“Yuk Tinggal di Rawa Bebek Aje!”

_

Ketika penertiban rumah-rumah yang terkena normalisasi Ciliwung di Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2017) pagi, nampak seorang wanita tua duduk di atas bak mobil pick-up berwarna hitam, bersama seorang wanita muda dan beberapa anak kecil.

Wanita itu adalah Fatma (73 tahun) eks warga Bukit Duri yang kini tinggal di Rusun Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur.
Dia melihat proses penertiban tanpa ekspresi apa pun. Ketika seorang perempuan yang sebaya dengannya lewat, dia langsung menyapa dengan suara nyaring.

“Sah! Darimane lu?”

“Eh, Mpok, abis beli ini!” kata perempuan yang lewat itu sambil menunjukkan bungkusan plastik di tangannya.

Keduanya lalu berpelukan, saling mencium pipi, lalu terlibat pembicaraan cukup serius. Ternyata wanita yang baru lewat itu warga RW.01 Bukit Duri yang rumahnya terkena penertiban.

Wanita tua yang duduk di mobil pick-up membujuknya agar mengikutinya pindah ke Rusun Rawa Bebek. Namun yang diajak bicara enggan menerima tawaran itu.

“Lu ambil aja! Nanti buat anak lu, kan lumayan,” kata Fatma.
Fatma yang sudah hampir setahun tinggal di Rawa Bebek mengaku dulu juga bersikap seperti perempuan yang baru saja diajak bicara.

Ketika rumahnya yang terletak di RW 05, Bukit Duri ditertibkan, tahun lalu, dia juga tidak mau tinggal di Rawa Bebek, karena lokasinya yang jauh. Lagipula dia bersama keluarganya lahir di Bukit Duri. Walau pun sering banjir, dia sudah kerasan.

Pemda DKI Jakarta yang waktu itu masih dipimpin Gubernur Basuki Tjahaya Purnama, melakukan penggusuran paksa. Dan warga yang rumahnya ditertibkan, dipindahkan ke Rusun Jatinegara dan Rawa Bebek. Fatma bersama keluarganya kebagian di Rawa Bebek.

Ia terpaksa pindah dari tanah yang ditempatinya sejak lahir. Selain itu ia juga kehilangan mata pencarian sebagai pedagang nasi uduk. Dan suaminya yang berjualan furniture bekas, jadi pengangguran.
Tetapi setelah hampir setahun, dia merasa betah di tempat tinggal barunya, di Rusun Rawa Bebek.

“Lebih enak sih. Lebih adem, bersih, dan kendaraan juga gampang kalau mau ke mana-mana. Cuma kudu bayar,” tutur Fatma.
Untuk tinggal di Rusun Rawa Bebek dia harus membayar uang sewa sebesar Rp.305 ribu per bulan. Air dan listrik juga harus bayar. Untuk listrik rata-rata dia membeli pulsa Rp.20 ribu setiap dua hari sekali. Sedangkan air tergantung pemakaian.

Yang membuat Fatma senang, dia tidak lagi merasakan banjir masuk ke dalam rumah, seperti ketika tinggal di Bukit Duri dulu. Cucu-cucunya juga bisa bebes bermain karena ada tanah cukup luas di rusun. Karena itu dia tidak segan-segan mengajak saudara atau tetangganya yang masih tinggal di bantaran kali di Bukit Duri, untuk pindah ke rusun.

“Tempat tinggalnya sih enak, Cuma nyari duitnya yang agak repot. Mudah-mudahan pemerentah juga mikirin sumber pencarian kita,” ia  berharap.

Share This: