihat film harus berfokus pada unsur-unsur budaya yang ada di dalamnya. Banyak perspektif yang bisa dipakai untuk mengkritik sebuah film,” kata Tommy F Awuy.

Wina Armada Sukardi. (Foto: HW)

Namun sayangnya, keterbatasan ruang yang disediakan dalam media sangat terbatas, sehingga penulis tidak leluasa untuk menuangkan pikirannya. “Tapi dengan adanya dunia internet akan ada cukup ruang untuk membuat tulisan,” tambahnya,

Share This: