Yuk Nonton Si Unyil Lagi

_

Anak-anak generasi tahun 80-an hingga 90-an pasti akrab dengan Si Unyil, boneka kayu berkepala plontos yang menjadi hidup dan memiliki karakter yang sangat dikenal oleh anak-anak. Bahkan ilustrasi musik Boneka Si Unyil sangat akrab di telinga hampir semua orang yang suka menonton TVRI, satu-satunya saluran televisi di Indonesia yang mengudara saat itu. Selain si Unyil masih ada tokoh lainnya yang dihapal anak-anak, yakni Pak Raden, Pak Ogah, Kinoy, Ableh, Pak Lurah, Mbok Bariah dan lain-lain.

Saking populernya tokoh Si Unyil dan tokoh-tokoh lainnya dalam serial “Boneka Si Unyil”, setiap anak, atau orang dewasa yang memiliki karakter, bentuk fisik tertentu akan dipanggil dengan nama yang sama dengan tokoh-tokoh dalam serial itu. Milsanya ada orang malas akan dipangil Pak Ogah, orang berkumis tebal dipanggil Pak Raden. Begitu seterusnya.

Popularitas Si Unyil juga ikut berdampak bagi yang menciptakan maupun yang terlibat dalam filmnya, walau pun hanya menjadi pengisi suara salah satu tokohnya. Irwan Burnani, pemain teater yang bergabung dengan Bengkel Teater Rendra mengaku mendapatkan berkah yang luar biasa karena terlibat dalam “Boneka Si Unyil”, walau hanya menjadi pengisi suara tokoh Pak Lurah.

“Waktu itu rejeki lumayan. Maklum serial Si Unyil dibuat sampai ribuan episode. Sayang saya tidak mendapatkan royalty karena tidak memiliki kontrak dengan produser Si Unyil,” kata Iwan, baru-baru ini.

Si Unyil adalah film seri televisi Indonesia  produksi PPFN  yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1982 sampai 1993, Minggu pagi di stasiun RCTI dimulai pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003 dan berpindah ke TPI  pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB sebelum program berita Lintas 5. Si Unyil ini diciptakan oleh Drs. Suryadi

Ditujukan kepada anak-anak, film seri boneka ini menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (yang lalu akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya bisa mencapai posisi Sekolah Menengah Pertama) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya. Kata “Unyil” berasal dari “mungil” yang berarti “kecil”.

Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata “Hom-pim-pah alaiyum gambreng!” sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti “Cepek dulu dong!”

Saat ini boneka-boneka si Unyil telah menjadi koleksi Musium Wayang di Jakarta.

Film ini pernah dicoba diangkat lagi oleh PPFN dengan bantuan Helmy Yahya pada tahun 2001, dengan meninggalkan atribut lama dan memakai atribut baru agar sesuai dengan zamannya, akan tetapi usaha itu gagal.

Pada tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama “Laptop Si Unyil”, digawangi oleh Trans 7 Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui seiring zaman. Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu “Cepek dulu dong” kini jadi “Gopek dulu dong”; dan Unyil didampingi temannya membahas hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil.

“Laptop Si Unyil” tayang pertama kali di Trans 7 mulai tanggal 19 Maret 2007 setiap hari senin s/d jumat pukul 13.00 WIB, dan kemudian dilanjutkan dengan Buku Harian Si Unyil Yang ditayangkan setiap hari sabtu dan minggu.

Perbedaan karakteristik dari kedua program ini adalah pada tayangan laptop si unyil lebih menggali mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi serta membahas juga mengenai permainan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. sedangkan buku harian si unyil lebih mengajak anak-anak untuk berwisata serta mengenal permainan yang menjadi ciri khas suatu daerah tertentu, atau yang bersifat menghibur tapi tetap mendidik.

Di dalam kedua tayangan ini si unyil akan bertindak sebagai seorang pengamat yang akan bertutur dan bercerita kepada pemirsanya mengenai apa yang sedang dibahas setiap episodenya. si unyil sendiri biasanya akan aktratif di dalam setiap tayangannya entah itu peci-nya yang jatuh, atau unyil terjepit di antara “barang-barang”.

Selain itu dalam tayangan laptop si unyil ada segmen animasi yang bertutur melalui bentuk tayangan kartun serta ada seorang ipat, satu-satunya anak yang bisa berkomunikasi serta berinteraksi dengan si unyil

Namun Unyil tidak meninggalkan teman-temannya dahulu seperti Usro atau melani. Makanya dalam tayangan Laptop Si Unyil masih menampilkan sesi panggung yang menceritakan interaksi Unyil dengan kawan-kawannya serta tokoh lainnya seperti Pak Ogah dan Pak Raden.

Melihat sukses Si Unyil di masa lalu, tidak heran jika Perum Produksi Film Negara (PFN) kembali meluncurkan tayangan anak-anak serial ‘Si Unyil’. Namun, berbeda dengan yang pernah dibuat pada era 80an, kali ini PFN membuat serial anak-anak ‘Si Unyil’ dalam format animasi, tepatnya dalam teknologi animasi tiga dimensi (3D).

Memang, serial Si Unyil merupakan serial televisi anak-anak yang pertama dibuat oleh PFN dalam format boneka. Serial Si Unyil pertama kali ditayangkan di TVRI pada 5 April 1981 hingga 2002. Akhirnya, PFN dengan bekerjasama dengan PT Telkomsel Indonesia memproduksi kembali serial Si Unyil dengan judul ‘Petualangan Si Unyil’.

Sama seperti format boneka, seria Si Unyil kali ini juga tetap mengambil tema peristiwa sehari-hari dan mengetengahkan nilai-nilai persahabatan, keriangan, dan kesetiakawanan di dunia anak-anak. ‘Si Unyil’ dipilih lantaran telah memiliki karakter yang kuat di tengah masyarakat. Peluncuran serial animasi ‘Petualangan Si Unyil’ ini pun berbarengan dengan peringatan Hari Film Nasional (HFN) pada 30 Maret 2017.

Menurut Direktur Utama (Dirut) PFN, Abduh Azis, dengan pergantian format ini diharapkan Si Unyil memiliki daya tarik baru untuk kembali ditonton oleh anak-anak. ”Terlebih melihat fakta saat ini, banyak tontonan anak-anak yang masih berasal dari luar negeri,” kata Abduh kepada wartawan saat peluncuran serial animasi ‘Petualangan Si Unyil’ di Kompleks Studio PFN, Jalan Otista Raya, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (30/3).

Abduh mengakui, memang ada sejumlah perubahan di serial Si Unyil saat ini dibanding pada format sebelumnya. Namun, Abduh memastikan, perubahan ini tetap disesuaikan dengan konteks-konteks keindonesiaan saat ini. Selain itu, sejumlah karakter-karakter sentral di serial Si Unyil tetap dipertahankan, seperti Pak Ogah, Usro, dan Cuplis.

Abduh pun memastikan, isi cerita serial ‘Petualangan Si Unyil’ akan berisi tentang cerita anak-anak. Selain faktor promosi, ujar Abduh, hal ini pun dapat menjadi salah satu kelebihan dan faktor yang dikedepankan serial ‘Petualangan Si Unyil’ agar bisa terus bertahan dan mendapatkan penonton. ”Kekuatan film animasi itu di cerita. Jadi kalau ceritanya menarik dan bisa langsung masuk ke anak-anak. Saya pikir, dia (Si Unyil) akan langgeng,” tutur Abduh.

Dalam memproduksi serial animas ‘Petualangan Si Unyil’, PFN bekerjasama dengan tujuh studio animasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Langkah ini, kata Abduh, juga sebagai sarana untuk memberi capacity building terhadap studio-studio animasi di Indonesia.

Secara khusus, Abduh pun berharap, kehadiran serial animasi ‘Petualangan Si Unyil’ bisa diterima oleh masyarakat luas, terutama keluarga Indonesia. ”Selain itu, semoga tayangan ini bisa menjadi semacam milestone kebangkitan PFN,” tutur Abduh.

Serial animasi ‘Petualangan Si Unyil’ telah diproduksi sebanyak 13 episode, yang masing-masing berdurasi 22 menit. Tiap episode terdiri dari dua cerita. Saat ini, serial animasi 3D ‘Petualangan Si Unyil’ baru di Usee TV, yang merupakan layanan TV berbayar Indihome milik Telkomsel. Kemudian rencananya akan dilanjutkan ke free air TV yang akan disiarkan secara nasional.

Sementara Plt Direktur Digital dan Strategic Portofoli yang juga menjabat Direktur Keuangan Telkom, Harry M Zen, menyatakan, produksi serial Petualangan Si Unyil dalam format animasi 3D ini merupakan langkah sinergi BUMN, dalam hal ini sinergi Telkom dengan PFN. Selain itu, Harry menuturkan, Telkom merasa bangga ikut terlibat dalam proyek ini, yang disebut sebagai culture project.

”Sebagai perusahaan telekomunikasi digital, Telkom mendukung penuh pengembangan industri kreatif di Indonesia. Selain itu. Kami juga terus mengupayakan agar konten-konten lokal bisa menjadi tuan rumah di Indonesia, terlebih di era globalisasi,” ujar Hary.

Dengan ditayangkannya kembali kisah Si Unyil dalam bentuk animasi, terbuka kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk mengenal tokoh yang lahir di Indonesia itu. Namun sayang penayangan film animasi Si Unyil belum ditangkap oleh stasiun televisi swasta terkenal, yang selama ini banyak menayangkan film-film animasi impor.

 

 

 

 

 

Share This: