“Yowis Ben” Film Komedi Remaja Berbahasa Jawa

(Foto: Starvision)
_

Kisah kehidupan remaja menjadi satu tema yang paling banyak diangkat ke dunia film. Remaja dengan segala dinamikanya diharapkan masih mendapat tempat di kalangan remaja dan kaum muda pada umumnya yang menjadi penonton potensial film Indonesia.

Starvision merupakan rumah produksi yang tetap konsisten membuat film demgan tema ini. Yang terbaru dan akan dirilis di bioskop pada Februari 2018 ini berjudul Yowis Ben (artinya kirakira¬†“sudah biarkan saja!), karya sutradara Fajar Nugros. Judulnya mirip dengan grup musik yang digawangi para menteri dari Kabinet Kerja, Elek Yo Ben (biar saja jelek).

Film Yowis Ben bercerita tentang Bayu (Bayu Skak), anak penjual pecel yang menyukai Susan (Cut Meyriska) sejak lama. Namun karena dia merasa minder dengan keadaan dirinya yang pas-pasan, Bayu memutuskan memendam perasaan itu.

Namun hari-hari Bayu berubah sejak Susan mengirim voice chat ke ponsel Bayu, yang membuatnya kegeeran luar biasa mengira Susan memberi isyarat agar didekati. Ternyata Susan hanya memanfaatkan Bayu untuk membantunya mensuplai pecel untuk konsumsi teman-teman OSIS. Bayu bertekad merubah dirinya menjadi lebih populer dari Roy (Indra Wijaya), pacar Susan, yang dikenal piawai sebagai gitaris band sekolah

Bayu berinisiatif membentuk band bersama Doni (Joshua Suherman) iya merupakan sahabat dekatnya. Disisi lain ada juga Yayan (Tutus Thomson) yang merupakan seorang tukang tabuh bedug sebagai drummer dan Nando (Brandon Salim) meripakan siswa ganteng yang jago keyboard. Mereka sepakat menamakan band mereka YOWIS BEN.

Namun rupanya langkah Bayu dan teman-temannya tidak mudah. Dalam masa-masa YOWIS BEN tumbuh di dunia musik kota Malang, perlahan tapi pasti celah perpecahan antar personil YOWIS BEN mulai tampak.

Berbahasa Jawa

Digarap dengan warna komedi, Yowis Ben mencoba memberi tontonan berbeda, meskipun sebagaimana umumnya kehidupan anak muda, bumbu percintaan tetap menjadi menu utama.

Yang menarik dalam film ini adalah penggunaan bahasa Jawa dialek Jawa Timur (Malang). Sepanjang film dialog film menggunakan bahasa Jawa, sesuai dengan konteks setting peristiwa dalam cerita. Pemakaian bahasa Jawa menunjukkan keberanian menggunakan bahasa daerah dalam dialog film makin meluas, setelah lahir beberapa film berbahasa daerah seperti “Uang Panai” dan “Silariang” (Sulawesi Selatan) serta film “Surau dan Silek” (Sumbar).

Film ini nampaknya sekedar coba-coba. Oleh karena itu produser terkesan tidak berusaha habis-habisan dalam mendukung pembiayaan untuk menghasilkan sebuah film yang bukan saja menghibur, tetapi juga memberikan kesan mendalam kepada penonton, melalui pengadegan, pengambilan gambar (shot) maupun artistik.

Pemilihan pemain yang rata-rata wajah baru — kecuali Joshua Suherman — dan beberapa pemain berpengalaman medioker, lokasi yang sangat terbatas.jelas film ini hanya menjadi ajang uji coba, siapa tahu sukses di pasaran.

Dengan segala keterbatasan itu sutradara Fajar Nugros harus berkreasi untuk melahirkan sebuah film yang enak dinikmati. Pada beberapa bagian dialog-dialognya memang lucu dan menghibur. Apalagi menggunakan dialek Jawa Timuran yang kental dan lepas. Celetukan-celetukan yang muncul kadang memancing tawa.

Tetapi konflik yang dibangun sangat membosankan. Gambaran latar belakang setiap karakter yang dimunculkan hanya sekedar tempelan, tidak memiliki kedalaman. Yang ingin ditonjolkan adalah bagaimana setiap scene bisa membuat penonton tertawa, meski pun konsepnya samgat verbal, lebih banyak mengandalkan dialog seperti pertunjukkan panggung.

Adegan kompetisi band yang sebenarnya bisa jadi modal penting untuk menambah bobot film, sangat mentah penggarapannya. Entah kenapa hampir semua film Indonesia yang menampilkan pertunjukkan musik, selalu gagal membuat suasana yang benar-benar hidup. Band yang tampil hanya ada dua, penontonnya cuma beberapa gelintir. Lagi-lagi, ini mungkin karena mepetnya bujet yang disediakan.

Pembuatan film di Indonesia dengan pasarnya ibarat ayam dan telur. Mana lebih dulu. Membuat film bagus terlebih dulu untuk menciptakan pasar yang baik atau pasar dulu terbentuk supaya bisa membuat film yang bagus. Bujet ditentukan dari pemahaman semacam itu.

 

Share This: